Impian Punya Rumah Sendiri
Siapa sih yang tak memiliki impian untuk punya hunian sendiri? Jika semua orang di dunia ini tidak memiliki hasrat tersebut, maka menjadi agen properti pastilah bukan suatu profesi yang menjanjikan, atau pasti tak akan marak bermunculan perumahan-perumahan -dari yang mewah dengan harga milyaran sampai yang berkategori Rumah Sederhana yang dibandrol puluhan juta bahkan bisa mencicil selama sepuluh tahun lebih- atau pastilah Feni Rose tak akan menjadi host program jualan perumahan terkenal, pastilah tak akan ada program reality show Billion Dolar Listing atau pastilah hutan di Indonesia ini akan tetap luaaaaaaaaaaaaaaaaaaasssss menghijauuuuuu. Iya kan?? #wink
Nah jadi, keseimpulannya memiliki hunian sendiri pastilah menjadi hal yang diidamkan semua orang, terutama mereka yang sudah menikah, apalagi yang sudah beranak pinak, atau setidaknya oleh anak-anak muda yang punya impian membelikan rumah untuk orang tuanya karena berbagai macam alasan.
Membangun rumah, bagi kami pasangan muda, bukanlah sebuah perkara yang mudah. Beruntung, Ummi saya selalu sedia membantu dari banyak hal, dari mulai ngobrol-ngobrol tentang desain rumah, mencari tukang kepercayaan untuk pengerjaan, termasuk mencari orang tempat memesan tanah puru/timbun, pasir, kayu dan segala macam pernak-pernik lainnya. Hahahahah.. Ummi saya memang super, jangan heran. Berbekal pengalaman mengawasi pekerja bangunan, ketertarikan beliau pada pembagian ruang-ruang di rumah-rumah yang pernah dikunjungi serta pengalaman mengarsiteki 3 rumah kontrakan dan 2 rumah tinggal (1 rumah tinggal yang dihuni sekarang, 1 rumahnya adalah rumah tinggal keluarga kami dulu yang kini telah direnovasi dan difungsikan sebagai 2 rumah kontrakan lagi, 1 kontrakan 2 kamar, 1 kontrakan 1 kamar) maka Ummi-lah yang menjadi 'arsitek' hunian kami dan sebelumnya Ummi pula-lah yang menjadi 'arsitek' hunian kakak perempuan saya. Arsitek sangat sangat istimewa! Tak perlu meja gambar, cukup pengalaman dan selembar kertas, bahkan kadang di atas tanah, maka jadilah sketsa kasar. ^_^
Berawal dari sebagian uang tabungan saya yang kemudian saya belikan sebuah tanah kavling sebelum menikah (dan Ummi pula-lah yang mencarikan kavlingan tersebut), maka disanalah awal perjuangan kami membangun sebuah rumah dimulai. Ketika suami masih dalam proses S2 di Malang, tahap awal pembangunan pondasi rumah dimulai tepatnya sekitar bulan Januari awal 2014. Kemudian memasuki tahap berikutnya pada bulan Maret hingga selesailah bangunan utama (Kamar mandi luar dan dapur basah belum selesai). Kemudian seminggu sebelum Idul Adha tahun 2014 kami pindah ke rumah baru kami.
Pembangunan tahap kedua dimulai sekitar 3 pekan setelah Idul Adha berupa penyelesaian kamar mandi luar, dapur basah dan pagar rumah. Kini, hunian kami telah 99% rampung menyisakan pagar dan dapur basah yang belum dicat saja. Ah, rasanya hal itu adalah hal kecil saja, sesuatu yang bisa kami kerjakan sendiri. ^_^
Kini, hampir 1 tahun kami telang menghuni rumah ini. Insyaallah penuh berkah dan selalu menambah rasa syukur dan kebahagiaan kami. Semoga setelah ini, rezeki memiliki keturunan yang sehat jasmani dan rohani dan cerdas segera dianugerahkanNya. Aamiin ya Rabb.
Ayo, pasangan yang lain juga tetap berusaha berjuang untuk memiliki hunian sendiri ya. Semangat! Semoga rumah impian teman-teman segera tercapai. Aamiin.
No comments:
Post a Comment