Monday, April 4, 2011

Antara Fenomena Ikal, Arai, Alif dan Aku

Salam, readers... ^_^
Pengen sekali sebenarnya aktif ngeblog secara teratur setiap hari, tapi karakter ideku yang cepat menguap jika tidak segera ditulis adalah salah satu hal yg dari dulu tetap saja masih melekat tak mau pergi dari diriku, padahal tidak pula aku bisa siap sedia siaga di depan si Ion atau Asusku setiap waktu untuk megikat ide-ide itu. Parahnya lagi, meski aku tuliskan di buku, tak pula aku selalu pegang buku keman-mana dan dimana-mana. Jadilah begini, ngeblog yang belum teratur... he he he...
Tulisan kali ini adalah saripati dari monologku dengan nasibku sendiri dalam beebrapa hari yang kian menjadi-jadi saja. Tapi sebelumnya, aku mau pamerin si Platy, boneka horta platypusku yang sudah tumbuh 'rambut' sejak beberapa minggu ini.

my 2-week-old Platy before her hair get cut

after her hair get cut

Sebenarnya pengen potong 'rambutnya' dengan gaya mohawk atau spike, tapi ntar dia terlalu macho bin maskulin, jadi biarlah gini aja dulu, ntar kalo 'rambutnya' dah mulai panjang dan lebih lebat bakal aku potong lagi. Syukur-syukur kalo bisa di kasih jepit rambut atau dikepang. Ha ha ha ha...
Next, apa yang tengah bercokol di benakku sekarang adalah tentang kisah-kisah manusia-manusia inspiratif yang aku kenali mereka dari beberapa novel best seller dalam negeri, Sang Pemimpi (buku ke 2 dari tetralogi Laskar Pelangi, karya Andrea Hirata, yang keduanya, baik Laskar pelangi maupun Sang Pemimpi telah diangkat ke layar lebar dibawah Miles Film dan Mizan Production) dan Ranah 3 Warna (Buku ke dua dari tetralogi Negeri 5 Menara karya A. Fuadi). Sungguh, tanpa dibuat-buat mimpi-mimpi 'nyeleneh' ketiga tokoh dalam novel-novel itu seperti menyentil-nyentil diriku yang juga memimpikan hal 'nyeleneh' yang sama; kuliah di luar negeri (Amerika, Australia atau Eropa) meski ketika itu tak tahu entah bagaimana caranya untuk menggapai itu.
Kusamakan diriku dengan 'Alif', sang tokoh utama dalam trilogi Negeri 5 Menara. Aku yang juga dibesarkan dilingkungan 'tahan banting' Pesantren, tepatnya di sebuah Pon-pes di Indralaya PPI tercinta, yang juga berkawan karib dengan sallathoh rohah yang juga menjadi menu hampir saban hari di Pesantren tempatku dididik atau menu tambahan Makrunah yang dikategorikan sebagai makanan sedikit berkelas pada masa itu. Aku juga Kerap kali menikmati malam dengan terkantuk-kantuk 'dihukum' karena namaku masuk dalam daftar para jasus intelijen Qismul-Lughoh sampai larut malam meski kemudian ketika Aliyah justru aku lah yang kemudian dipercaya menjadi panitera putri untuk Mahkamah Lughoh, sebuah jabatan prestisius tertinggi diantara para santriwati yang langsung berada dibawah garis komando Kepala bagian Bahasa tertinggi. Badge berbentuk bintang segi lima berwarna biru seolah menjelma sebagai sebuah trophy yang menghibur dukaku yang selama di MTs cukup rajin menjadi pesakitan di Mahkamah Lughoh bahkan sampai merasakan hukuman dipukul dengan tangkai sekop plastik dan rotan berkali-kali. Sungguh, bukan aku sengaja melakukan pelanggaran-pelanggaran itu, apalagi seringkali catatan yang diserahkan jasus kepada hakim hanya berisi satu dua patah kata remeh temeh yang tanpa sengaja meluncur dari mulutku dalam kurun waktu 24 jam saban hari itu. Tapi dari kepopuleranku masuk mahkamah itulah kemudian aku terpecut bagai singa luka untuk lebih giat belajar bahasa asing Arab dan Inggris, dan kubuktikan itu ketika Imtihan Khas aku mencapai nilai tertinggi untuk Bahasa Inggris serta berkali-kali menjuarai lomba pidato bahasa Inggris. Disamping itu, bahkan untuk beberapa sisi aku juga punya cerita yang memilukan bahkan mengenaskan tentang usaha mempelajari bahasa, Arab dan juga Inggris mati-matian dengan extra miles yang menguras tenaga dan fikiran bahkan sempat menindih batinku.
Aku juga rasanya tak jauh beda dengan Alif yang justru bermimpi menginjakkan kaki di benua Amerika. Disaat banyak alumni pesantren tempatku mondok bahkan teman sekelasku di M.A.K bermimpi untuk melanjutkan kuliah ke Kairo, Yaman , Syiria, Makkah, Madinah atau Sudan aku justru berangan-angan dan memohon pada Tuhan agar dapat melanjutkan pendidikan ke benua Amerika atau Australia juga Jepang. Disaat teman-temanku sibuk menghafalkan ayat-ayat Al-Qur'an agar mereka memiliki modal menempuh beasiswa ke Timur Tengah, aku justru sibuk berkorespondensi dengan mengirim surat ke kedutaan-kedutaan besar negara-negara asing di Jakarta untuk sekedar memperkenalkan diri dan mimpiku dan memohon dikirimi sekedar brosur, kamus saku atau buku-buku berbahasa Inggris tentang budaya negara-negara nun jauh diseberang negeriku itu. Atau pula, ketika teman-temanku berlomba-lomba mengikuti pelatihan Naghom, seni baca Al-Quran dengan segenap variasi lagunya, aku justru keranjingan lagu-lagu Backstreet Boy dan Westlife yang kudengar dengan cara mencuri-curi kesempatan menyimak dari radio di walkmanku yang selalu kujaga agar tidak ketahuan apalagi disita oleh pihak Keamanan dan Kesantrian.
Aku juga merasakan perjuangan Ikal dan Arai seolah-olah mengomporiku untuk tetap berani bermimpi, berani berlari mengejar mimpi dengan memanfaatkan segala peluang yang ada. Aku belajar dari kegigihan Arai dan Ikal demi mewujudkan cita-cita 'gila' dari anak-anak pulau yang bahkan melihat iklan film bioskop-pun ternganga-nganga. Arai dengan segala jumpalitan ide liarnya menyentilku untuk tetap optimis bahwa Tuhan tentu mendengar segala pinta hambaNya bahkan yang hanya terbersit didalam hati sekalipun. Ikal yang dengan emosinya yang pasang surut memompaku untuk belajar meyakini impian yang dibagikan seorang Arai dan memupuk jiwa optimisme bahkan ketika dibombardir tanpa ampun oleh pesimisme yang datang seenaknya saja.
Aku, salah satu sosok yang berjalan sedikit diluar arus, tetap saja bertekad mengejar mimpi. Apalagi Tuhan dengan segala sifatnya dzatnya yang Maha Pemurah pernah menjawab kontan mimpiku untuk menjejakkan kaki di Amerika dan Jepang melalui beasiswa yang kudapatkan di 2008 lalu. Ya! aku memang hanya menjejakkan kaki di Jepang hanya sebatas Narita Airport, tapi bagiku itu adalah tetap bagian anugerah terindah dari Allah padaku sang pemimpi kecil ini. Aku tetap bisa menikmati aroma sushi yang ketika masih di kelas 3 MTs hanya kulihat gambarnya dari brosur yang dikirim pihak kedutaan Jepang kepadaku. Selama beberapa jam transit di Narita Airport aku seolah telah melihat gunung Fuji meski sebenarnya yang kulihat hanyala neon-board yang bergambar gunung Fuji bertuliskan Yokoso Japan! itu. Selama hampir 4 jam transit itu aku bisa merasakan betapa bersihnya Jepang hanya dnegan mengagumi rest room bandara yang bersih bahkan kinclong dan rapi mewangi serta tidak ada genangan air sedikitpun di lantainya. Aku memang cuma baru menjejakkan kaki di Narita Airport saja, tapi insyaallah, suatu hari dengan IzinNya aku akan berada di Jepang dalam hitungan hari, minggu bahkan bulan dan tahun jika Allah yang Maha Pengabul Doa kembali menjawab kontan doaku.
