Wednesday, May 15, 2013

Menikah = It's a choice! (Sebuah kisah)

“We come to love not by finding a perfect person, but by learning to see an imperfect person perfectly.” -Sam Keen

Sejak lama saya menyukai quote ini,bahkan saya sampai menuliskannya sebagai salah satu quotes yang saya tulis di bio akun facebook saya. Sederhana saja intinya, kesempurnaan bukanlah tentang suatu tampilan, namun lebih dari itu, kesempurnaan adalah persoalan perspektif!
Sempat pernah dikecewakan dalam hubungan saya sebelumnya , saya tetap meyakini bahwa suatu saat akan datang masanya dimana saya bisa menikah, menggenapkan separuh diin saya, beribadah dan membangun rumah tangga dengan orang yang mencintai saya dan saya cintai. Syukur kepada Allah Yang Maha Kaya, Dia berkenan mempertemukan saya dengan suami saya ini dan janji suci mitsaqon ghalizah kemudian diikrarkan pada 21 April 2013 lalu. Saya telah memilih untuk menikah. ^_^

Suami saya memang bukan sosok sempurna, karena jelas kesempurnaan hanyalah milik Sang Pencipta. Tapi bagi saya, pria ini adalah sosok yang saya butuhkan untuk mendampingi saya, membimbing saya mencapai tujuan menikah itu sendiri. Bisa jadi dia memiliki banyak kekurangan, namun bagi saya dia adalah sosok yang pas dan klik untuk saya dan begitupun saya baginya.


Proses yang terjadi itupun cukup diluar perkiraan. Saya bertemu dengannya telah sejak 2010 di penghujung Juni bersamaan dengan awal karir saya sebagai pengajar bahasa Inggris di lembaga luar sekolah. Anehnya, sosok yang saya kenal sebelumnya adalah sosok yang pendiam dan cuek bahkan meski bertemu hanpir saban hari, kalimat yang saya lontarkan tak lebih dari 'pak...' atau 'ada kelas pak?' dan sejenisnya yang memang hanya basa-basi. Namun Allah selalu punya jalan untuk segala hal.
Hubungan kami selama itu hanya sebagai 'kolega kerja', tak lebih, tak kurang rasanya. Hingga suatu sore yang mengejutkan di minggu pertama Januari 2012, seorang pengajar senior menyampaikan sesuatu yang membuat saya tertawa! ya, saya tertawa ketika itu! Diluar perkiraan saya, pria itu (yang kemudian menjadi suami saya) menyampaikan maksudnya untuk mengenal saya lebih dekat melalui sang pengajar senior tersebut. Yang membuat saya tertawa adalah perasaan kaget dan heran karena yang saya tahu, sekalipun saya tak pernah melihat gejolak atau sinyal-sinyal cinta di gerak-geriknya ketika bertemu atau berada dalam satu forum yang sama, tidak sama sekali. Lalu bagaimana mungkin ia bisa mempunyai niat untuk mengenal saya lebih dekat (jika saya belum mempunyai calon saat itu)?. Meski sebenarnya hal tersebut menjawab pertanyaan saya tentang kehadirannya yang tiba-tiba menjadi rajin mengomentari foto-foto facebook saya selama saya berada di Korea Selatan di penghujunng musim gugur 2011 lalu. Ajaib!
Well, ketika itu saya hanya memberi jawaban diplomatis bahawa benar saya tidak sedang mempunyai 'calon' atau dekat dengan pria tertentu (awal 2012 saat itu saya memang baru sepenuhnya terlepas dari rasa kecewa karena ditinggalkan seseorang. Patah hati istilah getirnya. hahahha ^_^) dan saya mempersilahkan jika memang dia memiliki niat baik untuk mengenal lebih dekat. Namun, sebetulnya saya kemudian langsung berkonsultasi dengan ummi saya perihal hal ini dan beliau mengatakan bahwa sudah saatnya saya harus membuka hati -sesuatu yang menurut ummi saya seharusnya sudah saya lakukan sejak setahun sebelumnya. Meski untuk hal ini saya berpendapat bahwa saya harus benar-benar bisa lepaskan kecewa itu sebersih mungkin agar orang berikutnya yang hadir dalam kehidupan saya tidak sekedar menjadi objek pelarian dan kekecewaan saya saja karena saya ingin mampu mencintai di saat saya benar-benar telah merasa siap, bukan karena saya merasa sepi!

