Saturday, January 29, 2011

Kemana Nafas Aksaraku

Aku kehilangan nafas
Tersengal-sengal menyisahkan kering tintaku
Aku kehilangan Nafas
Jemariku tak lincah menari, beku

Aksaraku bisu
Imajinasiku kelu
Hatiku nelangsa
Kalimatku kering enggan mencari makna

Aksaraku Beku

Wednesday, January 26, 2011

Lagu = Deskripsi Hati??

Belakangan ini sering sekali saya dibombardir oleh lagu-lagu yang mulai eneg dengarnya. Hmmmm gak salah kalo yahoo Indonesia pernah melansir beberapa judul lagu yang 'mengganggu' telinga karena udah terlalu sering diputar di banyak tempat, mulai dari angkutan umum, vendor-vendor kaset bajakan, departement store, tv, radio malah saya seringkali menemukan penggalan lirik lagu-lagu itu di beberapa status jejaring sosial teman-teman. Beuuuuuuhhhh!!!! apa semua latah ya????? *_^
Anyway, saya pada dasarnya juga pencinta musik meski kecintaan saya pada musik hanya terbatas pada jajaran 'penikmat musik' saja. Kadang, bahkan cukup sering beberapa lagu seolah menyentil perasaan dan suasana hati saya; untuk hal ini kebanyakan lagu-lagu Melly Goeslaw yang paling sering menyentil hati (Maaf, tapi saya memang salah satu pencinta karya-karya teh Melly Goeslaw sih ^_^) Lepas dari karya-karya teh Melly Goeslaw belakangan saya kepincut dengan lagunya Jason Mraz "Lucky" , Marcell "Peri Cintaku" dan She "Apalah arti Cinta meski pada kenyataannya tak semua lirik dalam lagu itu berkaitan dengan kehidupan nyata saya. Tapi ada saja beberapa penggalan lirik lagu-lagu tersebut yang langsung menyentil hati ^_^
Well, terlepas dari apakah kemudian saya juga latah atau hanya karena lagu-lagu tersebut diciptakan berdasarkan banyak kisah nyata manusia di muka bumi ini, yang jelas saya adalah penikmat musik dan tak jarang lagu-lagu yang membombardir telinga tanpa ampun adalah lagu-lagu yang seringkali mendeskripsikan suasana hati baik para penyanyinya atau mungkin justru para pendengarnya ^_^

Monday, January 24, 2011

Sepenggal Paragraf Bisu

Beberapa hari ini ada beberapa kejadian menarik. Salah satunya ada teman yang sakit, yang kemudian malah menjalar ke persoalan alam ghaib (let's say that she was possessed by demon) dan thank God, she's Ok now. Tapi, terlepas dari hal itu, beberapa kali dalam beebrapa hari dan beberapa kesempatan, beberapa orang melemparkan pertanyaan yang sama padaku (meski dengan redaksi yang agak berbeda) tentang sikapku yg memilih diam tak bersuara terhadap seorang teman (saya sih menganggapnya sahabat)... hmm... pentingkah ini dibahas disini? eih! yes it is! ini kan blog saya, jadi suka-suka dong mau bahas apa heheheheh
In short, menanggapi pertanyaan itu, sepenggal paragraf tiba-tiba muncul dengan seenaknya di otak saya yang bunyinya kalau dituliskankan redaksinya adalah seperti ini:
"pernah aku bilang bukan, jika memang harus, maka dengan senang hati aku akan kembali menggunung es saja... bukan membenci, hanya tidak peduli... bukankah dia juga menikmati? so... tak ada masalah kan?"
Tapi, hmmm kalimat-kalimat itu cuma membisu di otak, cuma di otak saya saja... meski secara tidak langsung kalimat itu juga sudah saya ungkapkan dengan olahan bahasa lain termasuk bahasa kalbu... huhuhuhuhu...
Kawan, saya benci sebenarnya situasi seperti ini, tapi hey! saya juga manusia kan? punya hati dan juga perasaan sama juga sepertimu (perasaan ada lirik lagu yang mirip-mirip ini deh! heheheh)Kadang cara saya mengungkapkan kekecewaan memang lebih unik ketimbang orang lain begitu juga dengan cara saya marah. Saya lebih suka menghindari penggunaan kata-kata seperti bre**s*k, baj*n*an, s*al*n etc etc deh pokoknya. Saya lebih sering mengungkapkan kemarahan dengan kata-kata yang sebisa mungkin tidak tampak kasar meski sebenarnya kalau dicermati kalimat-kalimat saya bisa sangat menusuk sekali, bahkan banyak teman-teman yang bilang saya ahli sekali untuk urusan yang satu ini *_* (ssstt... ada loh yang bahkan pernah mukul komputer dan bahkan lemari berkaca karena merasa tertohok dengan tepat oleh kalimat-kalimat saya ^_^ the another side of me: Sadis)
Nah, kalau saya sudah malas bicara untuk sekedar mengungkapkan kepada si object bahwa saya marah atau kecewa, yaaaaa ujung-ujungnya pilihan terbaik adalah diam seribu bahasa, pasang wajah datar tanpa ekspresi, pokoknya memilih diam deh apalagi kalo yang bersangkutan sudah mempraktekkan cara ini terlebih dahulu... ohohohoh dengan senang hati saya ikutin deh! :p
Arrrgh!!! Pada dasarnya saya tidak suka diam seperti ini karena sebaliknya, saya lebih suka berbicara mencari solusi untuk hal yang memang masih bisa diperbaiki bahkan kadang saya sengaja mengkonfrontasi object secara langsung agar kemudian jelas akar permasalahan dan lebih bagus kalau bisa menemukan pemecahannya. Tapi, kalau kemudian si object juga enggak peduli, lah kenapa saya masih mesti bertahan untuk peduli???? ya udah, pilihan terbaik yang saya punya adalah DIAM, ikuti saja alurnya... wait n see adalah problem solving terbaik untuk hal-hal yang sudah tak ada kemungkinan menemukan problem solvingnya.
Nah, kembali ke pertanyaan beberapa orang seperti yang saya ceritakan sebelumnya tadi, akhirnya saya hanya mampu berkata seperti penggalan paragraf saya itu, meski hanya mampu saya ungkapkan secara tidak langsung.
Fiuhhh! Saya selalu ingat kalimat kakak perempuan saya yang kira-kira begini redaksinya: "yang namanya membangun sebuah hubungan itu harus selalu dilakoni oleh kedua belah pihak. Kalau hanya satu pihak saja yang mempertahankan, buat apa". Nah, karena kalimat itu pula saya akhirnya juga membuat kesimpulan sendiri, sebuah hubungan, apapun bentuknya bahkan hubungan pertemanan-pun, memang harus dijalani oleh kedua belah pihak, nah kalau saya saja yang berkeinginan berteman atau mempertahankan hubungan pertemanan dan persahabatan dengan seseorang sementara yang bersangkutan tidak menunjukkan i'tikad yang sama, apa lantas saya mesti tetap bertahan??? saya kira jawabannya adalah TIDAK! Jadi, ikutin alur sajalah ya... mudah-mudahan alurnya tetap menuju ke sungai yg jernih, bukan ke comberan!!!

Saturday, January 22, 2011

Membunglon

bAkhir-akhir ini saya seringkali merasa kehilangan jati diri yang sebenarnya, seringkali saya merasa bahwa saya adalah jenis makhluk yang tidak jauh berbeda dengan seekor bunglon. A chameleon? Yup, It is!!!

Check this one out!!!
Berkecimpung di dunia pendidikan dan kebagian peran sebagai agen-agen pencerdas generasi bangsa sungguh bukan perkara mudah! Sumpah!!!! Bukan pula hal yg mudah untuk menjalani profesi ini apalagi ketika harus mengabdi di tiga tempat berbeda dengan karakteristik yang juga berbeda. Gosh! it totally requires a lot energy....
Bunglonnya saya adalah dalam artian seperti ini:

----- at 7.30 a.m to 9 a.m
Ini adalah jamnya menjadi seorang yang jauh lebih berwibawa, bijak, menunjukkan sisi diri yang matang, simple, berkharisma dan berkarakteristik. Ini adalah jamnya seorang pengajar bahasa yang harus menghadapi para (maha)siswa yang kesemuanya ingin diperlakukan sebagai diri mereka yang adalah para "agent of change" sesungguhnya yang intelek, dewasa, kritis, idealis, serba ingin tahu, yang merasa bahwa di pundak mereka telah diletakkan begitu banyak tanggung jawab. Banyak sisi baik dari mengenakan warna ini, salah satunya adalah saya lebih tertantang untuk menjawab semua tantangan ini... ^_^ cakrawala berfikir juga gak jadi stagnan bin jalan di tempat saja, saya juga lebih merasa dewasa dan 'girly' juga (LOL) Secara kejiwaan, saya merasa lebih tenang, nyaman, relax, menikmati peran ini seutuhnya. Saya juga berada lebih jauh dari titik-titik stress atau pressure yang berlebihan. Saya merasa benar-benar berada dalam dunia saya yang nyaris sesungguhnya. Frankly speaking, for some reasons, this is my favorite color of being a chameleon ^_^

