Saturday, April 30, 2011

STUCK!

I'm looking for something
something usually blinking
here, in the deep of my mind
blowing trough the wind

I'm losing something
or may losing almost everything
something always glows
in every second the wind blows

I get Stuck!

Ah! Aksaraku membeku diujung jemari yg hampir kram berpeluh
Kuperintahkan imajiku menari bernyanyi
Tapi bahkan suara sengau-pun ia parau...
Ada yang bisa membantuku memungut abjad-abjad yang terserak ini?

Thursday, April 28, 2011

Past and Future: Ex and Seliger Russia

Salam, readers ^_^

It's been a week I left this stuff, my blog, behind since it seems I'm too lazy to write. Actually I got bunch ideas on my mind to express and share here, but sometimes I think some of them are not pretty cool to put here. Dang! I made such a selection what the appropriate things to put here. Some of them are about my dreams, my future, something I've been thinking of and even my past. But again I need to put them in a really appropriate thought before drawing 'em here.
Owh! Did I write "past" here?
Well, sometimes, without any means, I hate when some one talking about their bad past a lot, let's say in this case is 'ex-one' could be ex-friend or ex-boy/girl friend.

Thursday, April 21, 2011

Tikus: kali ini tentang motivasi peduli

Salam, readers ^_^

Belakangan ini aku terfikir untuk memposting setiap tulisan sekaligus dalam 2 bahasa; Indonesia dan Inggris. Hmmmm... tampaknya bagus juga untuk dikembangkan sekalian hitung-hitung latihan writing ^_^ Next project akan dicoba, insyallah.
Well, dari jam 7 tadi sambil duduk manis (kadang berbaring) di depan laptop Ion ku telingaku kumanjakan dengan dendang-dendang lawas kepunyaan Jikustik; Saat kau tak disampingku, Aku datang untukmu, Putri (pandangi langit malam ini), Setia, Akhiri dengan Indah, yang kemudian disusul dengan koleksi lawas Kla Project; Dinda dan Yogyakarta. Lalu lagu-lagu itu menggiring pada sebuah rasa. Kangen! ^_^ Kangen dengan satu sosok yang sekarang jarang terdengar gaungnya. Mungkin karena beliau sedang sibuk atau memang mungkin karena beliau tak lagi punya cerita untuk dibagi denganku. Hay hay... (kalau dirimu membaca ini, kawan, harusnya kau tahu kalo pulsa bonus 1000 smsku jadi jarang terpakai karena dirimu gak kirim sms dan bercerita ho ho ho ho ^_^).
Hmm, tadi seperti biasa buka-buka beberapa situs berita, dan seperti biasa situs Apa kabar dunia selalu jadi favoritku. Ngomong-ngomong tentang situs ini, tadi ketemu salah satu artikel yang aku fikir cukup menarik untuk disimak. Artikel ini bercerita tentang satu pelajaran moral (kalo dalam istilah Genre ini disebut dengan Coda ^_^) dari cerita seekor tikus. Hah! Tikus????? Yup! T-I-K-U-S

Wednesday, April 20, 2011

Diam

Seringkali aku benci diam tanpa bicara
diam yang memasungku dalam banyak tanya
membanjir mengalahkan linangan air mata
mengabut merabunkan cerah awan
Diam seringkali menyiksa jadinya
sementara terdiam mengikut jejakmu aku tak bisa
kau sepertinya begitu menyukai teka-teki ini, ya?
tanpa peduli aku terkorbankan dalam ritual tanpa nama
Aku benci diam!, kadangkala
meski disaat nanti aku akan seperti ini juga
saat aku muak bertanya
saat aku lelah menanti kau bicara

Sunday, April 17, 2011

Cornetto Choco Disc dan Mozaik Pak Balia disuatu sore

Salam, readers ^_^
Setiap peristiwa di jagat raya ini adalah potongan-potongan mozaik. Terserak di sana sini, tersebar dalam rentang waktu dan ruang-ruang. Namun, perlahan-lahan ia akan bersatu membentuk sosok seperti montase Antoni Gaudi. Mozaik-mozaik itu akan membangun siapa dirimu dewasa nanti. Lalu apa pun yang kaukerjakan dalam hidup ini, akan bergema dalam keabadian .... "Maka berkelanalah di atas muka bumi ini untuk menemukan mozaikmu!" (Pak Balia - Sang Pemimpi)

Thursday, April 14, 2011

Horoscope? So What???

Salam, readers ^_^

Horoscope?? anda percaya?? aku tidak! So what?? ada masalah dengan itu?? hehehehe...
Aku lebih percaya dengan melihat dan menyaksikan serta mengalami bin mengobservasi orang yang bersangkutan ketimbang harus bolak-balik merutinkan diri membaca ramalan zodiac yang bejibun betambun di banyak majalah, bahkan hampir semua web banyak yang mengekspos tentang ramalan zodiac itu dari mulai daily zodiac, weekly, monthly bahkan annually. Beuh! itu yang kumaksud dengan bejibun! ^_^
Tulisan ini hanya sekedar tulisan ringan yang terinspirasi beberapa teman yang membicarakan tentang horoscope a.k.a zodic itu. Well, masalah percaya atau tidak itu adalah urusan pribadi meski aku memang ingin menegaskan bahwa I don't believe in it, something you call as 'zodiac' or 'horoscope'. Secara sederhana, aku tidak meyukai ramalan ini karena memang sama sekali tidak percaya dengan ramalannya, apalagi kalau mesti mencocokkan jodoh hanya berdasarkan zodiak atau ramalan horoskop. Owh! No!
Setelah googling tentang apa sebenarnya hosorkop itu, saya menemukan ini:
horoskop adalah sebuah bagan atau diagram yang menggambarkan posisi matahari, bulan, planet-planet, aspek-aspek astrologis, dan sudut-sudut sensitif pada saat kelahiran seorang anak. Kata horoskop berasal dari bahasa Yunani, horoskopos (jamak: horoskopoi) yang berarti "mengamati", "memeriksa waktu", jam, atau "tanda (tanda-tanda) jam". Kata ini digunakan sebagian metode ramalan mengenai peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan waktu-waktu tertentu yang digambarkan dalam dasar-dasar astrologi horoskopis. Dalam penggunaan sehari-hari horoskop seringkali dihubungkan dengan penafsiran sang astrolog, yang biasanya dilakukan melalui sistem lambang-lambang astrologi. Dalam berbagai suratkabar dan majalah kita dapat menemukan kolom atau artikel yang memuat ramalan-ramalan yang didasarkan pada posisi matahari dalam kaitannya dengan hari kelahiran seseorang.

Well, selain karena aku memang tidak percaya ramalan bintang, menurutku ramalan bintang juga variatif. Ini tergantung sumber yang dibaca, dan sumber yang memuat tentang ramalan bintang juga tentu bergantung kepada sumbernya sendiri. Nah, wajar dong kalau kemudian beda sumber, maka beda pula penafsiran tentang ramalah horoskop yang pastinya juga beda hasil dan kaitannya dengan kehidupan seseorang. Maka, klop dah! aku meneguhkan diri sebagai bagian dari mereka-mereka yang tidak percaya dengan ramalan bintang, apalagi jika dikaitkan dengan jodoh, rezeki atau maut. Beuh! ^_^

Lalu, bagaimana dengan anda? Are u a zodiac-believer?


Sunday, April 10, 2011

3rd Day of Haengul and BBG, again

Salam, readers ^_^
I'm still dealing with Haengul a lot and it's rolling out of my head LOL... well, at least I've started to understand the basic concept. ^_^
Speaking of which, today I went to BBG again with my friends; Edwin and Ian. Some rambutans also accompanied us when we're waiting for the rain to stop falling down and then here they're, some pics:







Edwin @ the entrance path

Ian @ cow shed

on the bund
They are beautiful, aren't they? ^_^



Saturday, April 9, 2011

Ceremonial... Gak jadi Nobar deh...

Salam, readers ^_^
Pangkalpinang diguyur hujan malam ini, untungnya sejak jam 9.20 tadi aku udah sampai dengan selamat di rumah. Yup! malam ini keluar ke alun-alun kota a.k.a Lapangan Merdeka. Aku termasuk mahkluk yang jaraaaaaanggg banget keluar malam-malam apalgi malam Minggu, kecuali kalo tujuannya jelas dan menarik.
Nah, malam ini tadi rencananya mau nonton bareng film anak-anak indie dari Bangka Belitung. Karena yang ngajak itu teman yang kemaren ikutan seleksi PPAN juga, yang kemudian terpilih jadi peserta SSEAYP, si Edwin, plus temannya, si Ian, yang juga ngajak teman-temannya, maka aku ikutlah mereka-mereka itu ke alun-alun.
Wudu dahsyat! biasa malam Minggu jalanan ruammmeee bangettt... apalagi banyak ABG-ABG yang pada was-wus aja ngendarain motor seenaknya aja (salah satu alsan aku jadi males banget keluar malam Minggu) makanya pak polisi juga pada banyak bertebaran di jalan-jalan. In short, sampailah kami di alun-alun kota, lapangan Merdeka, yang udah dipenuhi dengan warga yang mau ngeliat acara yang sama atau sekedar-sekedar kongkow sama keluarga dan kerabat. Yang paling banyak emang remaja dan Abege-abege gitu sih... bahkan banyak pula anak-anak usia sekolah dasar yang hadir, secara emang acara nonton barengnya adalah film anak-anak.
Tapi sangat disayangkan, banyak banget rangkaian acara ceremonialnya, sambutan ini lah, dari bapak itu lah, dari pihak ini lah... belum lagi penampilan modern and Malay dance dari anak-anak SD dan beberapa petatah-petitih lainnya, alhasil udah jam 9 tapi film yang dijanjikan untuk diputar dalam acara nobar ini belum juga diputar! Sementara hujan gerimis sidah mulai jatuh satu persatu. Maka dengan kecewa berat, mau tidak mau harus pulang karena udah jam 9 malam. Huh!!!!! kecewa!!!! gara-gara acara-acara ceremonial yang gak terlalu penting, acara utama malah gak bisa dinikmatin. SUEEBBBBEEELLL!!! Masa ke alun-alun cuma buat beli dan makan pop corn dan kembang gula plus kacang rebus aja??? Tau gitu, mending dirumah aja sambil internetan kan.... huhhh!!!!


Hoooaammmm.... grrrrr!!! @_@
ngantukk.... See ya then

Dee

Friday, April 8, 2011

#Day 1: Hangeul = more complicated than Arabic and English

Salam, readers ^_^
Baru saja sempat duduk manis di depan si Ion tersayang setelah tadi ngajar private siswa kelas 3 SMP yg mau ngadepin UN dan ketemu si Edwin yang mau pinjem buku Toefl. Tadi juga sempat liat aksinya Briptu Norman yang lagi naik daun karena videonya diunggah ke Youtube dan memang aslinya juga bagus suaranya, nah baru deh bisa duduk manis bareng si Ion. ^_^
Eits! coba lihat <------ ada foto apa....??? hehehe... jadi tadi siang ceritanya aku ke Gramedia buat berburu beberapa buku percakapan bahasa Korea. Mau belajar bahasa Korea secara otodidak. Yaaaa.... setidaknya agar tau gimana menyapa orang-orang Korea nanti, apalagi kalo ada host fam atau setidaknya ngertilah dikit-dikit kalo ada yang muji-muji ngerumpiin aku... heheheh... (nasrsis stadium 1 ^_^). Tapi ternyata... Korea syusyaaahhhhhhh euy!!!! hiks... it's more complicated than Arabic and English.... apa mungkin karena aku belajar otodidak tanpa guru kali ya yang bikin jadi kelihatannya susah buanget??? ((^_*))
Satu hari ini belajar Bahasa Korea gak ada yang nempel kecuali hana, dul dan set yang artinya 1,2 dan 3 heheheheh... Dari tadi cuma baca-baca beberapa percakapan dan denger kaset cd nya berulang-ulang... eh, bukannya masuk ke otak, malah ketiduran... zzzzz....zzzzzz.... bangun-bangun langsung kabur mandi karena mesti ngajar lagi demi sesuap nasi dan sebongkah berlian.... hehehhehe
Yang udah aku baca sih tentang tata bahasa Korea ini adalah bahwa, ada 3 prinsip dasar yang harus diperhatikan:
  1. Penghilangan subjek dan/atau objek
  2. Susunan kata. (katanya sih lebih fleksibel dari pada susunan kata dalam bahasa Inggris)
  3. Tingkatan kesopanan berbicara. Dibagi kedalam beberapa sub, yaitu: bentuk sopan formal, bentuk sopan informal dan bentuk penghormatan
Wuah! pusing aku dibuatnya! belum lagi kalo mau ngapalin tulisannya. aksaranya aja ada 40 karakter yang terdiri dari 10 huruf vokal tunggal, 11 huruf vokal gabungan, 14 konsonan tunggal dan 5 konsonan ganda! Gubrak!!!!! Bahasa Arab aja hurufnya lebih sedikit! Huaaaaaa!!!!! some body help me pleaseeeeeeeeeeeeeeeeeeeee.... ^_^
Trus, setelah difikir-fikir, untuk hari pertama, cukup itu dulu deh yang dibaca hihihihi. Pas bingung-bingung aku searching aja video di Youtube dnegan kata kunci IKYEP yang merupakan singkatan Indonesia Korea Youth Exchange Program, lalu... taraaa!!!! ketemulah aku dengan video ini...


Dan lalu... wusshhh!!!! zruupppp!!! semangatku kembali menderu-deru! imajinasiku terbang ke Seoul... rasanya aku suda meletakkan satu kaki disana ketika menikmati video ini... cooooollllll!!!!! kereeeeeeeeeeennnnnnnnn!!!!! Aku, dalam imajinasi di otakku, tiba-tiba menjelma dengan busana Hanbok yang keren ituuuu.... bermain-main dengan daun-daun yang meranggas berwarna keemasan ittuuuuuu..... aku yang ada di setiap frame dalam video itu...... heheheh.... Upsss!!! (Sabar Dee.... akan tiba waktumu untuk merasakan semua anugerah itu... ^_^)
Aha!!! Rasanya kembali terpacu semangat untuk belajar bahasa Korea lagi... walaupun otodidak, semoga ada yang lekat diotakku dengan awet selain saranghaeyo, ghamsamnida dan annyeonghaseyo itu... hehehe...
South Korea....... wait for me! I'll be there soon....!!!

Dee ^_^


Thursday, April 7, 2011

Arai dan 2 Hari melelahkan dan indahku




"Bermimpilah, maka langit akan memeluk mimpi-mimpimu" - Arai

Salam, kawan...

Sepenggal kalimat ini bagiku bermakna lebih dari sekedar tulisan yang diprint rapi sebagai sebuah bagian dari sebuah novel. Kalimat ini bagiku lebih dari sekedar baris kalimat pemanis dalm sebuah novel agar terdengar dan terbaca lebih dramatis. Tapi sungguh, sepenggal kalimat ini adalah salah satu motivasi yang kutancapkan kuat-kuat di dasar hatiku agar akarnya segera tumbuh subur dan kemudian batangnya kokoh tertancap di sanubariku dan daunnya menghijau memayungiku dari matahari 'aral melintang' yang memanggang semangatku hingga berpeluh.
Sepenggal kalimat ini pula yang melecut semangatku untuk tak pernah berhenti mengejar mimpi sehingga sekecil apa-pun kemungkinan yang ada, sebisa mungkin akan kujalani, sebaik mungkin akan aku perjuangkan, dan meski banyak yang belum sukses, namun tak sedikti yang kemudian langsung tunai diganjar Allah Sang Khalik dengan kesuksesan yang begitu manis rasanya.
Kawan,
Lelahku belum lenyap dari badanku ketika tulisan ini kuketik. Bahkan, jari-jari kakiku beberapa kali kram menyakitkan ketika tulisan ini kuketik, tapi itu semua indah bagiku, manis di lidah rasa jiwaku. Allah sungguh tak pernah luput mendengar doa-doa hambaNya.
Setelah selama 2 hari berjibaku dengan wkatu dan banyak tes, pada akhirnya aku bersyukur ditemukan dengan orang-orang yang luar biasa, mereka itu teman-teman baruku yang semuanya adalah pemuda-pemuda mengagumkan propinsi Bangka Belitung ini.
Latar belakang yang berbeda dari segala penjuru, baik itu sosial, ekonomi, pendidikan bahkan Justify Fullagama dan usia tak membuat mereka kemudian mengkotak-kotakkan diri dan membatasi diri untuk berbaur satu sama lain.
Mereka semua, pemuda-pemudi itu, adalah sosok-sosok menyenangkan. Ada Yudha yang lincah, ekspresif, kreatif dan lucu serta memiliki sense of humor dan art yang luar biasa selalu mampu menghangatkan kembali semangat yang mengkerut kedinginan oleh keringat nervous. Ada Anca si Bujang Pangkalpinang yang menghibur dengan gayanya sendiri. Hari yang dengan suara baritonnya selalu mampu mengimbangi joke-joke yang berlontaran dari banyak suara. Ada juga Edwin, Rozak, Davis, Bias, dan Bang Riza yang tak segan-segan membaurkan diri diantara semuanya, bertepuk tangan meriah ketika ada yang mesti dihargai, tertawa terbahak saat ada kelucuan yang mengocok perut, berdiskusi seru tentang peran pemuda dan kepemudaan bahkan hingga tentang politik dan pulau-pulau indah di kepulauan Bangka Belitung ini. Mereka adalah sosok-sosok visioner yang menginspirasi.
Sementara dari kaum hawa, para pemudi, selalu dihebohkan dengan kolaborasi Amel, Nesya, Destry dan Kefi yang heboh dan energik, yang tak segan-segan berbagi cerita tentang banyak hal. Seperti Amel dengan organisasi Parlemen Anak-nya, Kefi dengan curhat-curhatannya, Nesya dengan jokenya, Destry dengan cerita heboh dan humornya. Semua membaur, tumplek-blek jadi satu, menghibur!
Kaum hawa di kegiatan seleksi PPAN ini semakin heboh dengan adanya sosok-sosok lain; Isfarina, Erda, Aisyah, Dwi Ratna, Itoh, Dilla, Mira dan lain-lainnya (yang gak disebut jangan cemberut... heheheh) yang juga tak segan membuka mulut untuk bersuara baik itu tawa, tanya maupun mengikuti gerakan tari ala K-Pop yang dikomandoi oleh Yudha.
Sungguh, dua hari melelahkan ini adalah hari yang merupakan anugerah tak hingga. Pastinya aku akan merindukan kalian, guys. Semoga silaturrahmi kita selalu terjaga hingga habis masa dunia.
Kawan, aku tak akan pernah berhenti bermimpi, karena aku banyak belajar dari mimpi-mimpiku bahkan hingga berjumpa kalian semua. ^_^ I'm gonna miss this moment like crazy, pals....

Well, I got to go bed now, I'm too tired ^_^



Monday, April 4, 2011

Antara Fenomena Ikal, Arai, Alif dan Aku

Salam, readers... ^_^
Pengen sekali sebenarnya aktif ngeblog secara teratur setiap hari, tapi karakter ideku yang cepat menguap jika tidak segera ditulis adalah salah satu hal yg dari dulu tetap saja masih melekat tak mau pergi dari diriku, padahal tidak pula aku bisa siap sedia siaga di depan si Ion atau Asusku setiap waktu untuk megikat ide-ide itu. Parahnya lagi, meski aku tuliskan di buku, tak pula aku selalu pegang buku keman-mana dan dimana-mana. Jadilah begini, ngeblog yang belum teratur... he he he...
Tulisan kali ini adalah saripati dari monologku dengan nasibku sendiri dalam beebrapa hari yang kian menjadi-jadi saja. Tapi sebelumnya, aku mau pamerin si Platy, boneka horta platypusku yang sudah tumbuh 'rambut' sejak beberapa minggu ini.

my 2-week-old Platy before her hair get cut

after her hair get cut

Sebenarnya pengen potong 'rambutnya' dengan gaya mohawk atau spike, tapi ntar dia terlalu macho bin maskulin, jadi biarlah gini aja dulu, ntar kalo 'rambutnya' dah mulai panjang dan lebih lebat bakal aku potong lagi. Syukur-syukur kalo bisa di kasih jepit rambut atau dikepang. Ha ha ha ha...
Next, apa yang tengah bercokol di benakku sekarang adalah tentang kisah-kisah manusia-manusia inspiratif yang aku kenali mereka dari beberapa novel best seller dalam negeri, Sang Pemimpi (buku ke 2 dari tetralogi Laskar Pelangi, karya Andrea Hirata, yang keduanya, baik Laskar pelangi maupun Sang Pemimpi telah diangkat ke layar lebar dibawah Miles Film dan Mizan Production) dan Ranah 3 Warna (Buku ke dua dari tetralogi Negeri 5 Menara karya A. Fuadi). Sungguh, tanpa dibuat-buat mimpi-mimpi 'nyeleneh' ketiga tokoh dalam novel-novel itu seperti menyentil-nyentil diriku yang juga memimpikan hal 'nyeleneh' yang sama; kuliah di luar negeri (Amerika, Australia atau Eropa) meski ketika itu tak tahu entah bagaimana caranya untuk menggapai itu.
Kusamakan diriku dengan 'Alif', sang tokoh utama dalam trilogi Negeri 5 Menara. Aku yang juga dibesarkan dilingkungan 'tahan banting' Pesantren, tepatnya di sebuah Pon-pes di Indralaya PPI tercinta, yang juga berkawan karib dengan sallathoh rohah yang juga menjadi menu hampir saban hari di Pesantren tempatku dididik atau menu tambahan Makrunah yang dikategorikan sebagai makanan sedikit berkelas pada masa itu. Aku juga Kerap kali menikmati malam dengan terkantuk-kantuk 'dihukum' karena namaku masuk dalam daftar para jasus intelijen Qismul-Lughoh sampai larut malam meski kemudian ketika Aliyah justru aku lah yang kemudian dipercaya menjadi panitera putri untuk Mahkamah Lughoh, sebuah jabatan prestisius tertinggi diantara para santriwati yang langsung berada dibawah garis komando Kepala bagian Bahasa tertinggi. Badge berbentuk bintang segi lima berwarna biru seolah menjelma sebagai sebuah trophy yang menghibur dukaku yang selama di MTs cukup rajin menjadi pesakitan di Mahkamah Lughoh bahkan sampai merasakan hukuman dipukul dengan tangkai sekop plastik dan rotan berkali-kali. Sungguh, bukan aku sengaja melakukan pelanggaran-pelanggaran itu, apalagi seringkali catatan yang diserahkan jasus kepada hakim hanya berisi satu dua patah kata remeh temeh yang tanpa sengaja meluncur dari mulutku dalam kurun waktu 24 jam saban hari itu. Tapi dari kepopuleranku masuk mahkamah itulah kemudian aku terpecut bagai singa luka untuk lebih giat belajar bahasa asing Arab dan Inggris, dan kubuktikan itu ketika Imtihan Khas aku mencapai nilai tertinggi untuk Bahasa Inggris serta berkali-kali menjuarai lomba pidato bahasa Inggris. Disamping itu, bahkan untuk beberapa sisi aku juga punya cerita yang memilukan bahkan mengenaskan tentang usaha mempelajari bahasa, Arab dan juga Inggris mati-matian dengan extra miles yang menguras tenaga dan fikiran bahkan sempat menindih batinku.
Aku juga rasanya tak jauh beda dengan Alif yang justru bermimpi menginjakkan kaki di benua Amerika. Disaat banyak alumni pesantren tempatku mondok bahkan teman sekelasku di M.A.K bermimpi untuk melanjutkan kuliah ke Kairo, Yaman , Syiria, Makkah, Madinah atau Sudan aku justru berangan-angan dan memohon pada Tuhan agar dapat melanjutkan pendidikan ke benua Amerika atau Australia juga Jepang. Disaat teman-temanku sibuk menghafalkan ayat-ayat Al-Qur'an agar mereka memiliki modal menempuh beasiswa ke Timur Tengah, aku justru sibuk berkorespondensi dengan mengirim surat ke kedutaan-kedutaan besar negara-negara asing di Jakarta untuk sekedar memperkenalkan diri dan mimpiku dan memohon dikirimi sekedar brosur, kamus saku atau buku-buku berbahasa Inggris tentang budaya negara-negara nun jauh diseberang negeriku itu. Atau pula, ketika teman-temanku berlomba-lomba mengikuti pelatihan Naghom, seni baca Al-Quran dengan segenap variasi lagunya, aku justru keranjingan lagu-lagu Backstreet Boy dan Westlife yang kudengar dengan cara mencuri-curi kesempatan menyimak dari radio di walkmanku yang selalu kujaga agar tidak ketahuan apalagi disita oleh pihak Keamanan dan Kesantrian.
Aku juga merasakan perjuangan Ikal dan Arai seolah-olah mengomporiku untuk tetap berani bermimpi, berani berlari mengejar mimpi dengan memanfaatkan segala peluang yang ada. Aku belajar dari kegigihan Arai dan Ikal demi mewujudkan cita-cita 'gila' dari anak-anak pulau yang bahkan melihat iklan film bioskop-pun ternganga-nganga. Arai dengan segala jumpalitan ide liarnya menyentilku untuk tetap optimis bahwa Tuhan tentu mendengar segala pinta hambaNya bahkan yang hanya terbersit didalam hati sekalipun. Ikal yang dengan emosinya yang pasang surut memompaku untuk belajar meyakini impian yang dibagikan seorang Arai dan memupuk jiwa optimisme bahkan ketika dibombardir tanpa ampun oleh pesimisme yang datang seenaknya saja.
Aku, salah satu sosok yang berjalan sedikit diluar arus, tetap saja bertekad mengejar mimpi. Apalagi Tuhan dengan segala sifatnya dzatnya yang Maha Pemurah pernah menjawab kontan mimpiku untuk menjejakkan kaki di Amerika dan Jepang melalui beasiswa yang kudapatkan di 2008 lalu. Ya! aku memang hanya menjejakkan kaki di Jepang hanya sebatas Narita Airport, tapi bagiku itu adalah tetap bagian anugerah terindah dari Allah padaku sang pemimpi kecil ini. Aku tetap bisa menikmati aroma sushi yang ketika masih di kelas 3 MTs hanya kulihat gambarnya dari brosur yang dikirim pihak kedutaan Jepang kepadaku. Selama beberapa jam transit di Narita Airport aku seolah telah melihat gunung Fuji meski sebenarnya yang kulihat hanyala neon-board yang bergambar gunung Fuji bertuliskan Yokoso Japan! itu. Selama hampir 4 jam transit itu aku bisa merasakan betapa bersihnya Jepang hanya dnegan mengagumi rest room bandara yang bersih bahkan kinclong dan rapi mewangi serta tidak ada genangan air sedikitpun di lantainya. Aku memang cuma baru menjejakkan kaki di Narita Airport saja, tapi insyaallah, suatu hari dengan IzinNya aku akan berada di Jepang dalam hitungan hari, minggu bahkan bulan dan tahun jika Allah yang Maha Pengabul Doa kembali menjawab kontan doaku.
Aku ingat, rasanya tak banyak alumni Pesantren tempatku dididik itu mengambil jurusan bahasa Inggris, tapi aku justru termasuk segelintir orang itu. Teman-temanku banyak di IAIN Raden Fatah, UIN Sunan Kalijaga, UIN Syarif Hiyatullah, Al-Azhar Kairo, sementara aku harus berpuas diri di STAIN Curup karena keinginanku ke UIN Sunan Kalijaga tidak direstui keluarga karena jarak yang jauh. Tapi justru dari sana, kampus kecil yang terletak di daerah dingin itu yang kemudian membawa kakiku melangkah ke Jambi, Padang, Bandung, Banten, Jakarta bahkan lalu ke Tucson, sebuah kota di Negara bagian Arizona di Amerika Serikat.
Dari kampus kecil itulah aku kemudian merasakan sensasi terbengong-bengong menatap sebuah rumah di University Boulevard di Tucson yang mirip dengan rumah bergaya Eropa yang pernah kujadikan latar belakang sebuah fotoku yang merupakan hasil eksperimen ketika aku belajar photoshop untuk yang pertama kalinya. Foto hasil photoshop yang masih kasar itu adalah manifesto dari kegilaanku yang ditarik oleh mimpi-mimpi sejak aku masih di bangku Madrasah Tsanawiyah. Luar biasa sekali ketika beberapa bulan kemudian (sekitar 6-7 bulan) aku melihat rumah yang mirip dengan rumah di hasil rekayasa photoshop kasarku itu berada nyata di depan mataku di Tucson ketika itu.
Aku juga menjadi saksi bagaimana hebohnya pertarungan Obama dan rival politiknya memperebutkan kursi No. 1 Amerika Serikat itu di televisi lokal Amerika bahkan melihat pernak-pernik kampanye mereka yang kutemui di beberapa sudut kampus University of Arizona dan di Tucson. Dari langkah kecilku di kampus sederhana bersahaja STAIN Curup itulah aku kemudian menikmati perjalanan selama 32 jam dari Jakarta ke Amerika sehingga memberikan kesempatan padaaku untuk sekedar melongok Thailand, Jepang dan Los Angles.
Mimpi-mipi besarku memang belum sepenuhnya diijabah oleh Allah, tapi aku tak pernah menyerah, belum! dan tak akan! Kegagalanku untuk lolos dalam 2 kesempatan penjaringan penerima beasiswa S2 ke luar negeri beberapa bulan lalu tak menyurutkan apalagi mengering-kerontangkan mimpiku. Justru kini aku tengah menyulam mimpi yang baru karena aku yakin Allah di singgasana Arsy-Nya selalu mendengar pintaku dan melihat usahaku. Ia akan mengabulkannya, insyaallah. Mungkin esok, tahun depan, dua tahun mendatang, atau bertahun-tahun mendatang melalui keturunanku. Ia akan mengabulkan doaku, pintaku dan setiap pinta hambaNya yang meminta padanya.
Ikal, Arai, dan Alif adalah sosok-sosok yang kusandingkan dengan mimpi-mimpiku. Mereka memulai mengecap manisnya impian yang terwujud dengan meletakkan batu pertama kesuksessan, mimpi!
Rocket Boys, pelajar-pelajar muda dalam film October Sky yang kutonton berkali-kali di CESL pada mata kuliah Speaking juga mengajarkan padaku untuk tidak pernah takut membangun impian. Karena impian itu yang mengawali terbukanya jalan untuk meraihnya. Rasulullah, dengan impian beliau akan masyarakt Madani juga adalah legenda hidup yang selayaknya menjadi panutan semua manusia, tak terkecuali aku, bahwa percaya dan teguh hati adalah termasuk diantara syarat diijabahnya impian. Bukankah ketika kita selalu berprasangka baik pada Allah, maka Allah akan menganugerahi kita seperti prasangka baik kita kepadaNya?
Aku percaya, where there is a will, there is a way! dan aku tengah merintis dan membuka jalan untuk sampai disana. Allah, peluklah mimpi-mimpiku dan mimpi setiap mereka yang percaya bahwa Engkau Maha Pengabul. Amin


Readers, sudah malam. Mungkin malam ini aku akan beruntung bermimpi berada di dekat patung Liberty, atau melihat sakura mekar, atau duduk santai menikmati si Nyonya Besar Eiffel Tower atau mungkin menggendong bayi kangguru sambil menikmati kemegahan Opera House di Sydney. ^_^


Friday, April 1, 2011

Beda Masa, Beda Cara

Dear all...

