Beberapa hari ini ada beberapa kejadian menarik. Salah satunya ada teman yang sakit, yang kemudian malah menjalar ke persoalan alam ghaib (let's say that she was possessed by demon) dan thank God, she's Ok now. Tapi, terlepas dari hal itu, beberapa kali dalam beebrapa hari dan beberapa kesempatan, beberapa orang melemparkan pertanyaan yang sama padaku (meski dengan redaksi yang agak berbeda) tentang sikapku yg memilih diam tak bersuara terhadap seorang teman (saya sih menganggapnya sahabat)... hmm... pentingkah ini dibahas disini? eih! yes it is! ini kan blog saya, jadi suka-suka dong mau bahas apa heheheheh
In short, menanggapi pertanyaan itu, sepenggal paragraf tiba-tiba muncul dengan seenaknya di otak saya yang bunyinya kalau dituliskankan redaksinya adalah seperti ini:
"pernah aku bilang bukan, jika memang harus, maka dengan senang hati aku akan kembali menggunung es saja... bukan membenci, hanya tidak peduli... bukankah dia juga menikmati? so... tak ada masalah kan?"
Tapi, hmmm kalimat-kalimat itu cuma membisu di otak, cuma di otak saya saja... meski secara tidak langsung kalimat itu juga sudah saya ungkapkan dengan olahan bahasa lain termasuk bahasa kalbu... huhuhuhuhu...
Kawan, saya benci sebenarnya situasi seperti ini, tapi hey! saya juga manusia kan? punya hati dan juga perasaan sama juga sepertimu (perasaan ada lirik lagu yang mirip-mirip ini deh! heheheh)Kadang cara saya mengungkapkan kekecewaan memang lebih unik ketimbang orang lain begitu juga dengan cara saya marah. Saya lebih suka menghindari penggunaan kata-kata seperti bre**s*k, baj*n*an, s*al*n etc etc deh pokoknya. Saya lebih sering mengungkapkan kemarahan dengan kata-kata yang sebisa mungkin tidak tampak kasar meski sebenarnya kalau dicermati kalimat-kalimat saya bisa sangat menusuk sekali, bahkan banyak teman-teman yang bilang saya ahli sekali untuk urusan yang satu ini *_* (ssstt... ada loh yang bahkan pernah mukul komputer dan bahkan lemari berkaca karena merasa tertohok dengan tepat oleh kalimat-kalimat saya ^_^ the another side of me: Sadis)
Nah, kalau saya sudah malas bicara untuk sekedar mengungkapkan kepada si object bahwa saya marah atau kecewa, yaaaaa ujung-ujungnya pilihan terbaik adalah diam seribu bahasa, pasang wajah datar tanpa ekspresi, pokoknya memilih diam deh apalagi kalo yang bersangkutan sudah mempraktekkan cara ini terlebih dahulu... ohohohoh dengan senang hati saya ikutin deh! :p
Arrrgh!!! Pada dasarnya saya tidak suka diam seperti ini karena sebaliknya, saya lebih suka berbicara mencari solusi untuk hal yang memang masih bisa diperbaiki bahkan kadang saya sengaja mengkonfrontasi object secara langsung agar kemudian jelas akar permasalahan dan lebih bagus kalau bisa menemukan pemecahannya. Tapi, kalau kemudian si object juga enggak peduli, lah kenapa saya masih mesti bertahan untuk peduli???? ya udah, pilihan terbaik yang saya punya adalah DIAM, ikuti saja alurnya... wait n see adalah problem solving terbaik untuk hal-hal yang sudah tak ada kemungkinan menemukan problem solvingnya.
Nah, kembali ke pertanyaan beberapa orang seperti yang saya ceritakan sebelumnya tadi, akhirnya saya hanya mampu berkata seperti penggalan paragraf saya itu, meski hanya mampu saya ungkapkan secara tidak langsung.
Fiuhhh! Saya selalu ingat kalimat kakak perempuan saya yang kira-kira begini redaksinya: "yang namanya membangun sebuah hubungan itu harus selalu dilakoni oleh kedua belah pihak. Kalau hanya satu pihak saja yang mempertahankan, buat apa". Nah, karena kalimat itu pula saya akhirnya juga membuat kesimpulan sendiri, sebuah hubungan, apapun bentuknya bahkan hubungan pertemanan-pun, memang harus dijalani oleh kedua belah pihak, nah kalau saya saja yang berkeinginan berteman atau mempertahankan hubungan pertemanan dan persahabatan dengan seseorang sementara yang bersangkutan tidak menunjukkan i'tikad yang sama, apa lantas saya mesti tetap bertahan??? saya kira jawabannya adalah TIDAK! Jadi, ikutin alur sajalah ya... mudah-mudahan alurnya tetap menuju ke sungai yg jernih, bukan ke comberan!!!
1 comment:
sepakaaaaaaaaaaaaaat!
Post a Comment