Mulai hari ini di kota tempat ku tinggal, Pangkalpinang, mulai diberlakukan one way direction untuk beberapa ruas jalan protokol. Hal ini berlaku untuk tiga bulan ke depan sebagai masa percobaan. Ugh! Repot!!! mesti putar sana sini hanya untuk mencapai satu tujuan. Ribet! Tak

ayal, di tempatku kerja hampir semua orang membuka obrolan tentang betapa repotnya kebijakan jalan satu arah yang katanya dibuat untuk mengatasi kemacetan di kota ini. Dari mulai satpam, karyawan, sampai ke siswa-siswa di kelas pun membahas hal yang tak jauh berbeda tentang Betapa merepotkannya One way direction ini! ^_*
Speaking of which, hari ini terik banget! mataharinya galak banget! heheh padahal pagi tadi hujan mengguyur kota ini yang kemudian membuat betah ngalor-ngidul ngobrolin banyak hal bareng umi, kakak perempuan dan adik laki-lakiku satu-satunya. Bicara tentang hidup, tentang masa depan, tentang masa lalu juga. Kenang dikenang, jadi pengen ngeblog tentang satu hal deh. Let say ini adalah apa yang aku namakan Beda masa, beda cara ^_^
Yang saya maksudkan adalah cara memanjakan diri. Yups! Wanita adalah mahkluk yang identik dengan sifat manja maka dari itu memanjakan diri adalah yang erat kaitannya dengan mahkluk yang dinamakan
an-nisa dalam bahasa Arabnya atau juga
female, woman dalam bahasa Inggrisnya.
Tadi siang, bersama dengan kakak perempuanku, kami mengadakan sedikit acara memanjakan diri dengan tujuan 'salon' setelah dinilai cukup puas ngobrol banyak hal dengan keluarga minus ayah yang memang harus ngantor. Yup! salon yang notabene nya adalah tempat orang memanjakan diri untuk banyak alasan itu jadi target di hari ini. Sayangnya, terbatasnya waktu yang ada memaksaku hanya memilih treatment facial saja, padahal sebenarnya pengen sekalian di creambath juga. Alasan utamanya karena memang keterbatasan waktu yang tadinya juga karena salonnya penuh jadi harus menunggu hampir 1,5 jam. Maklum, aku yang berjilbab dan juga kakakku yang berjilbab merasa lebih nyaman melakukan perawatan di salon khusus muslimah yang sayangnya sangat terbatas keberadaannya di kota ini. Jadilah hari ini sukse s menunggu selama 1,5 jam demi sebuah treatment yang beken dengan nama 'facial' minus creambath. Oho! Rasa-rasanya ini yang membuatku tergelitik untuk mengenang cara-cara yang biasa aku lakukan untuk memanjakan diri.
Dulu, sebelum bergaul dengan kesejukan salon khusus muslimah, aku punya banyak cara untuk memanjakan diri yang kesemuanya itu tergantung dengan situasi dan kondisi. Cara pertama, ketika aku menjalani pendidikan di sebuah Pondok Pesantren Modern di wilayah Ogan Ilir Sum-Sel (PPI tercinta). Pada masi ini cara yang paling sering aku lakukan ketika ada waktu yang bisa dinikmati untuk memanjakan diri adalah dengan TIDUR! ^_^
Tidur ketika itu adalah salah satu cara memanjakan diri terfavorit, secara para santri seperti diriku ini memang seringkali memiliki jatah tidur yang tidak banyak, hanya dari jam 11 malam sampai 4.30 subuh. Itu pun kalau tidak ada banyak PR atau terjaring 'pengadilan bahasa' yang harus dijalani gara-gara masuk dalam daftar intelijen dalam kategori pelanggaran berbahasa resmi; Arab dan Inggris. Tak ayal, jika ada suasana yang sedikit merdeka, maka pilihan untuk TIDUR adalah hal yang tepat untuk memanjakan diri. ^_^ murah meriah, bukan?! (he he he)
Itu kisah ketika aku yang imut masih belajar di bangku MTs alias sekolah menengah pertama. Masa yang berbeda, maka cara yang berbeda pula yang ada. Ketika kemudian aku mulai duduk di bangku Madrasah Aliyah (sederajat dengan SMA cing...) aku memiliki cara lain untuk memanjakan diri. Masa di bangku MA adalah masa yang cukup elit buatku, secara ketika itu mulai tenar dan populer bercokol di organisasi intra sekolah yang dinamakan OSPI. Tak tanggung-tanggung ketika itu aku juga memiliki jabatan sebagai ketua asrama lalu kemudian naik derajat menjadi Mudabbiroh (penanggung jawab asrama). Nah, posisi yang lumayan elit itulah yang kemudian juga mempengaruhi cara memanjakan diri yang berbeda. Lebih elit daripada sekedar tidur di asrama. Shopping dan the most often is window shopping!!! (aku bubuhkan tiga tanda seru untuk mendapatkan kesan lebih tegas pada poin ini. he he he...)
Pengurus OSPI dan pengurus Asrama memang memiliki akses yang sedikit lebih mudah untuk masalah perizinan keluar wilayah pesantren. Entah itu untuk dengan alasan piket bagian kesehatan mengantar siswa yang sakit berobat ke dokter praktek langganan pesantren, entah itu sembari memfoto-copy berkas-berkas organisasi atau handbooks yang tebalnya udah tebal buanget, atau urusan lain-lain sebagainya yang tak jauh-jauh dengan tanggung jawabku dibeebrapa posisi dan kegiatan. Nah yang paling sering dimanfaatkan untuk sambil window shopping dan shopping beneran adalah ketika izin untuk memfoto-copy atau belanja kebutuhan asrama dan organisasi. Buku-buku atau berkas-berkas seabrek itu ditinggalkan saja di tempat foto-copy yang tak jarang memakan waktu dalam hitungan jam tergantung banyaknya yang harus di foto-copy. Abang foto-copy nya bekerja, aku dan teman-pun jalan-jalan ke wilayah sekitar. Yang paling sering sih di wilayah timbangan 32 Indralaya saja atau di pasar Indralaya yang di dekatnya ada sungai yang mengalir. Acaranya hanya keluar masuk toko-toko buku dan pakaian muslim-muslimah. Entah beli bross, manset tangan, jilbab, buku bacaan atau novel-novel serta buku kumcer, atau sekedar window shopping saja ketika kantong dalam keadaan kembang kempis di akhir bulan. Lalu, petualangan biasanya akan ditutup dengan satu porsi model atau tekwan atau empek-empek palembang dan segelas jus alpukat atau jus orange kesukaanku. Lumayan! those are on the shake of perbaikan gizi, cuci mata, refreshing otak, sekaligus menyuplai udara segar wilayah dunia diluar pagar Pesantren yang menjulang. Pada masa itu, cara memanjakan diri seperti ini adalah bagian indah dari balik kisi-kisi perjuangan seorang santri seperti aku ini dengan catatan, jangan melebihi jam izin yang diberikan, unless bisa berabeh. (ssstttt.... pernah juga tanpa disengaja terlibat acara copy-darat dengan santri Pesantren sebelah yang ngajak aku kenalan waktu ambil bagian di aksi damai ketika itu., kisaran tahun 2003 kalo gak salah. ha ha ha... untuk yang ini, tak usah diulas deh) ^_^
Selanjutnya, gaya memanjakan diri berikutnya adalah ketika aku mulai memiliki status sebagai Mahasiswa. Aku menghabiskan waktu di bangku kuliah di STAIN Curup, kota asal umiku, di kabupaten Rejang Lebong propinsi Bengkulu sana.
Menyandang status mahasiswi tak lantas membuatku akrab dan leluasa keluar masuk salon. Ketika itu, tangan ini masih menengadah kepada IMF tunggal, kedua orangtua. Sayang rasanya kalau uang jatah bulanan yang dikirm harus dialokasikan beberapa lembar untuk stylish dan therapist di salon he he he... ini prinsip hidup saya. Ketika semester 5, aku mulai memiliki pemasukan tambahan dengan bekerja part time di lab komputer dan internet kampus lalu kemudian part time job ku mulai merambah ke dunia penyiaran radio komunitas kampus lalu pemasukan juga sedikit bertambah dari hasil peras keringat mengajar private bahasa Inggris. seorang dokter dan anaknya yang masih SD ketika itu Uang saku yang beberapa kali saya terima dari mewakili kampus dalam beberapa event regional maupun nasional atau hadiah uang tunai selepas memenangkan beberapa lomba pidato bahasa Inggris atau puisi atau juga uang beasiswa prestasi yang secara rutin aku terima setiap tahun plus supersemar pada 1 tahun terakhir-pun tak lantas membuatku rela membagi rezeki kepada para karyawan salon. karena saya lebih suka melakukan perawatan diri dengan mandiri, cukup beli shampo dan conditioner sendiri, lulur, atau sesekali membeli produk masker yang tersedia di swalayan setempat atau dengan sedikit bersusah payag berkreasi dengan alpukat, lidah buaya, atau juga mentimun dan kentang (biasanya usaha ekstra ini aku lakukan selepas mengikuti kegiatan kemah atau hiking yang memang adalah salah satu outdoor activities kegemaranku). Mandiri sekali, bukan? ^_^ Intinya adalah, aku lebih suka mensaving uang-uang seseran itu untuk keperluan lain, membeli keperluan kuliah, atau memilih 'membandar' (mentraktir) adik-adik sepupu saya yang masih imut-imut untuk sekedar makan fried chicken di Happy World, bakso dan miso paha ayam di Mang Midi, de-el-el. Tidak terlalu istimewa, tapi setidaknya itu adalah bagian dari cara saya memanjakan diri disamping dengan memasak makanan spesial untukku dan nenekku yang memang pada waktu itu aku tinggal bersama nenek yang sudah berusia kurang lebih 80 tahun. Makanan spesial itu bukan pizza atau spaghetti atau risoto atau pula makanan negara asing lainnya. Menunya paling hanya ikan mas besar yang saya beli di Pasar Ate, atau ikan patin, ayam atau kadang ditambah beberapa panganan lainnya. Bukan karena tidak pernah makan ayam atau ikan, tapi keistimewaannya adalah kuantitas yang dibeli. Untuk ukuran kami berdua, aku dan nenekku, ayam atau ikan 1/2 kg itu sudah banyak! bisa untuk lauk makan 2-3 kali masak, apalagi kalau 1kg utuh! Ha ha ha... ini namanya menyenangkan diri sendiri dan orang lain = memanjakan diri sendiri.
Bicara tentang memasak makanan spesial sebagai bagian dari self treatment yang kerap dilakukan, aku jadi teringat tentang masa kelanaku selama dua bulan di negeri Paman Sam, tepatnya di state Arizona, persisnya di kota Tucson.
Selama dua bulan disana, aku tetap setia memilih cara ini untuk memanjakan diri, meski tak jarang aku juga melakukan ritual jalan-jalan ke beberapa tempat di Tucson, yang paling sering ya ke Walmart, Best Buy, Target, Fry's, Everything's 1 Dollar, ke deretan toko-toko di sepanjang 4th Ave atau ke taman-taman yang ada di hampir setiap beberapa blok di seputar Downtown atau di sepanjang North Stone road atau juga ke Presidio. Menu-menu yang aku masak juga sebenarnya menu sederhana, hanya saja karena tengah berada di negeri orang, maka menu sederhana-pun menjadi hal yang istimewa.
Alasan memanjakan diri dengan memasak makanan spesial itu pula yang membuat aku lebih sering berbuka puasa di apartemen saja sementara semua teman Arizoners 4 yang muslim memilih berbuka puasa di Islamic center saban hari tak terkecuali di hari Sabtu dan Minggu. Sementara bagiku jadwal buka puasa di setiap Sabtu dan Minggu lebih sering dilakukan di apartemen, di kamarku yang bernomor 3505 jika tidak ada undangan makan di cafe bersama host family. Menu yang dimasak memang ampuh membuatku merasa homy meski tengah berada di negara orang pada musim panas yang sangat amat menyengat, di negara bagian yang didominasi gurun gersang, gunung batu dan udara yang panasnya amat sangat tidak menyenangkan kulit Asia-ku ini. Pisang goreng, bakso ala aku sendiri, cap-cay, tumis cumi, udang asam-manis, ayam kecap, sambal ijo (waktu bikin nih sambal aku terpaksa harus 'mengulek' cabe ijo dan bawang yang udah ditumis dengan cara 'primitif' saja. Aku masukin aja tuh cabe dan bawang yang udah layu -karena di tumis terlebih dahulu- kedalam mangkok keramik yng tersedia di apartemen, lalu 'diulek' dengan gelas keramik... ha ha ha... siapa sangka sambal ijo yang kemudian diserbu beberapa teman untuk menu sahur ternyata 'diulek' dengan peralatan yang minim sekali.... $_$ tetep maknyussss). Menu lain yang sering aku buat adalah es buah, nasi goreng, udang goreng tepung, de-el el deh. Nah kalo pisang goreng atau kerupuk (yang udah disiapkan umi tersayang didalam koper sebelum berangkat ke tujuan) biasanya aku masak setelah sholat isya dan taraweh fardhiyah di apartemen, dihidangkan buat teman-teman yang lagi pada sibuk di depan laptop atau buku masing yang berkutat dengan tugas kuliah masing-masing sebelum kemudian aku juga tenggelam dalam kesibukan yang tak berbeda.
Semua menu itu menjadi istimewa sekali diantara bombardir burger, pizza, grande, makanan vietnam, makanan hispanic atau juga menu ala mid-east yang selalu ditemukan ketika berbuka puasa di Islamic Center. Menu-menu Indonesia yang diracik sendiri itu juga yang mengalahkan kebosanan menghadapi menu-menu American dan Mid-East yang selalu dihidangkan dengan porsi jumbo. Wuah!! Sekali lagi, memanjakan orang lain dengan bentuk seperti ini juga = memanjakan diri sendiri. Betul betul betul??? ^_*
Cara lainnya yang kerap aku lakukan ketika menjadi mahasiswa S1 (berharap ada hal lain yang bisa aku kisahkan jika Tuhan mengabulkan doaku dengan rezeki kuliah s2 ^_^) adalah dengan menodong teman-teman untuk ramai-ramai jalan-jalan ke beberapa tempat wisata di dalam wilayah Rejang Lebong atau Bengkulu saja. Simple, tapi tetap ampuh untuk menghilangkan stress dan beban fikiran yang didera oleh berbagai macam mata kuliah yang kian tahun kian rumit dan serius saja jadinya. ^_^
Setelah semua masa itu terlewati, barulah aku sedikit mengakrabkan diri dengan jasa pelayanan salon disamping juga jalan-jalan (tujuan utama biasanya ke pantai. Ini demi kecintaanku pada laut dan ombak hi hi hi) atau berwisata kuliner (teteeeepppp...). Cara ini tidak lantas membuatku tergila-gila dengan beragam treatment yang tersedia di salon, paling banter aku hanya melakukan facial atau creambath. Kebiasaan untuk mandiri masih cukup lekat dnegan pribadiku. Beli buffer nail set sendiri, lulur sendiri, sometimes facial juga sendiri dengan produk-produk yang ada meski tidak selengkap yang diberikan jasa stylish dan theraphist di salon.
Pada dasarnya, saya berani mendekatkan diri dengan salon hanyalah karena aku sudah mampu menghasilkan uang secara mandiri dari hasil keringat sendiri. Jadi, tak lagi menadahkan tangan pada ayah dan umi untuk menggenapi kebutuhan pribadi, termasuk urusan ke salon ini. Meski sebenarnya, aku ini bukan tipe wanita yang sangat menyukai menghabiskan waktu di salon dan membiarkan orang lain yang memberikan perawatan pada kulit dan rambutku, jadi, tetap saja sampai saat ini memanjakan diri ke salon masih berada dibawah pilihan lain dalam daftar cara memanjakan diri yang aku lakukan. Seringkali wisata kuliner dengan adik atau sepupu atau teman lebih mengasyikkan dari pada berbaring diam di-facial atau duduk diam di-creambath. Ice cream masih jadi target favorit yang masuk dalam daftar 'cara memanjakan diri' yang aku kiblati. Apalagi sekarang ada Magnum classic dan almond, meski pilihan favoritku tetap pada cornetto choco disc atau sundae ice cream di Kfc itu he he he...
Finally, pada intinya yang ingin disampaikan adalah bahwa masa yang aku jalani memiliki ukiran kisah tersendiri, bahkan untuk urusan memanjakan diri ini. Nah, bagaimana dengan anda, readers??? ^_^