Suka Duka pasangan
muda di Kontrakan
Dimana kami tinggal sebelumnya?
Kontrakan. Kontrakan milik Ayah-Ummi saya. Ooooo.....
Gratis kan?? Tidak! Bayar, perbulan! Ha??? Loh???
Yup. Jika teman-teman kaget sih wajar. Karena mind set
kebanyakan orang adalah (1). Jika orang tuamu memiliki 3 apalagi 5 rumah kontrakan,
tidak mungkin kamu harus membayar jika tinggal disana atau (2). Ah, pastilah
nanti kamu tinggal disana, rumahnya buatmu, tinggal renovasi saja jika
mau.
Jika hal seperti itu yang ada di benak teman-teman,
maka sayang sekali, teman-teman salah. ^_^
1 minggu setelah menikah, saya ikut suami yang sedang
proses s2 di Malang, tinggal bersamanya di kos-kosannya selama 1 minggu. Lalu,
saya kembali ke Pangkalpinang dan tinggal bersama orang tua saya dan juga adik
laki-laki saya satu-satunya selama kurang lebih 3 minggu. Setelahnya, saya
sampaikan bahwa saya ingin ngontrak, hidup mandiri. Ayah Umi saya jelas
keberatan.
Memang, kakak perempuan saya bahkan hanya 1 minggu
tinggal di rumah orang tua kami, setelahnya mereka ngontrak di salah satu
kontrakan orang tua saya (yang nantinya menjadi rumah kontrakan tempat kami
tinggal juga) tapi itu karena kondisinya berbeda. Saat itu saya (yang masih
gadis, belum menikah) juga tinggal di rumah yang sama, maka wajar jika kakak
saya dan suaminya hanya tinggal sebentar di rumah orang tua kami (hanya ada 1
kamar anak gadis di rumah orang tua kami, 1 kamar anak laki-laki dan 1 kamar
tidur orang tua). Tapi saya tetap ingin ngontrak sendiri, meskipun orang tua
juga punya argumen tambahan bahwa suami saya juga jauh, di Malang, maka saya
pasti akan tinggal sendirian juga di kontrakan, ngapain?. Tapi saya tetap ingin
ngontrak. Well, orang tua saya mengerti karena bagaimanapun setelah menikah
kehidupan akan berbeda, tapi tetap saja keberatan.
Kehidupan setelah menikah pasti berubah, ritmenya,
tanggung jawabnya, dan lain-lain. Contohnya, jika biasanya saya masak untuk
keluarga saja, maka setelah menikah saya juga harus melayani suami. Selera
berbeda, maka masakan juga seharusnya berbeda. Ayah Umi tidak ngopi, suami
terbiasa ngopi saat sarapan. Jika biasanya saya bisa bebas di rumah tanpa
malu-malu, ah rasanya setelah menikah, hidup di rumah yang sama dengan orang
tua dan adik laki-laki, saya menjadi malu, bukan apa-apa, tapi yaaaaa you know
what I mean. Ha ha ha.... yup, masa iya saya mesra-mesraan di depan ayah yang
lagi nonton tv, atau pas adek lewat di depan kamar? Atau misalnya jika suami
masih ingin bangun malas-malasan di hari libur, sementara ayah sudah mulai nyapu
halaman dan adik sudah mulai buka jendela (itu jadi tugas ayah dan adik di
rumah), masa iya harus tetep malas-malasan di kamar. No no no! intinya setelah
menikah, hidup pasti akan mengalami perubahan, yang tadi saya sebutkan hanya
sebagiannya saja. Tidak lagi tentang saya, tapi tentang kita. Tidak lagi hanya
orang tua, tapi ada suami yang menjadi lebih berhak mendapatkan pengabdian
seoarang wanita, dan sebagainya. Maka, singkat kata saya mulai ngontrak di
kontrakan orang tua, dengan biaya 800 ribu per bulan (kontrakan 2 kamar, 1 kamar
mandi, ruang tamu, ruang keluarga dan dapur).
Ngontrak di rumah ortu, bayar Dee???????
Yoa, maaannn.... 800 reben per bulan. Pertama-tama,
kami membayar untuk 3 bulan pertama, lalu uangnya kembali pada kami dalam
bentuk lemari penyimpanan makanan dan meja makan senagai hadiah dari orang tua.
Lalu beberapa bulan berikutnya uangnya ternyata dikembalikan kepada kami untuk
tambahan biaya perjalanan ke Malang untuk wisuda suami. Ha ha ha.... asyik kan?
Kenapa Bayar? Banyak yang komplain memang. "Kok
bayar?" atau "Masa sama anak sendiri ditarik bayaran" dan
lain-lain. Tapi, itulah cara orang tua mendidik kami untuk mandiri. Cara yang
tidak sama dengan kebanyakan orang, mungkin, tapi sungguh benar bagi kami.
"Biar kalian cepat kaya" ujar Ummi suatu ketika. "Ketika bayar,
kalian akan merasa keberatan untuk mengeluarkan uang kontrakan per-bulan.
Dengan begitu kalian akan lebih giat bekerja, nabung dan punya keinginan kuat
untuk punya rumah sendiri. Biar kalian tidak loyo dan manja" begitu kata
beliau. Dan itu benar adanya. Bukankah saat dalam keadaan sulit, manusia
cenderung lebih kuat, lebih hemat, lebih tegar, lebih termotivasi. Tak heran
jika sampai ada buku The Power of Kepepet, kan? Namun ketika hidup
dimanja-manja, manusia cenderung terlena. Dan sekali lagi, Ummi saya
benar. Orang tua saya benar. Itu sesungguhnya doa.
Hidup di kontrakan setelah menikah memang lebih
'bebas' daripada hidup serumah dengan orang tua. Suami begadang nonton piala
dunia sampai subuh-pun tak masalah. Paginya nyambung tidur-pun tak perlu
malu-malu. Suami membantu nyuci pakaian-pun tak perlu sungkan. Mau pacaran pun
tak lagi malu-malu. Pengen jalan-jalan malam Minggu, pulang diatas jam 10-an
pun tak perlu takut membangunkan orang tua atau adik yang sudah tidur. Istri
masak makanan pun bebas. Suami tak menyukai makanan pedas, sementara Ummi penyuka
makanan pedas dan Ayah yang biasanya ingin selalu ada sambal ketika makan, tak
jadi soal. Win-win solution! Meski demikian, kami tetap seringkali mengantar
hasil masakan untuk orang tua dan mertua, atau sebaliknya, saya ke rumah orang
tua buat nyari cemilan dan makanan yang bisa saya bawa pulang. Kalau Ummi
membuat kue atau makanan lain, kami selalu kebagian. Ha ha ha ha..... Ada yang
mau protes??? silahkan saja. Karena meski dijelaskan-pun masih tetap ada yang
tidak setuju. Yang setuju berkata "Oooh... iya juga yah. Benar juga orang
tuamu" dan yang tidak setuju tetap akan nyinyir. Let it be.
Jadi, bagi pasangan yang baru menikah, jangan takut
untuk hidup mandiri. Jangan khawatir gak mampu bayar kontrakan (selama
manejemen keuangan diatur dengan baik dan gaya hidup tidak mewah-mewahan)
setelah menikah. Trust me, hidup ngontrak itu jauh lebih baik daripada menjadi
beban orang tua. Ngontrak itu jauh lebih baik daripada bermanja-mana di rumah
orang tua atau mertua, hingga ketika tersadar anak-anak sudah beranjak besar,
sementara hunian belum punya. Seringkali, tak peduli seberapa banyak hal
yang anda lakukan untuk merenovasi rumah orang tua, tetaplah rumah itu akan
berlabel ‘rumah orangtua’. Tak peduli seberapa banyak kendaraan yang anda
miliki, jika belum mempunyai hunian sendiri, anda masih tetap bertanya dalam
hati tentang hunian milik anda sendiri. Tak peduli besar atau kecil, mewah atau
sederhana, di kota besar atau di pinggiran desa, rumah akan selalu menjadi bagian dari impian hidup berumah
tangga, karena rumah akan selalu menjadi tempat kita kembali.
Jika pasangan yang baru menikah sudah cukup mapan, biasanya banyak yang terlena, keenakan tinggal di pondk mertua atau orang tua indah, kan? Oleh karenanya, semoga tulisan ini menginspirasi pasangan-pasangan atau keluarga-keluarga yang belum memiliki hunian pribadi. Yuk, tetap semangat mempersiapkan
rencana untuk memiliki hunian sendiri. ^_^ Semangat!!!