----- at 9 a.m to 1.30 p.m
In my humble opinion, this is the most terrible situation of the day ever.... hohohohohoho..... sejujurnya saya merasa tidak nyaman dengan warna yang harus saya pilih dalam jam-jam seperti ini. Sungguh, banyak warna yang telah saya coba 'pakai' untuk menghadapi perjalanan jarum detik jam-jam ini, tapi tidak sedikit yang GATOT a.k.a gagal total hingga menyisahkan hanya beberapa warna yang terpaksa saya pilih dengan berat hati untuk meminimalisir lebih banyak kerugian dari kedua belah pihak. Sialnya, ini adalah jam-jam yang paling mendominasi dalam satu hari membunglon saya. Dang!
Sebenarnya saya tidak berniat menjadi seapatis ini pada jam-jam ini, tapi willy nilly I have to.... Arrrgh! ini adalah warna yang paling bertentangan dengan jiwa sejati saya. Menjadi sosok yang 'harus' galak, judes, jutek, hobi ngomel.... pokoknya benar-benar membuat saya tidak suka waktu membunglon pada jam-jam ini. Well, pada jam ini saya mengabdikan diri menjadi pengajar bahasa pada sebuah sekolah negeri yang berada pada posisi transisi. Yup! Posisi Transisi!!!! Jelas??? hmmmm begini, sekolah ini adalah suatu sekolah yang pada dasarnya didukung oleh tenaga-tenaga pencerdas bangsa yang memadai, fasilitas yang menunjang, suntikan dana yang mendukung, tenaga administratif yang handal bahkan management sekolah yang tertata apik TAPI, sayangnya input sekolah ini adalah para generasi penerus bangsa yang motivasi belajarnya pas-pas-an atau malah ngos-ngos-an. Para generasi yang belum 'kota' tapi sudah lewat dari batas 'desa/dusun'. Kalau saya harus jujur, input-input ini mendapat istilah (jauh sebelum saya berada disana, istilah ini faktanya sudah sangat dihafal dan difahami semua kalangan, bahkan para siswa itu sendiri) sebagai 'orang-orang sisa bin pinggiran bin titipan'. Aih!!! kejam sekali tampaknya! tapi apa mau dikata jika memang itu adalah kenyataan??? Banyak sebenarnya para generasi yang memiliki motivasi dan sikap belajar serta mental para juara disini (orang-orang ini adalah sekelompok orang yg paling saya kasihani nasibnya, mereka tak mampu berkembang secara optimal tapi juga enggan terpenggal keingintahuan mereka begitu saja), tapi lebih banyak lagi diantara mereka yang terbentuk dan terkontaminasi lingkungan yang kurang memadai untuk memupuk jiwa mereka menjadi jiwa para pemenang, alhasil mereka adalah generasi yang 'tercipta' sebagai orang-orang dengan pola fikir masa bodoh, tidak memiliki semangat bersaing tinggi, mudah menyerah, malas berfikir apalagi berusaha dan bertindak kreatif, anti perubahan dan pembaharuan, pembangkang etc. Singkatnya, saya hampir kehabisan cara normal untuk menghadapi mereka-mereka ini.


Observasi selama beberapa waktu membuktikan bahwa mereka hanya takut (bukan segan atau hormat) kepada pengajar killer yang hobi main fisik dan mereka akan sangat semena-mena dengan pengajar yang ramah tamah dan memiliki kriteria almost perfect sebagai seorang pendidik ideal! hingga akhirnya, orang-orang mulia seperti itu pun memilih membelah diri menjadi sosok yang tega hati untuk mencubit, menjewer, menjemur etc etc
Well, saya 1000% menyadari bahwa warna yang saya pilih pada jam-jam ini sangat jauh dari kriteria seorang pendidik dan pengayom ideal, tapi... hmmm semoga suatu hari kondisinya tidak mengharuskan saya untuk ikut-ikutan dan tergoda menjadi pengajar killer yang suka main tangan, main kayu, main jemur, main kaki.... cukuplah saya menjadi pengajar yang terpaksa harus suka main mata (melotot: red) dan main suara (ngomel: red)
Allah, ampuni saya....
Ya, consequently, kadang ketika emosi saya begitu tak tertahan, ujung-ujungnya 'ngomel' adalah pilihan terakhir guna menghindari spidol terbang, atau jurus semut menggigit pinggang (padahal saya suka sekali cuap-cuap, tapi itu di depan microphone dan audio set ketika saya masih bekerja sampingan sebagai penyiar radio)Ah! memilih warna ini-pun harus tetap pintar-pintar menata emosi agar tidak terpancing bermacam tingkah pelajar yang kadang bahkan sudah seperti mafia saja.... woahhhh!!!! ataukah harusnya saya mungkin mengundurkan diri saja daripada jadi depressi karena ini?(kayaknya neh usul mesti dipertimbangkan juga deh dalam waktu dekat hiiihiiihih)