Mulai hari ini di kota tempat ku tinggal, Pangkalpinang, mulai diberlakukan one way direction untuk beberapa ruas jalan protokol. Hal ini berlaku untuk tiga bulan ke depan sebagai masa percobaan. Ugh! Repot!!! mesti putar sana sini hanya untuk mencapai satu tujuan. Ribet! Tak Justify Fullayal, di tempatku kerja hampir semua orang membuka obrolan tentang betapa repotnya kebijakan jalan satu arah yang katanya dibuat untuk mengatasi kemacetan di kota ini. Dari mulai satpam, karyawan, sampai ke siswa-siswa di kelas pun membahas hal yang tak jauh berbeda tentang Betapa merepotkannya One way direction ini! ^_*
Speaking of which, hari ini terik banget! mataharinya galak banget! heheh padahal pagi tadi hujan mengguyur kota ini yang kemudian membuat betah ngalor-ngidul ngobrolin banyak hal bareng umi, kakak perempuan dan adik laki-lakiku satu-satunya. Bicara tentang hidup, tentang masa depan, tentang masa lalu juga. Kenang dikenang, jadi pengen ngeblog tentang satu hal deh. Let say ini adalah apa yang aku namakan Beda masa, beda cara ^_^
Yang saya maksudkan adalah cara memanjakan diri. Yups! Wanita adalah mahkluk yang identik dengan sifat manja maka dari itu memanjakan diri adalah yang erat kaitannya dengan mahkluk yang dinamakan an-nisa dalam bahasa Arabnya atau juga female, woman dalam bahasa Inggrisnya.
Tadi siang, bersama dengan kakak perempuanku, kami mengadakan sedikit acara memanjakan diri dengan tujuan 'salon' setelah dinilai cukup puas ngobrol banyak hal dengan keluarga minus ayah yang memang harus ngantor. Yup! salon yang notabene nya adalah tempat orang memanjakan diri untuk banyak alasan itu jadi target di hari ini. Sayangnya, terbatasnya waktu yang ada memaksaku hanya memilih treatment facial saja, padahal sebenarnya pengen sekalian di creambath juga. Alasan utamanya karena memang keterbatasan waktu yang tadinya juga karena salonnya penuh jadi harus menunggu hampir 1,5 jam. Maklum, aku yang berjilbab dan juga kakakku yang berjilbab merasa lebih nyaman melakukan perawatan di salon khusus muslimah yang sayangnya sangat terbatas keberadaannya di kota ini. Jadilah hari ini sukse s menunggu selama 1,5 jam demi sebuah treatment yang beken dengan nama 'facial' minus creambath. Oho! Rasa-rasanya ini yang membuatku tergelitik untuk mengenang cara-cara yang biasa aku lakukan untuk memanjakan diri.
Dulu, sebelum bergaul dengan kesejukan salon khusus muslimah, aku punya banyak cara untuk memanjakan diri yang kesemuanya itu tergantung dengan situasi dan kondisi. Cara pertama, ketika aku menjalani pendidikan di sebuah Pondok Pesantren Modern di wilayah Ogan Ilir Sum-Sel (PPI tercinta). Pada masi ini cara yang paling sering aku lakukan ketika ada waktu yang bisa dinikmati untuk memanjakan diri adalah dengan TIDUR! ^_^
Tidur ketika itu adalah salah satu cara memanjakan diri terfavorit, secara para santri seperti diriku ini memang seringkali memiliki jatah tidur yang tidak banyak, hanya dari jam 11 malam sampai 4.30 subuh. Itu pun kalau tidak ada banyak PR atau terjaring 'pengadilan bahasa' yang harus dijalani gara-gara masuk dalam daftar intelijen dalam kategori pelanggaran berbahasa resmi; Arab dan Inggris. Tak ayal, jika ada suasana yang sedikit merdeka, maka pilihan untuk TIDUR adalah hal yang tepat untuk memanjakan diri. ^_^ murah meriah, bukan?! (he he he)
Itu kisah ketika aku yang imut masih belajar di bangku MTs alias sekolah menengah pertama. Masa yang berbeda, maka cara yang berbeda pula yang ada. Ketika kemudian aku mulai duduk di bangku Madrasah Aliyah (sederajat dengan SMA cing...) aku memiliki cara lain untuk memanjakan diri. Masa di bangku MA adalah masa yang cukup elit buatku, secara ketika itu mulai tenar dan populer bercokol di organisasi intra sekolah yang dinamakan OSPI. Tak tanggung-tanggung ketika itu aku juga memiliki jabatan sebagai ketua asrama lalu kemudian naik derajat menjadi Mudabbiroh (penanggung jawab asrama). Nah, posisi yang lumayan elit itulah yang kemudian juga mempengaruhi cara memanjakan diri yang berbeda. Lebih elit daripada sekedar tidur di asrama. Shopping dan the most often is window shopping!!! (aku bubuhkan tiga tanda seru untuk mendapatkan kesan lebih tegas pada poin ini. he he he...)
Pengurus OSPI dan pengurus Asrama memang memiliki akses yang sedikit lebih mudah untuk masalah perizinan keluar wilayah pesantren. Entah itu untuk dengan alasan piket bagian kesehatan mengantar siswa yang sakit berobat ke dokter praktek langganan pesantren, entah itu sembari memfoto-copy berkas-berkas organisasi atau handbooks yang tebalnya udah tebal buanget, atau urusan lain-lain sebagainya yang tak jauh-jauh dengan tanggung jawabku dibeebrapa posisi dan kegiatan. Nah yang paling sering dimanfaatkan untuk sambil window shopping dan shopping beneran adalah ketika izin untuk memfoto-copy atau belanja kebutuhan asrama dan organisasi. Buku-buku atau berkas-berkas seabrek itu ditinggalkan saja di tempat foto-copy yang tak jarang memakan waktu dalam hitungan jam tergantung banyaknya yang harus di foto-copy. Abang foto-copy nya bekerja, aku dan teman-pun jalan-jalan ke wilayah sekitar. Yang paling sering sih di wilayah timbangan 32 Indralaya saja atau di pasar Indralaya yang di dekatnya ada sungai yang mengalir. Acaranya hanya keluar masuk toko-toko buku dan pakaian muslim-muslimah. Entah beli bross, manset tangan, jilbab, buku bacaan atau novel-novel serta buku kumcer, atau sekedar window shopping saja ketika kantong dalam keadaan kembang kempis di akhir bulan. Lalu, petualangan biasanya akan ditutup dengan satu porsi model atau tekwan atau empek-empek palembang dan segelas jus alpukat atau jus orange kesukaanku. Lumayan! those are on the shake of perbaikan gizi, cuci mata, refreshing otak, sekaligus menyuplai udara segar wilayah dunia diluar pagar Pesantren yang menjulang. Pada masa itu, cara memanjakan diri seperti ini adalah bagian indah dari balik kisi-kisi perjuangan seorang santri seperti aku ini dengan catatan, jangan melebihi jam izin yang diberikan, unless bisa berabeh. (ssstttt.... pernah juga tanpa disengaja terlibat acara copy-darat dengan santri Pesantren sebelah yang ngajak aku kenalan waktu ambil bagian di aksi damai ketika itu., kisaran tahun 2003 kalo gak salah. ha ha ha... untuk yang ini, tak usah diulas deh) ^_^
Selanjutnya, gaya memanjakan diri berikutnya adalah ketika aku mulai memiliki status sebagai Mahasiswa. Aku menghabiskan waktu di bangku kuliah di STAIN Curup, kota asal umiku, di kabupaten Rejang Lebong propinsi Bengkulu sana.
Menyandang status mahasiswi tak lantas membuatku akrab dan leluasa keluar masuk salon. Ketika itu, tangan ini masih menengadah kepada IMF tunggal, kedua orangtua. Sayang rasanya kalau uang jatah bulanan yang dikirm harus dialokasikan beberapa lembar untuk stylish dan therapist di salon he he he... ini prinsip hidup saya. Ketika semester 5, aku mulai memiliki pemasukan tambahan dengan bekerja part time di lab komputer dan internet kampus lalu kemudian part time job ku mulai merambah ke dunia penyiaran radio komunitas kampus lalu pemasukan juga sedikit bertambah dari hasil peras keringat mengajar private bahasa Inggris. seorang dokter dan anaknya yang masih SD ketika itu Uang saku yang beberapa kali saya terima dari mewakili kampus dalam beberapa event regional maupun nasional atau hadiah uang tunai selepas memenangkan beberapa lomba pidato bahasa Inggris atau puisi atau juga uang beasiswa prestasi yang secara rutin aku terima setiap tahun plus supersemar pada 1 tahun terakhir-pun tak lantas membuatku rela membagi rezeki kepada para karyawan salon. karena saya lebih suka melakukan perawatan diri dengan mandiri, cukup beli shampo dan conditioner sendiri, lulur, atau sesekali membeli produk masker yang tersedia di swalayan setempat atau dengan sedikit bersusah payag berkreasi dengan alpukat, lidah buaya, atau juga mentimun dan kentang (biasanya usaha ekstra ini aku lakukan selepas mengikuti kegiatan kemah atau hiking yang memang adalah salah satu outdoor activities kegemaranku). Mandiri sekali, bukan? ^_^ Intinya adalah, aku lebih suka mensaving uang-uang seseran itu untuk keperluan lain, membeli keperluan kuliah, atau memilih 'membandar' (mentraktir) adik-adik sepupu saya yang masih imut-imut untuk sekedar makan fried chicken di Happy World, bakso dan miso paha ayam di Mang Midi, de-el-el. Tidak terlalu istimewa, tapi setidaknya itu adalah bagian dari cara saya memanjakan diri disamping dengan memasak makanan spesial untukku dan nenekku yang memang pada waktu itu aku tinggal bersama nenek yang sudah berusia kurang lebih 80 tahun. Makanan spesial itu bukan pizza atau spaghetti atau risoto atau pula makanan negara asing lainnya. Menunya paling hanya ikan mas besar yang saya beli di Pasar Ate, atau ikan patin, ayam atau kadang ditambah beberapa panganan lainnya. Bukan karena tidak pernah makan ayam atau ikan, tapi keistimewaannya adalah kuantitas yang dibeli. Untuk ukuran kami berdua, aku dan nenekku, ayam atau ikan 1/2 kg itu sudah banyak! bisa untuk lauk makan 2-3 kali masak, apalagi kalau 1kg utuh! Ha ha ha... ini namanya menyenangkan diri sendiri dan orang lain = memanjakan diri sendiri.
Bicara tentang memasak makanan spesial sebagai bagian dari self treatment yang kerap dilakukan, aku jadi teringat tentang masa kelanaku selama dua bulan di negeri Paman Sam, tepatnya di state Arizona, persisnya di kota Tucson.
Selama dua bulan disana, aku tetap setia memilih cara ini untuk memanjakan diri, meski tak jarang aku juga melakukan ritual jalan-jalan ke beberapa tempat di Tucson, yang paling sering ya ke Walmart, Best Buy, Target, Fry's, Everything's 1 Dollar, ke deretan toko-toko di sepanjang 4th Ave atau ke taman-taman yang ada di hampir setiap beberapa blok di seputar Downtown atau di sepanjang North Stone road atau juga ke Presidio. Menu-menu yang aku masak juga sebenarnya menu sederhana, hanya saja karena tengah berada di negeri orang, maka menu sederhana-pun menjadi hal yang istimewa.
Alasan memanjakan diri dengan memasak makanan spesial itu pula yang membuat aku lebih sering berbuka puasa di apartemen saja sementara semua teman Arizoners 4 yang muslim memilih berbuka puasa di Islamic center saban hari tak terkecuali di hari Sabtu dan Minggu. Sementara bagiku jadwal buka puasa di setiap Sabtu dan Minggu lebih sering dilakukan di apartemen, di kamarku yang bernomor 3505 jika tidak ada undangan makan di cafe bersama host family. Menu yang dimasak memang ampuh membuatku merasa homy meski tengah berada di negara orang pada musim panas yang sangat amat menyengat, di negara bagian yang didominasi gurun gersang, gunung batu dan udara yang panasnya amat sangat tidak menyenangkan kulit Asia-ku ini. Pisang goreng, bakso ala aku sendiri, cap-cay, tumis cumi, udang asam-manis, ayam kecap, sambal ijo (waktu bikin nih sambal aku terpaksa harus 'mengulek' cabe ijo dan bawang yang udah ditumis dengan cara 'primitif' saja. Aku masukin aja tuh cabe dan bawang yang udah layu -karena di tumis terlebih dahulu- kedalam mangkok keramik yng tersedia di apartemen, lalu 'diulek' dengan gelas keramik... ha ha ha... siapa sangka sambal ijo yang kemudian diserbu beberapa teman untuk menu sahur ternyata 'diulek' dengan peralatan yang minim sekali.... $_$ tetep maknyussss). Menu lain yang sering aku buat adalah es buah, nasi goreng, udang goreng tepung, de-el el deh. Nah kalo pisang goreng atau kerupuk (yang udah disiapkan umi tersayang didalam koper sebelum berangkat ke tujuan) biasanya aku masak setelah sholat isya dan taraweh fardhiyah di apartemen, dihidangkan buat teman-teman yang lagi pada sibuk di depan laptop atau buku masing yang berkutat dengan tugas kuliah masing-masing sebelum kemudian aku juga tenggelam dalam kesibukan yang tak berbeda.
Semua menu itu menjadi istimewa sekali diantara bombardir burger, pizza, grande, makanan vietnam, makanan hispanic atau juga menu ala mid-east yang selalu ditemukan ketika berbuka puasa di Islamic Center. Menu-menu Indonesia yang diracik sendiri itu juga yang mengalahkan kebosanan menghadapi menu-menu American dan Mid-East yang selalu dihidangkan dengan porsi jumbo. Wuah!! Sekali lagi, memanjakan orang lain dengan bentuk seperti ini juga = memanjakan diri sendiri. Betul betul betul??? ^_*
Cara lainnya yang kerap aku lakukan ketika menjadi mahasiswa S1 (berharap ada hal lain yang bisa aku kisahkan jika Tuhan mengabulkan doaku dengan rezeki kuliah s2 ^_^) adalah dengan menodong teman-teman untuk ramai-ramai jalan-jalan ke beberapa tempat wisata di dalam wilayah Rejang Lebong atau Bengkulu saja. Simple, tapi tetap ampuh untuk menghilangkan stress dan beban fikiran yang didera oleh berbagai macam mata kuliah yang kian tahun kian rumit dan serius saja jadinya. ^_^
Setelah semua masa itu terlewati, barulah aku sedikit mengakrabkan diri dengan jasa pelayanan salon disamping juga jalan-jalan (tujuan utama biasanya ke pantai. Ini demi kecintaanku pada laut dan ombak hi hi hi) atau berwisata kuliner (teteeeepppp...). Cara ini tidak lantas membuatku tergila-gila dengan beragam treatment yang tersedia di salon, paling banter aku hanya melakukan facial atau creambath. Kebiasaan untuk mandiri masih cukup lekat dnegan pribadiku. Beli buffer nail set sendiri, lulur sendiri, sometimes facial juga sendiri dengan produk-produk yang ada meski tidak selengkap yang diberikan jasa stylish dan theraphist di salon.
Pada dasarnya, saya berani mendekatkan diri dengan salon hanyalah karena aku sudah mampu menghasilkan uang secara mandiri dari hasil keringat sendiri. Jadi, tak lagi menadahkan tangan pada ayah dan umi untuk menggenapi kebutuhan pribadi, termasuk urusan ke salon ini. Meski sebenarnya, aku ini bukan tipe wanita yang sangat menyukai menghabiskan waktu di salon dan membiarkan orang lain yang memberikan perawatan pada kulit dan rambutku, jadi, tetap saja sampai saat ini memanjakan diri ke salon masih berada dibawah pilihan lain dalam daftar cara memanjakan diri yang aku lakukan. Seringkali wisata kuliner dengan adik atau sepupu atau teman lebih mengasyikkan dari pada berbaring diam di-facial atau duduk diam di-creambath. Ice cream masih jadi target favorit yang masuk dalam daftar 'cara memanjakan diri' yang aku kiblati. Apalagi sekarang ada Magnum classic dan almond, meski pilihan favoritku tetap pada cornetto choco disc atau sundae ice cream di Kfc itu he he he...
Finally, pada intinya yang ingin disampaikan adalah bahwa masa yang aku jalani memiliki ukiran kisah tersendiri, bahkan untuk urusan memanjakan diri ini. Nah, bagaimana dengan anda, readers??? ^_^

Boneka Hati

Mereka salah menyampaikan kesimpulan padaku, beruntung aku tak pernah berpuas diri untuk percaya sebelum membuktikan banyak hal

Kini aku tau, itu hanya ekstasi sesaat yg membuatmu sakau dalam sepi yg mencekik nyawamu

Itu bukan sesuatu yg kucari, bukan pula yg kunanti...

Duhai! bagaimana mungkin aku mampu menggenggam hati yg di dalamnya masih tertanam jiwa lain?

Bagaiman mungkin aku mampu menjaga hati yang bahkan kau sendiri tak membentenginya?

Bagaimana mungkin aku membiarkanmu merengkuh batinku sementara jemarimu masih terpatri pada genggam masa lalu?

Mereka salah menyampaikan berita padaku

Apa yang tampak ada hanyalah heroin waktu yang membuatmu melayang meninggalkan sunyi hatimu yang tersakiti

Wahai! Bagaimana mungkin aku bisa membiarkan jiwaku menjadi boneka hatimu?

Bagaimana mungkin aku rela mengkerangkeng jiwaku di balik jeruji hitam kelam rahasiamu?

Tidak... tidaklah aku mampu untuk itu...

(Pojok Ruang, di suatu waktu. Sebuah catatan dalam kelebat inspirasi) ^_^

Wajah Kelabu

Wahai engkau yang seringkali datang dalam mimpiku,

Mengapa tak pergi saja menjauh

Atau mendekatlah sedekat-dekatnya padaku,

Agar mimpi itu menjadi nyata atau sekalian hilang dalam tiap jagaku ...

Siapakah gerangan perwujudanmu itu?

Apakah matahari penguasa siang yang terkadang terlalu terik menyapa tubuhku?

Ataukah rembulan pangeran malam yang tak jarang meniupkan angin hingga menggigil aku dalam kedinginan?

Ataukah engkau adalah sang dewa bayu yang melenakanku dengan sejuk ketenangan?

Wahai engkau raut wajah yang memata-matai malam sunyiku,

Bisakah kau mewujud nyata saja dalam sukaku?

Atau mungkin lebih baik hilang segera seiring lupaku?

Tapi setidaknya aku berhak memberikanmu waktu hingga terang halimun takdirku...