Metamorfosis,
kawan. Telur kecil yang menjijikkan, seekor ulat jelek yang rakus
memamah daun hingga babas bingkas kemudian bertapa dalam kantong
tergantung kemudian mengepak sayap basah hingga menyadari diri cantik
rupanya. Itu kupu-kupu, kawan.
Tak
ubahnya seperti kita. Saat kecil kita tak lebih dari seorang anak yang
tak terlalu peduli soal mode busana (zaman sekarang sih sudah mulai
beda) menyerahkan pada sang ibu untuk urusan mix and match busana, cuek
saja melenggang dengan pakaian seadanya, tak butuh banyak assesori di
jari, pinggang, tubuh dan wajah, tak peduli dengan carut-marut dunia
politik atau ekonomi bangsa yang kembang-kempis. Tapi itu dulu, saat
dunia kita hanya bermain saja ingatnya.
| Kepompong-Kupu-Kupu |
Kemudian kita
berada pada tahap rakus. Memamah segala mimpi-mimpi yang bisa direngkuh.
Meraup segala kesempatan yang mungkin dijajal. Menelikung segala aral
melintang. Babas bingkas lintang pukang menyalib segala coba yang
menerpa. Itu masa muda, kawan. Seperti katanya bung Rhoma Irama "Masa
muda masa yang berapi-api"
Sedikit
dewasa, kita akan dituntut berdamai dengan nasib hidup, menjadi
kepompong yang mempelajari indahnya menerima, memahami, dan bergantung
pada tangan-tangan penuh kasih dan pelindung, berdoa dan berharap ikatan
itu cukup kuat untuk menyelamatkan nyawa kita, terhindar dari angin
badai atau bebas dari nasib terjepit diantara ranting dan tangkai yang
bergesekan nakal.
Namun
pada akhirnya nanti kita akan sampai (semoga) pada tahap dimana kita
merasa cukup dengan apa yang dipunya. Kita akan berada di titik dimana
hidup kita mestilah diterima bagaimanapun keadaannya. Pada titik ini
kita akan menjadi kupu-kupu yang merasa cantik selegam apapun sayap yang
dipunya. Merasa tinggi serendah apapun bunga yang dihinggapi. Merasa
diberkahi se-sebentar apapun sisa hidup yang akan dijalani dan merasa
ikhlas untuk pasrah.
Dan, kita kawan,
KITA adalah mahkluk-mahkluk yang selalu harus menyimak bagian-bagian
metamorfosis ini. Dan mungkin, aku, kamu, dia, kita kini masih berada
pada tahap jelma seperti si ulat jelek yang rakus itu atau mungkin pula
kita sedang menuju tahap menjadi kepompong yang harus berdamai dengan
nasib dan takdir. Tapi pada akhirnya, smeoga kita akan menjadi kupu-kupu
yang cantik apa adanya, keluar tersenyum penuh kemenangan dari rumah
kepompong yang selamat tak luruh diterbangkan angin atau tergencet
benda-benda nakal kehidupan.Bersyukur penuh hati bahwa kita adalah
orang-orang beruntung yang istimewa.
Well, speaking of which... melihat
metamorfosis-mu (Mu refers to someone) menggelitikku untuk tertawa...
wow! metamorfosis yang menggelitik dan sekaligus mengundang decak
kagum... ck ck ck ck... hihihi (iseng amat isi paragraf ini ).
No comments:
Post a Comment