Satu minggu kemudian menjadi awal cerita tentang kami. Dan dalam waktu seminggu itu kami hanya melakukan komunikasi via pesan facebook! (silahkan tertawa karena ini memang lucu! :-D) Bayangkan saja, kami selalu bertemu saban hari di tempat kerja yang sama, tapi komunikasi hanya via facebook! benar-benar satu hal yang tak lumrah. Barulah kemudian dia meminta no hp saya dan komunikasi pun beralih ke genggaman.
Proses perkenalan (tentunya untuk mengenal karakter dan keluarga calon suami agar tidak seperti membeli kucing dalam karung ^_^)  yang bagi kebanyakan orang disebut pacaran berjalan sejak medio Januari 2012 dan genap 1 tahun hubungan kami, akhirnya saya dilamar pada 25 Desember 2012 lalu. Cukup lama memang proses menuju pernikahan dari Desember ke April yang sebenarnya tidak lumrah dalam keluarga saya, namun mengingat ketika itu dia tengah menjalani semester ke-2 nya di Pasca Sarjana di universitas negeri di Malang, maka kedua orang tua saya tidak keberatan prosesi lamaran diadakan di tanggal tersebut. Lalu pada 21 April lalu resmilah saya menjdi istrinya. Syukuran atas pernikahan ini kemudian dituangkan dalam sebuah resepsi yang dihadiri tak kurang dari 1500 tamu undangan dan Puji bagi Allah, semua proses berjalan lancar.
Jika banyak orang percaya bahwa pernikahan akan senantiasa membukakan lebih banyak pintu rizqi, maka sepenuhnya kami percaya hal tersebut. Meski bukan sebuah resepsi besar-besaran kami sangat bersyukur bahwa kebaikan para tamu undangan membuka pintu rezeki baru bagi kami. Betapa tidak, kado yang kami dapatkan sudah sangat berlimpah bagi kami sebagai sebuah pasangan baru. Lemari es, Kompor gas, Bed cover, seprai yang jumlahnya 9 buah, beberapa blender dan rice cooker, serta alat rumah tangga dari mulai cutlery set sampai cake tray berbagai merek dan perlengkapan lainnya yang lebih dari cukup untuk pasangan baru seperti kami adalah anugerah istimewa tersendiri. Seratus persen saya yakin bahwa saya tak akan pernah mendapatkan kado berupa lemari es jika saya hanya merayakan ulang tahun saja. Maka sekali lagi, menikah benar-benar akan membuka lebih banyak pintu rizqi. ^_^

Semua proses yang kami lalui yang pada akhirnya bermuara pada sebuak acara puncak yaitu ijab qobul semakin menguatkan keyakinan saya bahwa menikah adalah benar-benar sebuah pilihan yang tak ada cela nya. Menikah, selain itu, adalah suatu hal yang bagi kita ummat Islam -dan juga ummat agama lain-dikategorikan sebagai salah satu ladang ibadah dan saya memutuskan untuk memilih menjalani subuah pernikahan.
Bagi saya pribadi, pernikahan adalah ibarat sebuah tempat pulang. Karena, pernikahan ini adalah tempat saya bersandar dari rutinitas hidup 'sendiri' selain itu bukankah kita telah diciptakan berpasang-pasangan? Dalam pernikahan saya sangat merasakan betapa leganya jiwa dan hati saya ketika saya telah menemukan pasangan hidup saya. Hingga, saya yang biasanya sendiri bahkan telah pula sekolah merantau sejak tamat SD sampai saya lulus kuliah, luluh dan merasa betul bagaimana sepinya dunia baru ini ketika suami saya harus tinggal jauh di Malang sementara ia menyelesaikan studi Magister nya dan saya tetap berada di Pangkalpinang. Saya merasa sepi, hampa! padahal selama ini, jauh hari sebelum saya mengenalnya, saya telah terbiasa hidup di rantau, jauh dari orang tua dan saudara. Tapi kali ini berbeda. Ketika menikah, aneh bin ajaib, bersamanya saya merasa utuh, dan saya telah pula tahu bagaimana rasanya menjadi 'separuh' lagi ketika harus berpisah sementara waktu dengannya.

Teman, bagi banyak orang menikah mungkin hanya satu dari sekian siklus hidup yang ada atau sesuatu yang berkaitan dengan menjadi sahnya apa yang diharamkan semata, tapi bagi kita yang percaya penuh pada sakralnya sebuah pernikahan, maka pernikahan adalah tentang memilih dengan kesadaran sepenuhnya untuk menjadi pribadi-pribadi yang utuh, merajut hakikat kejadian manusia yang diciptakan berpasang-pasangan, menjadikan kita sebagai bagian dari proses kelangsungan universal untuk menumbuh kembangkan keluarga-keluarga madani berdasarkan konsep keimanan dan aqidah.
Maka, saya sepenuhnya memilih untuk menikah. ^_^

Saya juga dengan tulus berharap, semoga teman-teman yang belum menikah akan segera diperkenankan untuk disegerakan menemukan jodohnya dan teman-teman yang telah memilih untuk menikah dapat juga merasakan kebahagiaan yang terus menerus dalam pernikahan itu. Dan jikapun dimasa-masa mendatang, jika pernikahan itu menemui perbedaan sudut pandang dan ketidaksamaan persepsi layaknya semua pernikahan lain di dunia ini, maka semoga kita selalu mampu menemukan titik temu yang terbaik yang akan semakin menguatkan keyakinan kita tentang betapa istimewanya sebuah pernikahan itu sehingga ia sangat patut untuk dijaga dan diperjuangkan sepenuh jiwa dan sepenuh hati. Aamiin.


Pangkalpinang, di tengah sepi yang mecengkram hati

Medio Mei 2013

No comments: