Wednesday, July 8, 2015

Rumah: Sebuah Tahapan Hidup (End)

Berjuang, Berjuang! Saya dan suami mulai pindah ke rumah, yang saya namakan The Bluish Earth, sekitar seminggu sebelum Idul Adha tahun 2014 lalu. Saat itu bahkan keseluruhan bagian rumah belumlah rampung. Tapi rasanya saya excited sekali untuk mulai menempati rumah baru, bahkan ketika tukang masih mengerjakan beberapa bagian. 'memanglah seperti itu biasanya. Kebahagiaan memeiliki hunian sendiri memang beda. Bahkan ketika belum rampung-pun sudah tak lagi tahan untuk segera ditempati" demikian kata Ummi saya ketika itu. Ajaibnya, itu semua benar. ^_^ Saya, Ummi, Ayah juga sang suami bahkan ikut mengerjakan beberapa hal yang bisa dilakukan, seperti ikut mengecat lisplang atap rumah, membongkar papan-papan dan tiang-tiang penyangga cor-an, merapikan sana-sini, mempernis kusen-kusen jendela dan hal-hal yang dapat saya lakukan lainnya. Tak salah lagi, karna kami ingin mempercepat usainya pekerjaan agar dapat pindah segera.Selama proses pembangunan berlangsung, saban hari say menyempatkn diri untuk melihat ke lokasi, entah itu untuk mengantar makanan dan kopi untuk para pekerja, atau bahkan hanya untuk sekedar melihat-lihat. Aih, ketika dinding batako baru naik setengahnya saja saya sudah membayangkan bagaimana nanti kami akan tinggal di dalamnya. Saya seringkali tersenyum-senyum sendiri ketika itu. ^_^Lalu, tak salah rasanya ketika ada orang-orang yang begitu meremehkan huniaan kami, menganggap segalanya tak ada yang bagus dimata mereka, saya tersedu. Suatu ketika ada yang menyebut ruang shalat, yang kala itu bahkan lantai pun belum jadi, sebagai kamar gelap. Mak jleb!!! saya hanya menahan pilu. Dalam hati saya berkata 'kalau tidak tahu apa-apa, sebaiknya tidak usah berkomentar'. Tapi kalimat itu saya telan saja. Di saat lain, ada yang berkomentar 'kenapa catnya biru, kok gak disamain dengan warna lantai. Kayak rumah kami itu loh' atau 'Wah. ini gak rapi ya yang ngerjain bla bla bla' atau 'sempit ya rumahnya' atau 'Lantainya gak rata, gak bagus' atau banyak bla bla bla yang lain dan pandangan sinis lainnya. Sedihkah saya? Ooohhh... saya sempat menangis bahkan. Ibarat rumput, kami baru mau belajar tumbuh lalu tiba-tiba ada yang sengaja menyiram bennsin dan menginjak-injak rumput itu. Saya, khusunya, terluka, sakit hati, menangis. Ah tapi sudahlah, sekali lagi Ummi saya bilang 'Dunia bukan milik kita, tidak selamanya seperti yang kita mau'. Saya pun tersenyum lagi dan belajar memaafkan. Bagi saya toh yang berkomentar miring juga beranjak hidup dari bawah, bahkan kami beruntung karena di usia pernikahan yang barulah satu tahun, kami sudah mempunyai hunian sendiri. Tak perlu mengandalkan orang tua dan mengharap warisan rumah, atau mengharap rumah dinas, atau luntang-lantung jadi 'kontraktor'. Itu juga yang pernah disampaikan kepala sekolah tempat suami saya mengajar di hari Udul adha tahun lalu' "Banyak-banyak bersykur ya. Kalian masih muda, baru menikah, sudah bisa membangun rumah. Bapak saja anak sudah besar-besar baru bisa punya rumah sendiri. Awalnya santai, santai, tiba-tiba anak-anak sudah mulai besar. Agak terlena sebelumnya'. Sungguh, ucapan beliau sangat membesarkan hati saya dan suami. Alhamdullillah. Kini, saya tak lagi terlalu ambil using komentar orang-orang, toh ini rumah kami, kami yang menempatinya, kami yang berjuang untuk rumah ini dan kami bahagia di dalamnya. Mau bilang apa??? HheheheheWell, memiliki rumah sendiri tentu menjadi impian semua pasangan yang telah menikah, apalagi yang telah beranak pinak. Semoga sekelumit kisah yang saya ceritakan bisa menularkan semangat untuk mandiri. Tulisan ini juga sekaligus menjawab request dari beberapa teman yang ingin tahu tentang bangunan yang berdiri di tanah kavlingan reguler ini. Semoa bisa membantu untuk yang butuh inspirasi desain rumah minimalis ya. ^_^ Oh ya, arsiteknya Ummi saya sendiri loh. Hihihihi. Semoga bermanfaat, teman. Bagi yang sedang atau baru akan berjuang, semangat ya!"Dunia Bukan Milik Kita, Tidak Selamanya Seperti Yang Kita Mau" - Ummi

Sunday, July 5, 2015

Resep: Lumpia Basah

Beberapa hari lalu saya memasak di dapur untuk menu berbuka puasa. Waktu ngintip ke lemari es, saya melihat ada udang dan tauge, jadi deh kefikiran membuat Lumpia Basah. Pas udah jadi.... hmmmmm dap! Krenyes-krenyes taugenya memberikan aksen rasa yang segar. Pas pula di cocol saus sambal yang nampolll abiiissss...... nyam!
Saya coba share resep Lumpia Basah ala saya ya. Silahkan dicoba.... ^_^





Bahan Kulit

1 butir telur ayam
7 sdm tepung terigu
+ 150 cc air matang
1 sdm minyak goreng
1/2 sdt garam
1/2 sdt lada bubuk
Margarin secukupnya (untuk olesan di wajan)

Bahan Isi

100 gr udang, bersihkan kepala, ekor dan kulitnya, lalu cincang kasar
50 gr tauge, buang akarnya
1 buah kentang ukuran sedang,  potong dadu
50 gr bihun, celor dengan air panas, saring.
1 buah tomat, potong dadu
1 ikat daun seledri, potong kasar
Daun bawang secukupnya, cincang kasar

Bumbu yang di haluskan
10-15 butir lada
6 siung bawang merah
3 siung bawang putih
Satu ruas jahe
Sejumput garam
Kaldu bubuk, jika suka



Cara memasak:

-Kulit Lumpia/ Lumpia

1. Kocok telur di dalam mangkuk besar
2. Masukkan terigu, aduk-aduk sambil ditambahkan air sedikit demi sedikit, hingga larut. Masukkan garam dan lada serta minyak. Aduk-aduk hingga tercampur rata hingga menjadi adonan yang bagus.
3. Panaskan wajan anti lengket(diameter 20 cm), olesi dengan margarin. Tuang 1 sendok sayur adonan, lalu ratakan.
4. Biarkan adonan matang, lalu angkat. Adonan tidak perlu dibalik.
5. Lakukan hal yang sama hingga adonan kulit lumpia habis. Sisihkan.


- Isian
1. Tumis bumbu halus hingga harum, lalu masukkan kentang, tumis hingga kentang empuk.
2. Masukkan udang, tumis hingga  matang, lalu masukkan bihun, tomat dan daun bawang. Aduk-aduk hingga rata. Matikan api kompor.
3. Sebelum diangkat dari kompor, masukkan tauge dan daun seledri. Aduk hingga rata. Sisihkan.

Membuat Lumpia.
1. Siapkan satu lembar kulit lumpia, isi dengan bahan isian di pinggir, lalu gulung hingga ke tengah kulit.
2. Lipat bagian kanan dan kiri kulit ke tengah, lalu lipat lagi kulit lumpia hinggu tertutup dengan rapi. Lakukan hingga kulit lumpia habis.