----- at 3 p.m to 5.40 p.m plus to 8.45 p.m
Pada jam ini, saya merasa bahwa sisi jiwa saya terakomodir dengan lebih adil. Saya bisa bercanda -canda yang elegan- tanpa harus merasa ketakutan turun pamor. Saya juga bisa lebih leluasa mengeksplor jiwa muda saya bahkan kadang memberi ruang bagi jiwa kekanak-kanakan saya untuk berekspresi dan mengakrabkan diri dengan tunas-tunas bangsa ini. Saya bisa mengajak para pelajar di institusi non-formal ini untk bergembira dengan bahasa tanpa harus merasa takut jatuh wibawa di depan mereka. Saya juga bisa belajar memanajemen kelas dengan ketegasan yang tidak menuntuk untuk diakhiri dengan emosi. Secara umum, meski saya juga dituntut untuk lebih sabar serta tegas dalam beberapa kasus pengecualian, saya merasa kejiwaan saya masih berada dalam posisi stabil atau dengan kata lain pada jam-jam ini saya masih sangat mampu berdamai dengan diri sendiri, walawpun sisi kekurangannya adalah intelektualitas saya yang tidak terlalu berkembang dan tertantang meski juga tidak seutuhnya stagnan pada satu titik saja.

----- Jam-jam bebas
Pada jam ini saya merasa kembali pada dunia saya meski kadangkala juga merasa kehilangan dunia ideal saya. Diliputi sepi meski tak sampai membunuh, diliputi bosan meski tak serta-merta membuat saya beku, ditemani jenuh pada titik-titik tertentu. Pada jam-jam bebas ini saya hanyalah seorang anak perempuan rumahan yang harus tunduk pada aturan-aturan rumah yang meski memang tidak terlalu membatasi langkah kaki saya tetapi setidaknya seringkali saya juga ingin merasa lebih bebas dari ini. Bebas untuk mengajak kaki saya melangkah kemana jiwa saya berkeinginan, mengajak jiwa saya pertualang ke tempat-tempak impian, lebih leluasa diam ketika saya tak ingin bicara, lebih punya banyak ruang untuk menangis ketika saya ingin memberi air matasebuah ruang untuk berpartisipasi menghilangkan perih dan sedih. Tapi terlepas dari keinginan untuk mendapatkan lebih banyak kelonggaran, saya merasa terjaga dalam posisi aman ini.

Anyway, MEMBUNGLON! ini adalah istilah yang menggambarkan betapa tempat kita berada selalu saja menuntut kita untuk menjadi jiwa yang seringkali justru berubah-ubah dan berbeda-beda. Gradasi warna yang dipilih mungkin indah, tapi kadangkala, jika tidak sering, warna warna itu justru saling melompati batas gradasi yang sejatinya lembut itu dan berubah begitu kontras. Tapi bagaimanapun, saya tetap mampu, merasa mampu untuk menemukan warna lain yang mungkin akan berubah seiring berubahnya tempat saya berada. ^_^ Setidaknya, saya masih memiliki jiwa yang asli meski dalam beberapa kali kesempatan saya akan bingung akan siapa saya yang sesungguhnya. ^_^

Tuesday, January 18, 2011

Insomnia vs Amnesia

Belakangan jadwal tidur saya hancur berantakan dengan sangat suksessss..... biasanya saya tidur kisaran jam 11 malam malah kadang jam 10 udah terpejam dengan imutnya di tempat tidur. Tapi, sodara-sodara! sudah lebih dari tiga bulan ini waktu tidur saya jarang beres... malah keseringan tidur diatas jam 12 malam, malah pernah dalam 1 malam saya hanya terpejam tak lebih dari 30 menit... beuuuuh!!! paginya mata saya nguantuk buangettt... untung sekolah dan tempat les dimana saya mengais rupiah lagi libur ketika itu karena tanggal merah alias libur nasional, kalau enggak??? hmmm bisa-bisa saya tepar di meja sewaktu mengajar *_- zzz....zzz..zzz tapi dasar mata yg tengah malas kompromi dengan si empunya mata, mereka berdua malah gak mau terpejam ketika saya paksa tidur.... ck ck ck ck.. Ada apa dengan acara tidur saya???
Okey, mungkin itu bukan insomnia tapi banyak yg bilang kalau kemungkinan fikiran saya yg lagi kacau a.k.a stress-lah yg memicu pola tidur tidak sehat itu... hmmmmmmmmmm .... kalau difikir-fikir iya juga sih... ketika itu saya terseret dengan indahnya kedalam cerita kehidupan beberapa teman saya yg asli penuh dengan misteri! gak perlu membayangkan misteri gunung berapi deh!:p karena misteri yg saya maksud adalah masalah remeh temeh yg juga berat sangat bin menguras perasaan, kemarahan, kesal, jengkel, gondok, sebel etc etc,tentang teman-teman saya dan saudara imajinasi mereka. What??!! saudara imajinasi?? yeah! saya terpaksa harus katakan seperti itu, karena bahkan sampai sekarang saya bahkan 2 (kayaknya 3 deh)dari 4 orang teman saya itu belum pernah sampai detik ini bertemu dengan saudara mereka yg peranakan luar negeri itu. Arggh!! pokok' e complicated deh!! Bahkan beberapa kali saya juga terlibat dengan petualangan yg berakhir NIHIL dalam menemukan sosok itu yg katanya sih NYATA!!!!!!!
Praktis bin ekonomis deh, ketika itu saya susyaaahhhhh buanget untuk tidurrr!!! Nah hingga kebiasaan itu pada akhirnya juga berlanjut hingga sekarang ini.... Hoaaamm!!! kangen sama ngantuk tingkat tinggi neh! *_*
Well, by the way bus on the way with bus way, saya kadang pengen sekali amnesia terhadap beberapa hal yg pernah terjadi dalam hidup saya sedngkan saya tidak suka bahkan sakittt hattttiii. Salah satunya adalah kenangan terhadap seseorang yg dulu saya sangat berusaha untuk belajar menerimanya as he is (hiks.... luka lama neh :p) Tapi saya juga bersyukur, setelah melalui masa-masa sulit (beuuhhh!!) I MADE IT, pals!!! (senyum bangga nan lebar ^_^) Meski gak lupa 100% (karena saya gak amnesia) tapi saya sudah lebih tenang sekarang. Kalau bahasa saya sih bukan lupa, benci apalagi dendam tapi TIDAK PEDULI (baca ulasan singkat tentang ketidakpedulian itu disini)Maka dengan sangat senang hati dan tentram damai, saya mengatakan pada dunia bahwa saya sudah LUPA (baca: melupakan) sosok itu meski memang tidak sepenuhnya, tapi setidaknya saya sudah jauh lebih bisa melepaskan ingatan darinya untuk banyak kesempatan.... Thank God for this ..... ^_^ That's really nice progress!

Finally, saya berani menyapa si lupa dengan kalimat seperti inisekarang:
Saya: Hi
Lupa: Hi juga
Saya: Maaf, saya lupa... jadi kalaupun kami ingatkan, hal itu tak akan bertahan lama di otak saya :p (mencibir)
Lupa: ???? hiks.....
Nah.... daripada saya terus-terusan berurusan dengan hal yang membuat saya sakit hati dan mengaharu biru serta membingungkan, saya lebih suka menghabiskan waktu di tepi pantai (meski untuk hal satu ini saya sekarang tidak memiliki banyak waktu senggang hiks...) Pantai... I Like it soooo much.....

So, Amnesia vs Insomnia??? Insomnia won the competition! Soalnya sampai saat ini saya masih sering tidur diatas jam 12 malam, bedanya karena sibuk dengan banyak hal termasuk blogging ^_^... What a night!!!!

Monday, January 17, 2011

Antara Membenci dan Menyukai

Frankly speaking, saya bukan orang yang mudah menyukai seseorang dan juga tidak termasuk sesorang yang dengan begitu mudah membenci orang lain. Saya adalah tipe mahkluk yang butuh waktu, baik untuk membenci apalagi untuk mencintai.
Belakangan, saya belajar untuk lebih membuka diri dengan dunia luar (baca: orang lain) secara selama ini memang saya termasuk orang yang lebih memilih untuk lebih mengenal banyak hal mendasar tentang seseorang sebelum kemudian saya memutuskan untuk mengenal mereka secara lebih terbuka apalagi untuk terlibat dalam kehidupan orang tersebut. Tapi sungguh pada akhirnya saya harus mengatakan "mengecewakan!!!"
In fact, semakin saya mencoba membuka diri dengan orang-orang baru, semakin banyak hal yang kemudian membuat saya kecewa pada akhirnya bahkan seringkali saya sampai pada titik persimpangan memilih untuk melenyapkan diri saya dari orang-orang yg demikian. Woahh!!! Bahkan saya merasa akhir-akhir ini saya lebih mudah untuk membenci orang, sesuatu yg dulunya termasuk hal yg justru masuk dalam kategori "sulit bin susah".
Nah, kalau sudah begini, saya jadi mumet sendiri. Bingung untuk memutuskan antara membenci atau tetap bertahan mencoba menyayangi. Kalau sudah dalam keadaan demikian, saya lebih akan "terperangkap dengan sangat mengenaskan" dalam kebimbangan karena saya termasuk makhluk yang tidak cukup pandai berekspresi, dalam hal ini untuk mengekspresikan kebencian bahkan rasa suka. Pusing rasanya berada dalam kondisi seperti itu, selain tak hanya menguras fikiran, tak jarang juga menguras air mata. Jiah!!! saya mesti akui, untuk hal satu ini, saya memang termasuk manusia yang mudah menangis untuk hal-hal yang menyangkut relationship. (Sedikit tidak suka dengan kenyataan ini sebenarnya :p )

Arrrgh...!!!! intinya saat tulisan ini saya ketik, inilah yg tengah saya coba untuk fahami dalam-dalam, perasaan ingin mengenyahkan mahkluk-makhluk yang menggelitik rasa benci dan tidak suka saya, sementara faktanya sebelum ini saya justru belajar untuk mencoba menerima orang-orang itu as they are, mencoba memahami mereka, menyayangi mereka, menghargai mereka, mengganggap mereka sebagai bagian berharga... tapi, kalau sudah menyangkut kebencian, lagi-lagi saya "terperangkap dengan sangat mengenaskan" dalam peperangan batin ini (woah!!! world war II dalam jiwa tampaknya)
Bingungggggggggg............ swear!!! I hate this damn condition!!!!!!

A welcoming Drink

Dearest readers...
Ini adalah tahap awal dari rangkaian per-blogging-an saya disini. Pada dasarnya saya sudah punya blog sebelumnya klik disini, tapi, entah karena akhir-akhir ini saya menyadari bahwa saya butuh sebuah sarana baru untuk bisa lebih ekspresif atau karena fikiran saya memang sedang tidak tertata dengan baik, akhirnya saya memutuskan untuk create lagi blog yang baru yang kemudian saya pilih url deebeecara ini.
Di otak saya terfikir sebuah pengkotakan antara kedua blog yang saya miliki itu; 1. blog pertama secara sadar atau tidak saya bentuk dengan sebuah trademark yang lebih serius atau mungkin lebih tepat kalau saya katakan bahwa saya berusaha untuk tidak terlalu menunjukkan emosi saya di dalamnya sementara 2. blog kedua ini tampaknya lebih cendrung saya bentuk sebagai suatu hal yg lebih ekspresif. Saat sedih, mungkin akan lebih mengharu biru. Ketika marah, mungkin akan lebih sarkastik, atau bahkan berapi-api. Ah, apapun itu, sepertinya di otak saya-pun sudah membuat kotak yang berbeda bagi kedua blog saya ini . fiuhhh!!!!

Ekspresif! Kata itu yang saya tanamkan kuat-kuat pada tahap pembentukan awal blog ini. Saya ingin tunjukkan amarah saya, kejengkelan saya, ketidak sukaan saya, kecintaan saya, kegalauan saya atau bahkan mungkin fikiran-fikiran yang diluar kategori itu.
Mengapa mesti ekspresif??? Saya hanya ingin menunjukkan sisi lain dari diri saya! That's all! Ingin menunjukkan apa yang selama ini mungkin lebih saya kontrol karena ada yg bilang bahwa saya harus banyak belajar berekspresi LOL
Anyway, Welcome to the other side of Me! Dunia yang mungkin bisa menjadi pelarian saya dari kebisingan dan hiruk pikuk dunia ini atau setidaknya ini akan menjadi suatu pojok bagi saya untuk lebih bebas menceritakan banyak hal...
Speaking of which, my name is Dee ^_^