Wednesday, January 18, 2012

Kutuk

Aku mengutukmu untuk culas yang kau mainkan
Mengutukmu pada tiap-tiap denyut sakit perasaan
Mengutukmu untuk harapan yang kau hempaskan
Mengutukmu untuk luka dengan cuka yang kau siramkan
Sumpahku serapah
Dendamku kesumat
Hidupmu kulaknat
Jiwamu akan sengsara
Mengapa tak membusuk saja kau dalam sepi disana?

METAMORFOSIS

Salam, readers ^_^

Metamorfosis, kawan. Telur kecil yang menjijikkan, seekor ulat jelek yang rakus memamah daun hingga babas bingkas kemudian bertapa dalam kantong tergantung kemudian mengepak sayap basah hingga menyadari diri cantik rupanya. Itu kupu-kupu, kawan. 
Tak ubahnya seperti kita. Saat kecil kita tak lebih dari seorang anak yang tak terlalu peduli soal mode busana (zaman sekarang sih sudah mulai beda) menyerahkan pada sang ibu untuk urusan mix and match busana, cuek saja melenggang dengan pakaian seadanya, tak butuh banyak assesori di jari, pinggang, tubuh dan wajah, tak peduli dengan carut-marut dunia politik atau ekonomi bangsa yang kembang-kempis. Tapi itu dulu, saat dunia kita hanya bermain saja ingatnya. 
Kepompong-Kupu-Kupu
Kemudian kita berada pada tahap rakus. Memamah segala mimpi-mimpi yang bisa direngkuh. Meraup segala kesempatan yang mungkin dijajal. Menelikung segala aral melintang. Babas bingkas lintang pukang menyalib segala coba yang menerpa. Itu masa muda, kawan. Seperti katanya bung Rhoma Irama "Masa muda masa yang berapi-api"
Sedikit dewasa, kita akan dituntut berdamai dengan nasib hidup, menjadi kepompong yang mempelajari indahnya menerima, memahami, dan bergantung pada tangan-tangan penuh kasih dan pelindung, berdoa dan berharap ikatan itu cukup kuat untuk menyelamatkan nyawa kita, terhindar dari angin badai atau bebas dari nasib terjepit diantara ranting dan tangkai yang bergesekan nakal.