Aku ingat, rasanya tak banyak alumni Pesantren tempatku dididik itu mengambil jurusan bahasa Inggris, tapi aku justru termasuk segelintir orang itu. Teman-temanku banyak di IAIN Raden Fatah, UIN Sunan Kalijaga, UIN Syarif Hiyatullah, Al-Azhar Kairo, sementara aku harus berpuas diri di STAIN Curup karena keinginanku ke UIN Sunan Kalijaga tidak direstui keluarga karena jarak yang jauh. Tapi justru dari sana, kampus kecil yang terletak di daerah dingin itu yang kemudian membawa kakiku melangkah ke Jambi, Padang, Bandung, Banten, Jakarta bahkan lalu ke Tucson, sebuah kota di Negara bagian Arizona di Amerika Serikat.
Dari kampus kecil itulah aku kemudian merasakan sensasi terbengong-bengong menatap sebuah rumah di University Boulevard di Tucson yang mirip dengan rumah bergaya Eropa yang pernah kujadikan latar belakang sebuah fotoku yang merupakan hasil eksperimen ketika aku belajar photoshop untuk yang pertama kalinya. Foto hasil photoshop yang masih kasar itu adalah manifesto dari kegilaanku yang ditarik oleh mimpi-mimpi sejak aku masih di bangku Madrasah Tsanawiyah. Luar biasa sekali ketika beberapa bulan kemudian (sekitar 6-7 bulan) aku melihat rumah yang mirip dengan rumah di hasil rekayasa photoshop kasarku itu berada nyata di depan mataku di Tucson ketika itu.
Aku juga menjadi saksi bagaimana hebohnya pertarungan Obama dan rival politiknya memperebutkan kursi No. 1 Amerika Serikat itu di televisi lokal Amerika bahkan melihat pernak-pernik kampanye mereka yang kutemui di beberapa sudut kampus University of Arizona dan di Tucson. Dari langkah kecilku di kampus sederhana bersahaja STAIN Curup itulah aku kemudian menikmati perjalanan selama 32 jam dari Jakarta ke Amerika sehingga memberikan kesempatan padaaku untuk sekedar melongok Thailand, Jepang dan Los Angles.
Mimpi-mipi besarku memang belum sepenuhnya diijabah oleh Allah, tapi aku tak pernah menyerah, belum! dan tak akan! Kegagalanku untuk lolos dalam 2 kesempatan penjaringan penerima beasiswa S2 ke luar negeri beberapa bulan lalu tak menyurutkan apalagi mengering-kerontangkan mimpiku. Justru kini aku tengah menyulam mimpi yang baru karena aku yakin Allah di singgasana Arsy-Nya selalu mendengar pintaku dan melihat usahaku. Ia akan mengabulkannya, insyaallah. Mungkin esok, tahun depan, dua tahun mendatang, atau bertahun-tahun mendatang melalui keturunanku. Ia akan mengabulkan doaku, pintaku dan setiap pinta hambaNya yang meminta padanya.
Ikal, Arai, dan Alif adalah sosok-sosok yang kusandingkan dengan mimpi-mimpiku. Mereka memulai mengecap manisnya impian yang terwujud dengan meletakkan batu pertama kesuksessan, mimpi!
Rocket Boys, pelajar-pelajar muda dalam film October Sky yang kutonton berkali-kali di CESL pada mata kuliah Speaking juga mengajarkan padaku untuk tidak pernah takut membangun impian. Karena impian itu yang mengawali terbukanya jalan untuk meraihnya. Rasulullah, dengan impian beliau akan masyarakt Madani juga adalah legenda hidup yang selayaknya menjadi panutan semua manusia, tak terkecuali aku, bahwa percaya dan teguh hati adalah termasuk diantara syarat diijabahnya impian. Bukankah ketika kita selalu berprasangka baik pada Allah, maka Allah akan menganugerahi kita seperti prasangka baik kita kepadaNya?
Aku percaya, where there is a will, there is a way! dan aku tengah merintis dan membuka jalan untuk sampai disana. Allah, peluklah mimpi-mimpiku dan mimpi setiap mereka yang percaya bahwa Engkau Maha Pengabul. Amin


Readers, sudah malam. Mungkin malam ini aku akan beruntung bermimpi berada di dekat patung Liberty, atau melihat sakura mekar, atau duduk santai menikmati si Nyonya Besar Eiffel Tower atau mungkin menggendong bayi kangguru sambil menikmati kemegahan Opera House di Sydney. ^_^


No comments: