-Unzur Ma Qola, Wa La Tanzur Man Qola- (Lihat apa yang dibicarakan, Jangan lihat siapa yang bicara)
Jika anda pernah mendengar kata bijak dalam bahasa Arab ini, maka tepat rasanya jika tulisan kali ini aku kaitkan dengan quotation tersebut. Ungkapan bijak ini merupakan nasehat kepada kita semua, bahwa isi pembicaraan adalah lebih penting dari sang pembicara.
Mahfuzot yang telah saya hafal sejak saya berada di bangku Madrasah Tsanawiyah ini mengisyaratkan bahwa meskipun yang berbicara bukanlah orang penting, tapi jika apa yang ia bicarakan adalah hal penting yang mengandung kebaikan, maka kita harus mendengar dengan baik lalu mengaplikasikannya.
Berkaitan dengan ungkapan bijak ini, aku terinspirasi untuk repost salah satu petikan pidato seorang anak yang kemudian membungkan para orang-orang penting dan terkemuka dunia dalam suatu konferensi Lingkungan Hidup international yang digelar di ruang sidang PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa).
Pidato sang anak, Severn Suzuki, adalah sebagai berikut:
Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O - Enviromental Children Organization Kami adalah kelompok dari Kanada yg terdiri dari anak-anak berusia 12 dan 13 tahun, yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri.(Sumber pidato: The College Foundation. Di-repost dari apakabardunia.com)
Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini sejauh 6000 mil untuk memberitahukan pada anda sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, hari ini di sini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.
Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yg akan datang.
Saya berada disini mewakili anak-anak yg kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar.
Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan habitatnya. Kami tidak boleh tidak di dengar.
Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena berlubangnya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara.
Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap harinya - hilang selamanya.
Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.
Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang?
Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahannya. Tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama seperti saya!
Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita. Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai asalnya. Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah.
Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di tempatnya, yang sekarang hanya berupa padang pasir. Jika anda tidak tahu bagaima cara memperbaikinya. TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!
Disini anda adalah delegasi negara-negara anda. Pengusaha, anggota perhimpunan, wartawan atau politisi - tetapi sebenarnya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi - dan anda semua adalah anak dari seseorang.
Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama - perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut.
Saya hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama.
Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.
Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan. Kami membeli sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang.
Walaupun begitu tetap saja negara-negara di Utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan. Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.
Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan - kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan perlengkapan televisi.
Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: " Aku berharap aku kaya, dan jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih sayang " .
Jika seorang anak yang berada dijalanan dan tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah?
Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar, bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia ; seorang korban perang timur tengah atau pengemis di India .
Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa jika semua uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini.
Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain, untuk mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan; untuk tidak menyakiti makhluk hidup lain, untuk berbagi dan tidak tamak.
Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarkan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?
Jangan lupakan mengapa anda menghadiri konperensi ini, mengapa anda melakukan hal ini - kami adalah anak-anak anda semua. Anda sekalianlah yang memutuskan, dunia seperti apa yang akan kami tinggali.
Orang tua seharus nya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan mengatakan, "Semuanya akan baik-baik saja, kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan dan ini bukanlah akhir dari segalanya.”
Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua? Ayah saya selalu berkata, “Kamu akan selalu dikenang karena perbuatanmu, bukan oleh kata-katamu”.
Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari. Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami. Saya menantang ANDA , cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut.
Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.
Sang orator, Severn Suzuki, adalah seorang anak berusia 12 tahun asal Kanada, yang ketika berusia 9 tahun telah mendirikan ECO (Environmental Children's Organization) bersama teman-temannya yang lalu diundang untuk menjadi tamu undangan untuk menghadiri konferensi lingkungan hidup dan menyampaikan pidato briliannya itu.
Severn Suzuki memanglah kanak-kanak berusia 12 tahun, tapi pesan yang ia sampaikan dalam pidatonya sungguh memukau. Gaya bahasa kanak-kanak yang justru memberikan kesan kuat dan menyentuh dalam pidatonya tersebut kemudian berhasil membuat para tokoh terkemuka yang menghadiri konferensi tersebut terpukau.
Pidato Severn yang berisi pandangan, perasaan dan pemikiran seorang anak, yang merupakan bagian dari dunia global, tentang perubahan lingkungan yang mengkhawatirkan dan seharusnya siapapun yang mendengar atau membaca pidatonya itu layak untuk merasa tergugah dan tertohok bahwa kita, bagian dari masyarakat global dunia, juga telah ambil bagian dari kerusakan alam yang tengah menjadi global hot issue era sekarang ini.
Well, sang orator memang baru berusia 12 tahun ketika ia berpidato, tapi sungguh apa yang ia bicarakan tidak bisa dianggap enteng atau dipandang sebelah mata. Masalah lingkungan adalah masalah serius yang sejatinya harus secepatnya ditanggapi oleh semua masyarakat dunia di belahan bumi manapun.
Sudah sewajarnya jika ide dan ajakan untuk lebih peduli menyelamatkan bumi dari kehancuran tak hanya sebatas slogan yang digembar-gemborkan pemerintah lokal, nasional atau dunia saja, tapi seharusnya kita layak untuk ikut membantu dengan mendisiplinkan diri kita sendiri, setidaknya menjauhi sikap vandalisme yang tentu akan merugikan.
Kita layak belajar dan merenungkan apa yang disampaikan Severn Suzuki, agar kelak bumi kita tetap hijau, tetap menentramkan dan menjadi sumber kehidupan yang sehat. Mari belajar untuk lebih peduli pada bumi agar bumi kita tetap menyajikan oksigen yang bersih, tanah yang tak terkontaminasi zat kimia mematikan, agar tak tercemari asap dari cerobong-cerobong angkuh dan limbah pabrik yang menawarkan kepunahan. Mari bahu-membahu kita peduli pada bumi ini agar nanti anak cucu dan generasi selanjutnya tetap bisa menikmati apa yang kita dapatkan dari bumi yang sehat.
Save our earth!

(Photo belongs to vanzenciel.deviantart.com)
No comments:
Post a Comment