Monday, August 3, 2015

MOS SIMPATIK, sebuah pilot project dari HOPE Project

HOPE PROJECT
Pada 28 hingga 30 Juli tadi saya akhirnya bisa mengadakan kegiatan perdana HOPE Project. HOPE Project adalah sebuah project sosial-pendidikan yang ingin saya kembangkan dengan melibatkan pemuda-pemudi Pangkalpinang dan Bangka Belitung berbasis voluntary atau sukarela. Pilot Project yang HOPE gelar adalah MOS SIMPATIK atau Masa Orientasi SIMPATIK (Bersahabat, informatif, Apresiatif, Kreatif dan Edukatif) yang bekerjasama dengan sekolah mitra MTsN Pangkalpinang, yang kebetulan juga merupakan tempat saya bekerja. 

Sebagai project berbasis voluntary, saya tentu melibatkan beberapa relawan. Alhamdulillah, para relawan ini tertarik untuk bergabung setelah saya posting sebuah pemberitahuan tentang pencarian volunteer di akun FB saya. Maka, sembilan (9) pemuda-pemudi hebat Bangka terkumpul (2 orang lagi yang mendaftar di last minute terpaksa belum dapat dilibatkan karena memang kuota relawan yang dibutuhkan telah terpenuhi, Maafkan saya ya....) yang berasal dari beberapa kampus dan kalangan. Ada seorang mahasiswa UBB, Unigraha, mahasiswa STAIN SAS Babel, Lastari, Mega, Muslimin dan Mustika, mahasiswa UIN Gunung Djati, Ghazi, Mahasiswa University of Malaya yang sedang libur pulang ke Pangkalpinang, Tyas, alumni STAIN SAS Babel yang juga seorang pendidik di Selective Pangkalpinang, Ari Yuzandi, dan alumni Pertukaran Pemuda Indonesia-Kanada, Ayim. Maka jadilah saya dan 9 orang relawan penuh semangat ini bekerjasama dengan panitia Masa Orientasi Madrasah MTs Negeri Pangkalpinang untuk menyelenggarakan kegiatan MOS/MOM dengan konsep baru.

Wednesday, July 8, 2015

Rumah: Sebuah Tahapan Hidup (End)

Berjuang, Berjuang! Saya dan suami mulai pindah ke rumah, yang saya namakan The Bluish Earth, sekitar seminggu sebelum Idul Adha tahun 2014 lalu. Saat itu bahkan keseluruhan bagian rumah belumlah rampung. Tapi rasanya saya excited sekali untuk mulai menempati rumah baru, bahkan ketika tukang masih mengerjakan beberapa bagian. 'memanglah seperti itu biasanya. Kebahagiaan memeiliki hunian sendiri memang beda. Bahkan ketika belum rampung-pun sudah tak lagi tahan untuk segera ditempati" demikian kata Ummi saya ketika itu. Ajaibnya, itu semua benar. ^_^ Saya, Ummi, Ayah juga sang suami bahkan ikut mengerjakan beberapa hal yang bisa dilakukan, seperti ikut mengecat lisplang atap rumah, membongkar papan-papan dan tiang-tiang penyangga cor-an, merapikan sana-sini, mempernis kusen-kusen jendela dan hal-hal yang dapat saya lakukan lainnya. Tak salah lagi, karna kami ingin mempercepat usainya pekerjaan agar dapat pindah segera.Selama proses pembangunan berlangsung, saban hari say menyempatkn diri untuk melihat ke lokasi, entah itu untuk mengantar makanan dan kopi untuk para pekerja, atau bahkan hanya untuk sekedar melihat-lihat. Aih, ketika dinding batako baru naik setengahnya saja saya sudah membayangkan bagaimana nanti kami akan tinggal di dalamnya. Saya seringkali tersenyum-senyum sendiri ketika itu. ^_^Lalu, tak salah rasanya ketika ada orang-orang yang begitu meremehkan huniaan kami, menganggap segalanya tak ada yang bagus dimata mereka, saya tersedu. Suatu ketika ada yang menyebut ruang shalat, yang kala itu bahkan lantai pun belum jadi, sebagai kamar gelap. Mak jleb!!! saya hanya menahan pilu. Dalam hati saya berkata 'kalau tidak tahu apa-apa, sebaiknya tidak usah berkomentar'. Tapi kalimat itu saya telan saja. Di saat lain, ada yang berkomentar 'kenapa catnya biru, kok gak disamain dengan warna lantai. Kayak rumah kami itu loh' atau 'Wah. ini gak rapi ya yang ngerjain bla bla bla' atau 'sempit ya rumahnya' atau 'Lantainya gak rata, gak bagus' atau banyak bla bla bla yang lain dan pandangan sinis lainnya. Sedihkah saya? Ooohhh... saya sempat menangis bahkan. Ibarat rumput, kami baru mau belajar tumbuh lalu tiba-tiba ada yang sengaja menyiram bennsin dan menginjak-injak rumput itu. Saya, khusunya, terluka, sakit hati, menangis. Ah tapi sudahlah, sekali lagi Ummi saya bilang 'Dunia bukan milik kita, tidak selamanya seperti yang kita mau'. Saya pun tersenyum lagi dan belajar memaafkan. Bagi saya toh yang berkomentar miring juga beranjak hidup dari bawah, bahkan kami beruntung karena di usia pernikahan yang barulah satu tahun, kami sudah mempunyai hunian sendiri. Tak perlu mengandalkan orang tua dan mengharap warisan rumah, atau mengharap rumah dinas, atau luntang-lantung jadi 'kontraktor'. Itu juga yang pernah disampaikan kepala sekolah tempat suami saya mengajar di hari Udul adha tahun lalu' "Banyak-banyak bersykur ya. Kalian masih muda, baru menikah, sudah bisa membangun rumah. Bapak saja anak sudah besar-besar baru bisa punya rumah sendiri. Awalnya santai, santai, tiba-tiba anak-anak sudah mulai besar. Agak terlena sebelumnya'. Sungguh, ucapan beliau sangat membesarkan hati saya dan suami. Alhamdullillah. Kini, saya tak lagi terlalu ambil using komentar orang-orang, toh ini rumah kami, kami yang menempatinya, kami yang berjuang untuk rumah ini dan kami bahagia di dalamnya. Mau bilang apa??? HheheheheWell, memiliki rumah sendiri tentu menjadi impian semua pasangan yang telah menikah, apalagi yang telah beranak pinak. Semoga sekelumit kisah yang saya ceritakan bisa menularkan semangat untuk mandiri. Tulisan ini juga sekaligus menjawab request dari beberapa teman yang ingin tahu tentang bangunan yang berdiri di tanah kavlingan reguler ini. Semoa bisa membantu untuk yang butuh inspirasi desain rumah minimalis ya. ^_^ Oh ya, arsiteknya Ummi saya sendiri loh. Hihihihi. Semoga bermanfaat, teman. Bagi yang sedang atau baru akan berjuang, semangat ya!"Dunia Bukan Milik Kita, Tidak Selamanya Seperti Yang Kita Mau" - Ummi

Sunday, July 5, 2015

Resep: Lumpia Basah

Beberapa hari lalu saya memasak di dapur untuk menu berbuka puasa. Waktu ngintip ke lemari es, saya melihat ada udang dan tauge, jadi deh kefikiran membuat Lumpia Basah. Pas udah jadi.... hmmmmm dap! Krenyes-krenyes taugenya memberikan aksen rasa yang segar. Pas pula di cocol saus sambal yang nampolll abiiissss...... nyam!
Saya coba share resep Lumpia Basah ala saya ya. Silahkan dicoba.... ^_^





Bahan Kulit

1 butir telur ayam
7 sdm tepung terigu
+ 150 cc air matang
1 sdm minyak goreng
1/2 sdt garam
1/2 sdt lada bubuk
Margarin secukupnya (untuk olesan di wajan)

Bahan Isi

100 gr udang, bersihkan kepala, ekor dan kulitnya, lalu cincang kasar
50 gr tauge, buang akarnya
1 buah kentang ukuran sedang,  potong dadu
50 gr bihun, celor dengan air panas, saring.
1 buah tomat, potong dadu
1 ikat daun seledri, potong kasar
Daun bawang secukupnya, cincang kasar

Bumbu yang di haluskan
10-15 butir lada
6 siung bawang merah
3 siung bawang putih
Satu ruas jahe
Sejumput garam
Kaldu bubuk, jika suka



Cara memasak:

-Kulit Lumpia/ Lumpia

1. Kocok telur di dalam mangkuk besar
2. Masukkan terigu, aduk-aduk sambil ditambahkan air sedikit demi sedikit, hingga larut. Masukkan garam dan lada serta minyak. Aduk-aduk hingga tercampur rata hingga menjadi adonan yang bagus.
3. Panaskan wajan anti lengket(diameter 20 cm), olesi dengan margarin. Tuang 1 sendok sayur adonan, lalu ratakan.
4. Biarkan adonan matang, lalu angkat. Adonan tidak perlu dibalik.
5. Lakukan hal yang sama hingga adonan kulit lumpia habis. Sisihkan.


- Isian
1. Tumis bumbu halus hingga harum, lalu masukkan kentang, tumis hingga kentang empuk.
2. Masukkan udang, tumis hingga  matang, lalu masukkan bihun, tomat dan daun bawang. Aduk-aduk hingga rata. Matikan api kompor.
3. Sebelum diangkat dari kompor, masukkan tauge dan daun seledri. Aduk hingga rata. Sisihkan.

Membuat Lumpia.
1. Siapkan satu lembar kulit lumpia, isi dengan bahan isian di pinggir, lalu gulung hingga ke tengah kulit.
2. Lipat bagian kanan dan kiri kulit ke tengah, lalu lipat lagi kulit lumpia hinggu tertutup dengan rapi. Lakukan hingga kulit lumpia habis.

3. Lumpia basah siap disajikan. Lengkapi penyajian dengan saus sambal dan saus tomat.








Rumah, Sebuah Tahapan Hidup (Part 2)

Suka Duka pasangan muda di Kontrakan

Dimana kami tinggal sebelumnya?
Kontrakan. Kontrakan milik Ayah-Ummi saya. Ooooo..... Gratis kan?? Tidak! Bayar, perbulan! Ha??? Loh???
Yup. Jika teman-teman kaget sih wajar. Karena mind set kebanyakan orang adalah (1). Jika orang tuamu memiliki 3 apalagi 5 rumah kontrakan, tidak mungkin kamu harus membayar jika tinggal disana atau (2). Ah, pastilah nanti kamu tinggal disana, rumahnya buatmu, tinggal renovasi saja jika mau. 
Jika hal seperti itu yang ada di benak teman-teman, maka sayang sekali, teman-teman salah. ^_^
1 minggu setelah menikah, saya ikut suami yang sedang proses s2 di Malang, tinggal bersamanya di kos-kosannya selama 1 minggu. Lalu, saya kembali ke Pangkalpinang dan tinggal bersama orang tua saya dan juga adik laki-laki saya satu-satunya selama kurang lebih 3 minggu. Setelahnya, saya sampaikan bahwa saya ingin ngontrak, hidup mandiri. Ayah Umi saya jelas keberatan.

Memang, kakak perempuan saya bahkan hanya 1 minggu tinggal di rumah orang tua kami, setelahnya mereka ngontrak di salah satu kontrakan orang tua saya (yang nantinya menjadi rumah kontrakan tempat kami tinggal juga) tapi itu karena kondisinya berbeda. Saat itu saya (yang masih gadis, belum menikah) juga tinggal di rumah yang sama, maka wajar jika kakak saya dan suaminya hanya tinggal sebentar di rumah orang tua kami (hanya ada 1 kamar anak gadis di rumah orang tua kami, 1 kamar anak laki-laki dan 1 kamar tidur orang tua). Tapi saya tetap ingin ngontrak sendiri, meskipun orang tua juga punya argumen tambahan bahwa suami saya juga jauh, di Malang, maka saya pasti akan tinggal sendirian juga di kontrakan, ngapain?. Tapi saya tetap ingin ngontrak. Well, orang tua saya mengerti karena bagaimanapun setelah menikah kehidupan akan berbeda, tapi tetap saja keberatan.

Kehidupan setelah menikah pasti berubah, ritmenya, tanggung jawabnya, dan lain-lain. Contohnya, jika biasanya saya masak untuk keluarga saja, maka setelah menikah saya juga harus melayani suami. Selera berbeda, maka masakan juga seharusnya berbeda. Ayah Umi tidak ngopi, suami terbiasa ngopi saat sarapan. Jika biasanya saya bisa bebas di rumah tanpa malu-malu, ah rasanya setelah menikah, hidup di rumah yang sama dengan orang tua dan adik laki-laki, saya menjadi malu, bukan apa-apa, tapi yaaaaa you know what I mean. Ha ha ha.... yup, masa iya saya mesra-mesraan di depan ayah yang lagi nonton tv, atau pas adek lewat di depan kamar? Atau misalnya jika suami masih ingin bangun malas-malasan di hari libur, sementara ayah sudah mulai nyapu halaman dan adik sudah mulai buka jendela (itu jadi tugas ayah dan adik di rumah), masa iya harus tetep malas-malasan di kamar. No no no! intinya setelah menikah, hidup pasti akan mengalami perubahan, yang tadi saya sebutkan hanya sebagiannya saja. Tidak lagi tentang saya, tapi tentang kita. Tidak lagi hanya orang tua, tapi ada suami yang menjadi lebih berhak mendapatkan pengabdian seoarang wanita, dan sebagainya. Maka, singkat kata saya mulai ngontrak di kontrakan orang tua, dengan biaya 800 ribu per bulan (kontrakan 2 kamar, 1 kamar mandi, ruang tamu, ruang keluarga dan dapur). 

Ngontrak di rumah ortu, bayar Dee???????
Yoa, maaannn.... 800 reben per bulan. Pertama-tama, kami membayar untuk 3 bulan pertama,  lalu uangnya kembali pada kami dalam bentuk lemari penyimpanan makanan dan meja makan senagai hadiah dari orang tua. Lalu beberapa bulan berikutnya uangnya ternyata dikembalikan kepada kami untuk tambahan biaya perjalanan ke Malang untuk wisuda suami. Ha ha ha.... asyik kan?

Kenapa Bayar? Banyak yang komplain memang. "Kok bayar?" atau "Masa sama anak sendiri ditarik bayaran" dan lain-lain. Tapi, itulah cara orang tua mendidik kami untuk mandiri. Cara yang tidak sama dengan kebanyakan orang, mungkin, tapi sungguh benar bagi kami. "Biar kalian cepat kaya" ujar Ummi suatu ketika. "Ketika bayar, kalian akan merasa keberatan untuk mengeluarkan uang kontrakan per-bulan. Dengan begitu kalian akan lebih giat bekerja, nabung dan punya keinginan kuat untuk punya rumah sendiri. Biar kalian tidak loyo dan manja" begitu kata beliau. Dan itu benar adanya. Bukankah saat dalam keadaan sulit, manusia cenderung lebih kuat, lebih hemat, lebih tegar, lebih termotivasi. Tak heran jika sampai ada buku The Power of Kepepet, kan? Namun ketika hidup dimanja-manja,  manusia cenderung terlena. Dan sekali lagi, Ummi saya benar. Orang tua saya benar. Itu sesungguhnya doa. 

Hidup di kontrakan setelah menikah memang lebih 'bebas' daripada hidup serumah dengan orang tua. Suami begadang nonton piala dunia sampai subuh-pun tak masalah. Paginya nyambung tidur-pun tak perlu malu-malu. Suami membantu nyuci pakaian-pun tak perlu sungkan. Mau pacaran pun tak lagi malu-malu. Pengen jalan-jalan malam Minggu, pulang diatas jam 10-an pun tak perlu takut membangunkan orang tua atau adik yang sudah tidur. Istri masak makanan pun bebas. Suami tak menyukai makanan pedas, sementara Ummi penyuka makanan pedas dan Ayah yang biasanya ingin selalu ada sambal ketika makan, tak jadi soal. Win-win solution! Meski demikian, kami tetap seringkali mengantar hasil masakan untuk orang tua dan mertua, atau sebaliknya, saya ke rumah orang tua buat nyari cemilan dan makanan yang bisa saya bawa pulang. Kalau Ummi membuat kue atau makanan lain, kami selalu kebagian. Ha ha ha ha..... Ada yang mau protes??? silahkan saja. Karena meski dijelaskan-pun masih tetap ada yang tidak setuju. Yang setuju berkata "Oooh... iya juga yah. Benar juga orang tuamu" dan yang tidak setuju tetap akan nyinyir. Let it be.

Jadi, bagi pasangan yang baru menikah, jangan takut untuk hidup mandiri. Jangan khawatir gak mampu bayar kontrakan (selama manejemen keuangan diatur dengan baik dan gaya hidup tidak mewah-mewahan) setelah menikah. Trust me, hidup ngontrak itu jauh lebih baik daripada menjadi beban orang tua. Ngontrak itu jauh lebih baik daripada bermanja-mana di rumah orang tua atau mertua, hingga ketika tersadar anak-anak sudah beranjak besar, sementara hunian belum punya.  Seringkali, tak peduli seberapa banyak hal yang anda lakukan untuk merenovasi rumah orang tua, tetaplah rumah itu akan berlabel ‘rumah orangtua’. Tak peduli seberapa banyak kendaraan yang anda miliki, jika belum mempunyai hunian sendiri, anda masih tetap bertanya dalam hati tentang hunian milik anda sendiri. Tak peduli besar atau kecil, mewah atau sederhana, di kota besar atau di pinggiran desa, rumah akan selalu  menjadi bagian dari impian hidup berumah tangga, karena rumah akan selalu menjadi tempat kita kembali.
Jika pasangan yang baru menikah sudah cukup mapan, biasanya banyak yang terlena, keenakan tinggal di pondk mertua atau orang tua indah, kan? Oleh karenanya, semoga tulisan ini menginspirasi pasangan-pasangan atau keluarga-keluarga yang belum memiliki hunian pribadi. Yuk, tetap semangat mempersiapkan rencana untuk memiliki hunian sendiri. ^_^ Semangat!!!





Tuesday, June 16, 2015

Rumah, sebuah tahapan hidup. (Part 1)

Impian Punya Rumah Sendiri

Siapa sih yang tak memiliki impian untuk punya hunian sendiri? Jika semua orang di dunia ini tidak memiliki hasrat tersebut, maka menjadi agen properti pastilah bukan suatu profesi yang menjanjikan, atau pasti tak akan marak bermunculan perumahan-perumahan -dari yang mewah dengan harga milyaran sampai yang berkategori Rumah Sederhana yang dibandrol puluhan juta bahkan bisa mencicil selama sepuluh tahun lebih- atau pastilah Feni Rose tak akan menjadi host program jualan perumahan terkenal, pastilah tak akan ada program reality show Billion Dolar Listing atau pastilah hutan di Indonesia ini akan tetap luaaaaaaaaaaaaaaaaaaasssss menghijauuuuuu. Iya kan?? #wink

Nah jadi, keseimpulannya memiliki hunian sendiri pastilah menjadi hal yang diidamkan semua orang, terutama mereka yang sudah menikah, apalagi yang sudah beranak pinak, atau setidaknya oleh anak-anak muda yang punya impian membelikan rumah untuk orang tuanya karena berbagai macam alasan. 

Bersyukur sekali bahwa saya dan suami saya, meski telah 2 tahun menikah namun belum juga diberikan rezeki mempunyai anak, telah memiliki hunian sendiri. Tidak mewah memang, namun sungguh sangat mumpuni bagi kami. Rumah kami rasanya termasuk dalam kategori desain minimalis. Berdiri diatas tanah kavlingan dengan panjang 15 m dan lebar 10 m dan terdiri dari 1 ruang tamu 3,5x3 m, 1 garasi 4x3 m, 1 kamar tidur anak 3x3, 1 ruang tidur utama 5x3, 1 dapur basah 4x5,5 m , 1 dapur kering 4x3m, 2 kamar mandi (masing-masing 1,5x2 m dan 2,5x2 m dan 1 ruang sholat 2x3 m lalu insyaallah nanti (target beberapa tahun kedepan) akan bertambah pula 2 ruang di lantai atas yang ingin difungsikan sebagai 1 kamar anak, lagi, dan perpustakaan keluarga.  Ada pula teras 1x3 m dan sisanya di bagian depan ada sedikit sisa halaman dan pagar, yang belum selesai di cat. ^_^



Membangun rumah, bagi kami pasangan muda, bukanlah sebuah perkara yang mudah. Beruntung, Ummi saya selalu sedia membantu dari banyak hal, dari mulai ngobrol-ngobrol tentang desain rumah, mencari tukang kepercayaan untuk pengerjaan, termasuk mencari orang tempat memesan tanah puru/timbun, pasir, kayu dan segala macam pernak-pernik lainnya. Hahahahah.. Ummi saya memang super, jangan heran. Berbekal pengalaman mengawasi pekerja bangunan, ketertarikan beliau pada pembagian ruang-ruang di rumah-rumah yang pernah dikunjungi serta pengalaman mengarsiteki 3 rumah kontrakan dan 2 rumah tinggal (1 rumah tinggal yang dihuni sekarang, 1 rumahnya adalah rumah tinggal keluarga kami dulu yang kini telah direnovasi  dan difungsikan sebagai 2 rumah kontrakan lagi, 1 kontrakan 2 kamar, 1 kontrakan 1 kamar) maka Ummi-lah yang menjadi 'arsitek' hunian kami dan sebelumnya Ummi pula-lah yang menjadi 'arsitek' hunian kakak perempuan saya. Arsitek sangat sangat istimewa! Tak perlu meja gambar, cukup pengalaman dan selembar kertas, bahkan kadang di atas tanah, maka jadilah sketsa kasar. ^_^

Berawal dari sebagian uang tabungan saya yang kemudian saya belikan sebuah tanah kavling sebelum menikah (dan Ummi pula-lah yang mencarikan kavlingan tersebut), maka disanalah awal perjuangan kami membangun sebuah rumah dimulai. Ketika suami masih dalam proses S2 di Malang, tahap awal pembangunan pondasi rumah dimulai tepatnya sekitar bulan Januari awal 2014. Kemudian memasuki tahap berikutnya pada bulan Maret hingga selesailah bangunan utama (Kamar  mandi luar dan dapur basah belum selesai). Kemudian seminggu sebelum Idul Adha tahun 2014 kami pindah ke rumah baru kami.

Pembangunan tahap kedua dimulai sekitar 3 pekan setelah Idul Adha berupa penyelesaian kamar mandi luar, dapur basah dan pagar rumah. Kini, hunian kami telah 99% rampung menyisakan pagar dan dapur basah yang belum dicat saja. Ah, rasanya hal itu adalah hal kecil saja, sesuatu yang bisa kami kerjakan sendiri. ^_^

Kini, hampir 1 tahun kami telang menghuni rumah ini. Insyaallah penuh berkah dan selalu menambah rasa syukur dan kebahagiaan kami. Semoga setelah ini, rezeki memiliki keturunan yang sehat jasmani dan rohani dan cerdas segera dianugerahkanNya. Aamiin ya Rabb.

Ayo, pasangan yang lain juga tetap berusaha berjuang untuk memiliki hunian sendiri ya. Semangat! Semoga rumah impian teman-teman segera tercapai. Aamiin.


Monday, June 15, 2015

Resep Rusip Bangka

Hai Hai....
Pernah dengar bahan makanan bernama Rusip gak?
Belum??? yaaaaaaaaaaaaaaaa.....
Kalau begitu, yuk kita kenalan dulu dengan si Surip eh Rusip ini. ^_^
Rusip


Tadaaaaaaa......
Ini nih penampakan rusip.
Well, Rusip adalah salah satu oleh-oleh khas dari Bangka Belitung. Rusip terbuat dari ikan teri atau ikan bilis segar yang difermentasi bersama dengan campuran garam dan gula aren. Jadi, kalau teman-teman berkunjung ke Bangka Belitung, jangan lupa beli rusip ya secara ikan fermentasi ini mudah ditemui di pasar-pasar tradisional atau juga di toko oleh-oleh. Harganya juga beragam, tergantung dengan kelas kualitasnya, tapi secara umum kisaran antara Rp. 15.000-30.000 perbotol tergantung kualitas dan kuantitasnya gitu deh.

Pada umumnya, masyarakat Bangka Belitung mengkonsumsi Rusip (dalam dialek lokal disebut Rusep) apa adanya, tanpa dimasak. Cukup dengan menambahkan irisan bawang merah, cabai rawit dan perasan jeruk kunci (jeruk sambel) maka Rusip siap disantap bersama lalapan.
Tapi, berhubung saya bukan asli Bangka Belitung (Ayah saya orang Sum-Sel tepatnya Payaraman Ogan Ilir, dan Ummi saya orang Rejang, Bengkulu), meskipun 24 tahun-an menetap bahkan telah-pun menikah dengan orang Bangka, saya masih belum terbiasa menikmati Rusip dengan cara demikian. Tapi bukan berati saya bukan pencinta Rusip loooh.....

Sunday, June 14, 2015

Pasta Conchiglie Saus Bolognese

Yum yum...
Ada yang suka makan pasta ga?? Eits, bukan pasta gigi looohh... hehe tapi pasta yang berasal dari Italia itu ^_^\

Well, rasanya sudah banyak orang yang mengenal spaghetti, namun tak banyak yang tahu bahwa spaghetti hanyalah salah satu dari ratusan jenis pasta. Ratusan?? Yup, ratusan! Banyak banget ya. Padahal yang mungkin biasa kita tahu dan makan cuma beberapa jenis dan spaghetti memang yang paling populer.

Anyway, beberapa waktu lalu saya dan suami pergi jalan-jalan ke pantai. Gak terlalu jauh, 20 menit doang dari rumah. Inilah salah satu keuntungan jadi anak pulau. Pantai dimana-mana. Hahahaha.

Okey, kembali ke topik. Jadi, kami membawa camilan dari rumah sebagai bekal piknik (ngedate ding... ehem!). Ada beberapa butir dodol garut (kebetulan lagi ada stok dirumah. yay!) lalu ada juga beberapa butir oat snack (I love them) dan juga pasta conchiglie atau pasta yang berbentuk kerang dengan saus bolognese dan tentu saja air minum.

Iya sih, pasta jenis ini seringkali disajikan dengan sup alias berkuah karena bentuk kerang tersebut memang dimaksudkan agar pasta dapat menampung sup di dalam lekukannya dan di Indonesia kita juga sering menemukan pasta conchiglie ini didalam sup ayam atau sup sayur. Sah-sah aja kok dan tetep maknyus.
Jadi, kali ini saya mau share resep ala saya ya.... boleh kakaaaakkk pastanya... ^_^

Conchiglie Pasta with bolognese sauce.

Bahan:
150 gr pasta conchiglie
+ 1 liter air untuk merebus (pastikan pastanya tenggelam saat direbus ya)
1/2 sdt garam

Bahan pelengkap:
200 gr dada ayam, iris tipis
50 gr paprika merah, potong dadu
50 gr paprika kuning, potong dadu
50 gr paprika hijau, potong dadu
50 gr jamur kancing, iris sedang (bisa diganti jamur kancing slice kemasan)
Keju Cheddar secukupnya, parut. (Optional)

Bahan saus:
2 buah tomat ukuran sedang, cincang kasar
5 sdm saus tomat
2 sdm saus sambal (dapat ditambah jika ingin lebih nendang)
4 sdm saus bolognese kemasan (La Fonte atau Del Monte atau sejenisnya)
1 buah bawang bombay ukuran sedang, potong dadu
4 siung bawang putih, keprek lalu cincang kasar
100 cc air
2 sdm minyak (olive oil atau minyak sayur biasa)
1 sdm minyak wijen
Garam secukupnya

Langkah-langkah:

1. Nyalakan api sedang. Didihkan air, tambahkan garam ketika air mulai mendidih, lalu rebus pasta  + 3-4 menit atau hingga pasta al dente. Jangan lupa aduk pasta beberapa kali agar pasta tidak saling menempel. Angkat pasta, tiriskan dan sisihkan.
2. Saus:
- Panaskan minyak di wajan, lalu masukkan bawang bombay dan bawang putih. Tumis hingga harum.
- Masukkan tomat yang telah dipotong dadu, tumishingga tomat lunak.
- Selanjutnya, masukkan ayam yang telah diiris tipis, tumis hingga ayam berubah warna. Kemudian masukkan paprika dan jamur. Aduk-aduk sebentar.
- Lalu, masukkan saus bolognese, saus tomat dan saus sambal. Aduk-aduk sebentar.
- Kemudian, masukkan air, didihkan. Terakhir tambahakan garam dan minyak wijen. Koreksi rasa. Jika telah dirasa pas, matikan api.
- Letakkan pasta diatas piring saji, lalu siramkan saus ke atasnya. Jika suka, anda bisa menambahkan keju cheddar parut diatasnya atau dapat pula dengan menaburkan keju parmesan bubuk ke atasnya.
- Voila. Conchiglie saus bolognese siap disajikan. ^_^

Good food, good place, good mood. Perfect!
P.S
Pastanya juga bisa diganti dengan spaghetti loh ^_^

Tuesday, June 2, 2015

June Oh June

June oh June.
Please bring a "Yes" from the moon
Let it be mine soon
and be a magnificent June. 
June oh June 
Bring a yes from the moon
Heal a heart in a mourn
make it free from a wound
June oh June
Be a happy fabulous June.

Gerunggang, June 1, 2015