3. Lumpia basah siap disajikan. Lengkapi penyajian dengan saus sambal dan saus tomat.








Rumah, Sebuah Tahapan Hidup (Part 2)

Suka Duka pasangan muda di Kontrakan

Dimana kami tinggal sebelumnya?
Kontrakan. Kontrakan milik Ayah-Ummi saya. Ooooo..... Gratis kan?? Tidak! Bayar, perbulan! Ha??? Loh???
Yup. Jika teman-teman kaget sih wajar. Karena mind set kebanyakan orang adalah (1). Jika orang tuamu memiliki 3 apalagi 5 rumah kontrakan, tidak mungkin kamu harus membayar jika tinggal disana atau (2). Ah, pastilah nanti kamu tinggal disana, rumahnya buatmu, tinggal renovasi saja jika mau. 
Jika hal seperti itu yang ada di benak teman-teman, maka sayang sekali, teman-teman salah. ^_^
1 minggu setelah menikah, saya ikut suami yang sedang proses s2 di Malang, tinggal bersamanya di kos-kosannya selama 1 minggu. Lalu, saya kembali ke Pangkalpinang dan tinggal bersama orang tua saya dan juga adik laki-laki saya satu-satunya selama kurang lebih 3 minggu. Setelahnya, saya sampaikan bahwa saya ingin ngontrak, hidup mandiri. Ayah Umi saya jelas keberatan.

Memang, kakak perempuan saya bahkan hanya 1 minggu tinggal di rumah orang tua kami, setelahnya mereka ngontrak di salah satu kontrakan orang tua saya (yang nantinya menjadi rumah kontrakan tempat kami tinggal juga) tapi itu karena kondisinya berbeda. Saat itu saya (yang masih gadis, belum menikah) juga tinggal di rumah yang sama, maka wajar jika kakak saya dan suaminya hanya tinggal sebentar di rumah orang tua kami (hanya ada 1 kamar anak gadis di rumah orang tua kami, 1 kamar anak laki-laki dan 1 kamar tidur orang tua). Tapi saya tetap ingin ngontrak sendiri, meskipun orang tua juga punya argumen tambahan bahwa suami saya juga jauh, di Malang, maka saya pasti akan tinggal sendirian juga di kontrakan, ngapain?. Tapi saya tetap ingin ngontrak. Well, orang tua saya mengerti karena bagaimanapun setelah menikah kehidupan akan berbeda, tapi tetap saja keberatan.

Kehidupan setelah menikah pasti berubah, ritmenya, tanggung jawabnya, dan lain-lain. Contohnya, jika biasanya saya masak untuk keluarga saja, maka setelah menikah saya juga harus melayani suami. Selera berbeda, maka masakan juga seharusnya berbeda. Ayah Umi tidak ngopi, suami terbiasa ngopi saat sarapan. Jika biasanya saya bisa bebas di rumah tanpa malu-malu, ah rasanya setelah menikah, hidup di rumah yang sama dengan orang tua dan adik laki-laki, saya menjadi malu, bukan apa-apa, tapi yaaaaa you know what I mean. Ha ha ha.... yup, masa iya saya mesra-mesraan di depan ayah yang lagi nonton tv, atau pas adek lewat di depan kamar? Atau misalnya jika suami masih ingin bangun malas-malasan di hari libur, sementara ayah sudah mulai nyapu halaman dan adik sudah mulai buka jendela (itu jadi tugas ayah dan adik di rumah), masa iya harus tetep malas-malasan di kamar. No no no! intinya setelah menikah, hidup pasti akan mengalami perubahan, yang tadi saya sebutkan hanya sebagiannya saja. Tidak lagi tentang saya, tapi tentang kita. Tidak lagi hanya orang tua, tapi ada suami yang menjadi lebih berhak mendapatkan pengabdian seoarang wanita, dan sebagainya. Maka, singkat kata saya mulai ngontrak di kontrakan orang tua, dengan biaya 800 ribu per bulan (kontrakan 2 kamar, 1 kamar mandi, ruang tamu, ruang keluarga dan dapur). 

Ngontrak di rumah ortu, bayar Dee???????
Yoa, maaannn.... 800 reben per bulan. Pertama-tama, kami membayar untuk 3 bulan pertama,  lalu uangnya kembali pada kami dalam bentuk lemari penyimpanan makanan dan meja makan senagai hadiah dari orang tua. Lalu beberapa bulan berikutnya uangnya ternyata dikembalikan kepada kami untuk tambahan biaya perjalanan ke Malang untuk wisuda suami. Ha ha ha.... asyik kan?

Kenapa Bayar? Banyak yang komplain memang. "Kok bayar?" atau "Masa sama anak sendiri ditarik bayaran" dan lain-lain. Tapi, itulah cara orang tua mendidik kami untuk mandiri. Cara yang tidak sama dengan kebanyakan orang, mungkin, tapi sungguh benar bagi kami. "Biar kalian cepat kaya" ujar Ummi suatu ketika. "Ketika bayar, kalian akan merasa keberatan untuk mengeluarkan uang kontrakan per-bulan. Dengan begitu kalian akan lebih giat bekerja, nabung dan punya keinginan kuat untuk punya rumah sendiri. Biar kalian tidak loyo dan manja" begitu kata beliau. Dan itu benar adanya. Bukankah saat dalam keadaan sulit, manusia cenderung lebih kuat, lebih hemat, lebih tegar, lebih termotivasi. Tak heran jika sampai ada buku The Power of Kepepet, kan? Namun ketika hidup dimanja-manja,  manusia cenderung terlena. Dan sekali lagi, Ummi saya benar. Orang tua saya benar. Itu sesungguhnya doa. 

Hidup di kontrakan setelah menikah memang lebih 'bebas' daripada hidup serumah dengan orang tua. Suami begadang nonton piala dunia sampai subuh-pun tak masalah. Paginya nyambung tidur-pun tak perlu malu-malu. Suami membantu nyuci pakaian-pun tak perlu sungkan. Mau pacaran pun tak lagi malu-malu. Pengen jalan-jalan malam Minggu, pulang diatas jam 10-an pun tak perlu takut membangunkan orang tua atau adik yang sudah tidur. Istri masak makanan pun bebas. Suami tak menyukai makanan pedas, sementara Ummi penyuka makanan pedas dan Ayah yang biasanya ingin selalu ada sambal ketika makan, tak jadi soal. Win-win solution! Meski demikian, kami tetap seringkali mengantar hasil masakan untuk orang tua dan mertua, atau sebaliknya, saya ke rumah orang tua buat nyari cemilan dan makanan yang bisa saya bawa pulang. Kalau Ummi membuat kue atau makanan lain, kami selalu kebagian. Ha ha ha ha..... Ada yang mau protes??? silahkan saja. Karena meski dijelaskan-pun masih tetap ada yang tidak setuju. Yang setuju berkata "Oooh... iya juga yah. Benar juga orang tuamu" dan yang tidak setuju tetap akan nyinyir. Let it be.

Jadi, bagi pasangan yang baru menikah, jangan takut untuk hidup mandiri. Jangan khawatir gak mampu bayar kontrakan (selama manejemen keuangan diatur dengan baik dan gaya hidup tidak mewah-mewahan) setelah menikah. Trust me, hidup ngontrak itu jauh lebih baik daripada menjadi beban orang tua. Ngontrak itu jauh lebih baik daripada bermanja-mana di rumah orang tua atau mertua, hingga ketika tersadar anak-anak sudah beranjak besar, sementara hunian belum punya.  Seringkali, tak peduli seberapa banyak hal yang anda lakukan untuk merenovasi rumah orang tua, tetaplah rumah itu akan berlabel ‘rumah orangtua’. Tak peduli seberapa banyak kendaraan yang anda miliki, jika belum mempunyai hunian sendiri, anda masih tetap bertanya dalam hati tentang hunian milik anda sendiri. Tak peduli besar atau kecil, mewah atau sederhana, di kota besar atau di pinggiran desa, rumah akan selalu  menjadi bagian dari impian hidup berumah tangga, karena rumah akan selalu menjadi tempat kita kembali.
Jika pasangan yang baru menikah sudah cukup mapan, biasanya banyak yang terlena, keenakan tinggal di pondk mertua atau orang tua indah, kan? Oleh karenanya, semoga tulisan ini menginspirasi pasangan-pasangan atau keluarga-keluarga yang belum memiliki hunian pribadi. Yuk, tetap semangat mempersiapkan rencana untuk memiliki hunian sendiri. ^_^ Semangat!!!