Saturday, January 22, 2011

Membunglon

bAkhir-akhir ini saya seringkali merasa kehilangan jati diri yang sebenarnya, seringkali saya merasa bahwa saya adalah jenis makhluk yang tidak jauh berbeda dengan seekor bunglon. A chameleon? Yup, It is!!!

Check this one out!!!
Berkecimpung di dunia pendidikan dan kebagian peran sebagai agen-agen pencerdas generasi bangsa sungguh bukan perkara mudah! Sumpah!!!! Bukan pula hal yg mudah untuk menjalani profesi ini apalagi ketika harus mengabdi di tiga tempat berbeda dengan karakteristik yang juga berbeda. Gosh! it totally requires a lot energy....
Bunglonnya saya adalah dalam artian seperti ini:

----- at 7.30 a.m to 9 a.m
Ini adalah jamnya menjadi seorang yang jauh lebih berwibawa, bijak, menunjukkan sisi diri yang matang, simple, berkharisma dan berkarakteristik. Ini adalah jamnya seorang pengajar bahasa yang harus menghadapi para (maha)siswa yang kesemuanya ingin diperlakukan sebagai diri mereka yang adalah para "agent of change" sesungguhnya yang intelek, dewasa, kritis, idealis, serba ingin tahu, yang merasa bahwa di pundak mereka telah diletakkan begitu banyak tanggung jawab. Banyak sisi baik dari mengenakan warna ini, salah satunya adalah saya lebih tertantang untuk menjawab semua tantangan ini... ^_^ cakrawala berfikir juga gak jadi stagnan bin jalan di tempat saja, saya juga lebih merasa dewasa dan 'girly' juga (LOL) Secara kejiwaan, saya merasa lebih tenang, nyaman, relax, menikmati peran ini seutuhnya. Saya juga berada lebih jauh dari titik-titik stress atau pressure yang berlebihan. Saya merasa benar-benar berada dalam dunia saya yang nyaris sesungguhnya. Frankly speaking, for some reasons, this is my favorite color of being a chameleon ^_^

----- at 9 a.m to 1.30 p.m
In my humble opinion, this is the most terrible situation of the day ever.... hohohohohoho..... sejujurnya saya merasa tidak nyaman dengan warna yang harus saya pilih dalam jam-jam seperti ini. Sungguh, banyak warna yang telah saya coba 'pakai' untuk menghadapi perjalanan jarum detik jam-jam ini, tapi tidak sedikit yang GATOT a.k.a gagal total hingga menyisahkan hanya beberapa warna yang terpaksa saya pilih dengan berat hati untuk meminimalisir lebih banyak kerugian dari kedua belah pihak. Sialnya, ini adalah jam-jam yang paling mendominasi dalam satu hari membunglon saya. Dang!
Sebenarnya saya tidak berniat menjadi seapatis ini pada jam-jam ini, tapi willy nilly I have to.... Arrrgh! ini adalah warna yang paling bertentangan dengan jiwa sejati saya. Menjadi sosok yang 'harus' galak, judes, jutek, hobi ngomel.... pokoknya benar-benar membuat saya tidak suka waktu membunglon pada jam-jam ini. Well, pada jam ini saya mengabdikan diri menjadi pengajar bahasa pada sebuah sekolah negeri yang berada pada posisi transisi. Yup! Posisi Transisi!!!! Jelas??? hmmmm begini, sekolah ini adalah suatu sekolah yang pada dasarnya didukung oleh tenaga-tenaga pencerdas bangsa yang memadai, fasilitas yang menunjang, suntikan dana yang mendukung, tenaga administratif yang handal bahkan management sekolah yang tertata apik TAPI, sayangnya input sekolah ini adalah para generasi penerus bangsa yang motivasi belajarnya pas-pas-an atau malah ngos-ngos-an. Para generasi yang belum 'kota' tapi sudah lewat dari batas 'desa/dusun'. Kalau saya harus jujur, input-input ini mendapat istilah (jauh sebelum saya berada disana, istilah ini faktanya sudah sangat dihafal dan difahami semua kalangan, bahkan para siswa itu sendiri) sebagai 'orang-orang sisa bin pinggiran bin titipan'. Aih!!! kejam sekali tampaknya! tapi apa mau dikata jika memang itu adalah kenyataan??? Banyak sebenarnya para generasi yang memiliki motivasi dan sikap belajar serta mental para juara disini (orang-orang ini adalah sekelompok orang yg paling saya kasihani nasibnya, mereka tak mampu berkembang secara optimal tapi juga enggan terpenggal keingintahuan mereka begitu saja), tapi lebih banyak lagi diantara mereka yang terbentuk dan terkontaminasi lingkungan yang kurang memadai untuk memupuk jiwa mereka menjadi jiwa para pemenang, alhasil mereka adalah generasi yang 'tercipta' sebagai orang-orang dengan pola fikir masa bodoh, tidak memiliki semangat bersaing tinggi, mudah menyerah, malas berfikir apalagi berusaha dan bertindak kreatif, anti perubahan dan pembaharuan, pembangkang etc. Singkatnya, saya hampir kehabisan cara normal untuk menghadapi mereka-mereka ini.


