Setiap peristiwa di jagat raya ini adalah potongan-potongan mozaik. Terserak di sana sini, tersebar dalam rentang waktu dan ruang-ruang. Namun, perlahan-lahan ia akan bersatu membentuk sosok seperti montase Antoni Gaudi. Mozaik-mozaik itu akan membangun siapa dirimu dewasa nanti. Lalu apa pun yang kaukerjakan dalam hidup ini, akan bergema dalam keabadian .... "Maka berkelanalah di atas muka bumi ini untuk menemukan mozaikmu!" (Pak Balia - Sang Pemimpi)
Hari ini seharian terik banget! panas membuat otakku segera membayangkan kesejukan, sumbernya banyak, diantaranya adalah Ice Cream ^_^
Berawal dari update status jejaring sosial, facebook, yang dengan singkat dan penuh minat kutulis "Ice cream would be nice" akhirnya mendapat respon dari seorang alumni Kapal Pemuda Nusantara, Kak Oja, yang sempat bertemu semasa proses seleksi PPAN. Lalu, mengalirlah ide untuk menikmati ice cream sore itu.
Copy darat di depan rumah dinas walikota lalu langsung tancap gas ke Puncak dan taraaaa!!! Cornetto choco disc tersenyum menggoda diujung mataku! Magnum tetap jadi alternatif kesekian ^_^ Sempat berada diambang kecewa ketika itu karena setelah mengubek-ubek freezer box yang mendominasi hanyalah Magnum Classic dan Almond serta Cornetto Strawberry Disc (ah! jadi inget seseorang yang maniak Cornetto strawberry deh *_* hohohoho) Namun, kecewa terobati dan seketika mata berbinar ketika kak Oja akhirnya menemukan satu-satunya Cornetto Choco disc yang ada. Yippee!!!
Well, sembari menikmati ice cream, kak Oja kemudian mengajak ke lantai 3 Puncak, ke arena bermain. Awalnya cuma sekedar duduk-duduk menikmati ice cream dan lalu pulang, tapi kemudian ide untuk karaokean datang dari Kak Oja. Singkat kata, masuklah kami ke Karaoke box. Lagu pertama adalah Ketika Cinta Bertasbih-nya Melly Goeslaw dan Amee. Sebenarnya sih Kak Oja aja yang karaokean, secara aku kan gak ahli di bidang tarik suara hehehe. Nah, lalu apa hubungannya dengan Pak Balia? ho ho... Ingat Pak Balia?

Pak Balia adalah salah satu tokoh dalam cerita novel tetralogi Laskar Pelangi, di novel kedua: Sang Pemimpi. Beliau membakar semangat pasa siswanya terutama Arai dan Ikal dengan sebuah mozaik dari negara Perancis. You know what, mozaik itulah yang aku lihat di video clip yang ditampilkan di layar televisi ketika lagu kedua diputar. Lagu yang dipilih sebenarnya adalah lagu dari Bonus Band, 2 Cincin. Tapi klip yang muncul malah potongan2 aktifitas masyarakat dan wisatawan di salah satu sudut kota Paris.
Kalimat Pak Balia “Setiap peristiwa di jagat raya ini adalah potongan mozaik-mozaik. Maka berkelanalah di atas muka bumi ini untuk menemukan mozaikmu!” menjadi cambuk bagi siswanya terutama Arai dan Ikal untuk bertekad menjejakkan kaki di altar suci almamater Sorbonne Perancis. Mozaik yang kemudian ditunjukan Pak Balia adalah patung hewan (semacam kadal atau iguana) yang terbuat dari potongan-potongan mozaik yang lantas sangat indah terlihat di mata Arai dan Ikal.

Di klip lagu karaoke itu, aku tak hanya melihat mozaik yang dimaksud Pak Balia, tapi juga beragam seni jalanan yang diceritakan sang penulis Andrea Hirata di novel ketiganya; Edensor. Street art yang ada di klip lagu itu terasa benar-benar menggambarkan apa yang Ikal dan Arai lihat di PARIS. Sungguh! ketika itu aku ternganga dan seolah merasa bahwa ini adalah potongan dari kisah Ikal dan Arai di Paris lengkap dengan beberapa seniman body painting yang mengecat tubuh mereka dengan warna gold dan silver lalu menjadi patung-patung manusia di jalanan yang banyak diramaikan oleh para pejalan kaki. Bahkan ada juga yang berdandan ala Kapten bajak laut yang mengingatkan aku dengan film Pirates of Caribbean yang tak lupa ditemani oleh burung Nuri nan cantik menawan. Glek! (sounds lil bit weird, huh?) ^_^
Ah, yang jelas, aku seolah merasakan bahwa aku melihat melalui mata Ikal dan Arai saat menatap televisi layar datar itu tak berkedip, sementara kak Oja, masih asyik berkaraoke ria. Tapi aku tetap terpukau dan sembari berdoa "Allah, adakah nasib hidup dan mimpiku akan membawaku berada di negara tempat Andrea Hirata ini pernah berada dan menuntut ilmu?".
I am a dreamer!
^_^
Berawal dari update status jejaring sosial, facebook, yang dengan singkat dan penuh minat kutulis "Ice cream would be nice" akhirnya mendapat respon dari seorang alumni Kapal Pemuda Nusantara, Kak Oja, yang sempat bertemu semasa proses seleksi PPAN. Lalu, mengalirlah ide untuk menikmati ice cream sore itu.
Copy darat di depan rumah dinas walikota lalu langsung tancap gas ke Puncak dan taraaaa!!! Cornetto choco disc tersenyum menggoda diujung mataku! Magnum tetap jadi alternatif kesekian ^_^ Sempat berada diambang kecewa ketika itu karena setelah mengubek-ubek freezer box yang mendominasi hanyalah Magnum Classic dan Almond serta Cornetto Strawberry Disc (ah! jadi inget seseorang yang maniak Cornetto strawberry deh *_* hohohoho) Namun, kecewa terobati dan seketika mata berbinar ketika kak Oja akhirnya menemukan satu-satunya Cornetto Choco disc yang ada. Yippee!!!

Well, sembari menikmati ice cream, kak Oja kemudian mengajak ke lantai 3 Puncak, ke arena bermain. Awalnya cuma sekedar duduk-duduk menikmati ice cream dan lalu pulang, tapi kemudian ide untuk karaokean datang dari Kak Oja. Singkat kata, masuklah kami ke Karaoke box. Lagu pertama adalah Ketika Cinta Bertasbih-nya Melly Goeslaw dan Amee. Sebenarnya sih Kak Oja aja yang karaokean, secara aku kan gak ahli di bidang tarik suara hehehe. Nah, lalu apa hubungannya dengan Pak Balia? ho ho... Ingat Pak Balia?

Pak Balia adalah salah satu tokoh dalam cerita novel tetralogi Laskar Pelangi, di novel kedua: Sang Pemimpi. Beliau membakar semangat pasa siswanya terutama Arai dan Ikal dengan sebuah mozaik dari negara Perancis. You know what, mozaik itulah yang aku lihat di video clip yang ditampilkan di layar televisi ketika lagu kedua diputar. Lagu yang dipilih sebenarnya adalah lagu dari Bonus Band, 2 Cincin. Tapi klip yang muncul malah potongan2 aktifitas masyarakat dan wisatawan di salah satu sudut kota Paris.
Kalimat Pak Balia “Setiap peristiwa di jagat raya ini adalah potongan mozaik-mozaik. Maka berkelanalah di atas muka bumi ini untuk menemukan mozaikmu!” menjadi cambuk bagi siswanya terutama Arai dan Ikal untuk bertekad menjejakkan kaki di altar suci almamater Sorbonne Perancis. Mozaik yang kemudian ditunjukan Pak Balia adalah patung hewan (semacam kadal atau iguana) yang terbuat dari potongan-potongan mozaik yang lantas sangat indah terlihat di mata Arai dan Ikal.

Di klip lagu karaoke itu, aku tak hanya melihat mozaik yang dimaksud Pak Balia, tapi juga beragam seni jalanan yang diceritakan sang penulis Andrea Hirata di novel ketiganya; Edensor. Street art yang ada di klip lagu itu terasa benar-benar menggambarkan apa yang Ikal dan Arai lihat di PARIS. Sungguh! ketika itu aku ternganga dan seolah merasa bahwa ini adalah potongan dari kisah Ikal dan Arai di Paris lengkap dengan beberapa seniman body painting yang mengecat tubuh mereka dengan warna gold dan silver lalu menjadi patung-patung manusia di jalanan yang banyak diramaikan oleh para pejalan kaki. Bahkan ada juga yang berdandan ala Kapten bajak laut yang mengingatkan aku dengan film Pirates of Caribbean yang tak lupa ditemani oleh burung Nuri nan cantik menawan. Glek! (sounds lil bit weird, huh?) ^_^
Ah, yang jelas, aku seolah merasakan bahwa aku melihat melalui mata Ikal dan Arai saat menatap televisi layar datar itu tak berkedip, sementara kak Oja, masih asyik berkaraoke ria. Tapi aku tetap terpukau dan sembari berdoa "Allah, adakah nasib hidup dan mimpiku akan membawaku berada di negara tempat Andrea Hirata ini pernah berada dan menuntut ilmu?".
I am a dreamer!
^_^
No comments:
Post a Comment