Observasi selama beberapa waktu membuktikan bahwa mereka hanya takut (bukan segan atau hormat) kepada pengajar killer yang hobi main fisik dan mereka akan sangat semena-mena dengan pengajar yang ramah tamah dan memiliki kriteria almost perfect sebagai seorang pendidik ideal! hingga akhirnya, orang-orang mulia seperti itu pun memilih membelah diri menjadi sosok yang tega hati untuk mencubit, menjewer, menjemur etc etc
Well, saya 1000% menyadari bahwa warna yang saya pilih pada jam-jam ini sangat jauh dari kriteria seorang pendidik dan pengayom ideal, tapi... hmmm semoga suatu hari kondisinya tidak mengharuskan saya untuk ikut-ikutan dan tergoda menjadi pengajar killer yang suka main tangan, main kayu, main jemur, main kaki.... cukuplah saya menjadi pengajar yang terpaksa harus suka main mata (melotot: red) dan main suara (ngomel: red)
Allah, ampuni saya....
Ya, consequently, kadang ketika emosi saya begitu tak tertahan, ujung-ujungnya 'ngomel' adalah pilihan terakhir guna menghindari spidol terbang, atau jurus semut menggigit pinggang (padahal saya suka sekali cuap-cuap, tapi itu di depan microphone dan audio set ketika saya masih bekerja sampingan sebagai penyiar radio)Ah! memilih warna ini-pun harus tetap pintar-pintar menata emosi agar tidak terpancing bermacam tingkah pelajar yang kadang bahkan sudah seperti mafia saja.... woahhhh!!!! ataukah harusnya saya mungkin mengundurkan diri saja daripada jadi depressi karena ini?(kayaknya neh usul mesti dipertimbangkan juga deh dalam waktu dekat hiiihiiihih)

----- at 3 p.m to 5.40 p.m plus to 8.45 p.m
Pada jam ini, saya merasa bahwa sisi jiwa saya terakomodir dengan lebih adil. Saya bisa bercanda -canda yang elegan- tanpa harus merasa ketakutan turun pamor. Saya juga bisa lebih leluasa mengeksplor jiwa muda saya bahkan kadang memberi ruang bagi jiwa kekanak-kanakan saya untuk berekspresi dan mengakrabkan diri dengan tunas-tunas bangsa ini. Saya bisa mengajak para pelajar di institusi non-formal ini untk bergembira dengan bahasa tanpa harus merasa takut jatuh wibawa di depan mereka. Saya juga bisa belajar memanajemen kelas dengan ketegasan yang tidak menuntuk untuk diakhiri dengan emosi. Secara umum, meski saya juga dituntut untuk lebih sabar serta tegas dalam beberapa kasus pengecualian, saya merasa kejiwaan saya masih berada dalam posisi stabil atau dengan kata lain pada jam-jam ini saya masih sangat mampu berdamai dengan diri sendiri, walawpun sisi kekurangannya adalah intelektualitas saya yang tidak terlalu berkembang dan tertantang meski juga tidak seutuhnya stagnan pada satu titik saja.

----- Jam-jam bebas
Pada jam ini saya merasa kembali pada dunia saya meski kadangkala juga merasa kehilangan dunia ideal saya. Diliputi sepi meski tak sampai membunuh, diliputi bosan meski tak serta-merta membuat saya beku, ditemani jenuh pada titik-titik tertentu. Pada jam-jam bebas ini saya hanyalah seorang anak perempuan rumahan yang harus tunduk pada aturan-aturan rumah yang meski memang tidak terlalu membatasi langkah kaki saya tetapi setidaknya seringkali saya juga ingin merasa lebih bebas dari ini. Bebas untuk mengajak kaki saya melangkah kemana jiwa saya berkeinginan, mengajak jiwa saya pertualang ke tempat-tempak impian, lebih leluasa diam ketika saya tak ingin bicara, lebih punya banyak ruang untuk menangis ketika saya ingin memberi air matasebuah ruang untuk berpartisipasi menghilangkan perih dan sedih. Tapi terlepas dari keinginan untuk mendapatkan lebih banyak kelonggaran, saya merasa terjaga dalam posisi aman ini.

Anyway, MEMBUNGLON! ini adalah istilah yang menggambarkan betapa tempat kita berada selalu saja menuntut kita untuk menjadi jiwa yang seringkali justru berubah-ubah dan berbeda-beda. Gradasi warna yang dipilih mungkin indah, tapi kadangkala, jika tidak sering, warna warna itu justru saling melompati batas gradasi yang sejatinya lembut itu dan berubah begitu kontras. Tapi bagaimanapun, saya tetap mampu, merasa mampu untuk menemukan warna lain yang mungkin akan berubah seiring berubahnya tempat saya berada. ^_^ Setidaknya, saya masih memiliki jiwa yang asli meski dalam beberapa kali kesempatan saya akan bingung akan siapa saya yang sesungguhnya. ^_^

No comments: