Seorang teman mengatakan bahwa kini aku adalah bintang yang kesepian, karena malam terlalu pekat untuk kujejaki sendirian. Dan, sepertinya temanku itu memang tak keliru. Sepi! Potret buram sisi hidupku kini.
Sepi adalah temanku... memang sahabatku, tapi tidak sesunyi ini...
Apakah aku telah terlalu lama dan jauh berkelana???
Berada ditengah keluarga sendiri kadang aku tetap merasa sepi bahkan tak jarang aku bertanya "apakah aku bagian dari mereka?". Kadang, tak jarang secara emosi aku kehilangan makna, berada diantara orang-orang yg kusayang dan kuhormati tak memupuskan kesepianku. Sungguh kadang aku merasa bahwa I'm not part of them somehow... mungkin karena waktuku terlalu banyak habis diperantauan... 11 tahun bukan waktu yang singkat untuk membuatku begitu mandiri... bahkan kadang merasa aku mampu melakukan segalanya dengan usahaku sendiri... hingga pada akhirnya pada titik tertentu aku merasa rapuh, tanpa pegangan, lalu menyadari bahwa orang-orang disekelilingku adalah asing bagiku.
Aku telah terlalu lama berkelana, mungkin.
Berkaca pada putaran waktu, aku memang cendrung tak terlalu banyak bicara, bahkan mungkin aku menikmati hidup dalam dunia imajiku. Tumbuh bersama dunia anak laki-laki hampir saja membuatku sempurna sebagai gadis tomboy. Bermain sepeda hobiku, bermain bola aku suka, anak laki-laki teman akrabku bahkan ketika masuk asramapun aku banyak kmengenal teman laki-laki, semuanya dalam koridor teman atau kolega organisasi. Setiap tahun bahkan aku selalu punya seorang senior yang menyebutku sebagai adik mereka dan aku memanggil mereka kakak. Aku yang tak memiliki seorang abang kandung merasa memiliki ganti dengan keadaan ini. Aku tak pernah benar-benar kesepian dengan puluhan teman-teman yang selalu ada meski kadang aku merasa sunyi pada titik-titik tertentu.
Pada masa kuliah, aku pun tetap lebih mudah akrab dengan teman laki-laki, mungkin karena ada jiwa maskulin yang kadang mengalahkan sisi femininku membuatku cendrung mudah membaur ditengah-tengah mereka dan sikap teman-teman yang mampu mengapresiasi prinsip dan pribadiku sebagai seorang perempuan juga menjadi faktor penting bagi langgengnya hubungan pertemananku meski notabenenya teman-teman karibku mayoritas laki-laki. Meski ketika itu aku tak memiliki kendaraan sendiri, toh itu tidak terlalu menyulitkan mobilisasiku karena ada teman-teman yang bersedia dan berbaik hati untuk kutodong mendukung mobilisasiku. Selalu saja hari libur menjadi waktu menyenangkan yang ditunggu-tunggu meski hanya diisi dengan ngobrol dan hang out di kampus, kantin kampus atau ruang BEM dan tempat-tempat wisata lokal lainnya. Overall, ketika itu aku tak pernah merasa sepi meski tak pelak, pada titik-titik tertentu aku merasa sendirian total, tapi itu bukan dominasi.
Fakta kemudian berbalik setelah aku kembali ke tengah-tengah keluarga tempat dimana aku berada. Kembali ke kota kecil yang perlahan mulai merangkak menuju besar ini, Pangkalpinang. Hari-hariku didominasi sepi dan sendiri. Secara finansial aku mampu menghasilkan uang yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhanku sendiri, bahkan aku masih mampu menyisakan lebih dari setengahnya untuk mengisi rekening bank yang kupunya. Aku juga sudah mampu membeli sebuah motor dengan hasil uang jerih payahku sendiri, tapi banyak dari sisi hidupku yang didominasi oleh sepi.
Aku merasa kerdil disini. Aku merasa dunia tidak terlalu ramah denganku disini. Aku merasa langkahku tak lebar disini. Aku mersa ada pagar gaib yang menyempitkan hidupku. Aku sepi. Aku sunyi. Bahkan kadang aku menangis tanpa sebab pasti selain sebuah kata SEPI. Seringkali aku malah berfikir bahwa aku benar-benar membutuhkan campur tangan seorang psychiatry atau therapist entah untuk apa, mungkin sekedar membantu membebaskanku dari belenggu yang tak kasat mata, yang mungkin sesungguhnya tak ada tapi hanya aku yang merasa bahwa itu ada atau hanya untuk mendengar dari A-Z ceritaku, keluh kesahku, kebingunganku. Aku merasa tersesat di tempat yang seharusnya kukuasai sepenuhnya.
Sempat aku merasa hidup kembali saat memiliki beberapa teman karib, tapi entah mengapa akhirnya segala yang terjadi menyadarkanku jika aku bukan apa-apa bagi mereka. Aku yang begitu menganggap mereka berharga, tapi tidak mereka. Banyak kejadian akhirnya membuka mataku bahwa aku seharusnya memang tak mesti ada diantara mereka. Dijauhi itu sakit, namun semua akan sembuh dalam waktu singkat saat kita menemukan alasan mengapa kita juga harus mengatur langkah, bukan? keegoisan, keangkuhan merasa bahwa mereka sangat amat kubutuhkan, keangkuhan yang membuatku muak akhirnya membebaskanku dari rasa sayang dan hormat serta penghargaanku kepada mereka bahkan mendendam atas sikap mereka yang seolah menganggapku tak ada, tanpa harga, bukan bagian dari mereka. Hingga kini yang masih tetap ada menganggapku nyata dan ada hanya satu orang saja. Dia yang memiliki nasib sama sepertiku, tak beda jauh. Dia didepak, sama seperti aku. Ditinggalkan, sama seperti aku. Dilupakan dan mungkin dikecam bersalah tak berbeda denganku. Kesamaan nasib memang seringkali menguatkan kaitan emosi bahkan batin diantara orang-orang yang berbeda sekalipun.
Dia yang seringkali menjadi theraphist bagi sepiku meski hadirnya hanya pada paruh waktu dalam dunia di genggamanku, handphone. Tapi ya, bagiku dia adalah oase tempatku berlari dari monotonnya hidupku meski yang ada hanya cerita-serita pendek sehari-hari.
Selebihnya, aku terseret sepi. Seringkali linglung dalam sunyi dan lintang pukang menghindari kesendirian. Tapi aku jarang selamat. Selalu saja terbekap sepi. Duniaku kian menyempit. Langkahku kian berat meski kadang jiwa berteriak berontak minta dibebaskan. Aku benar-benar takluk pada sepi dan sunyi kini hingga tak jarang aku meminta kembali pada masa-masa ketika aku tak serapuh ini terperangkap ranjau sepi dan sunyi.
Temanku yang berkata ketika itu memang benar, aku adalah bintang, bintang yang kesepian.
Aku ingin berkelana lagi saja Tuhan, membebaskan sunyiku dan jiwaku dari belenggu.
Aku ingin menjelajah lagi Tuhan, seperti ketika Engkau izinkan aku menjadi diriku sendiri dalam mensyukuri karuniaMu. ijabah pintaku Tuhan...
Aku benci sepi ini...
Sepi adalah temanku... memang sahabatku, tapi tidak sesunyi ini...
Apakah aku telah terlalu lama dan jauh berkelana???
Berada ditengah keluarga sendiri kadang aku tetap merasa sepi bahkan tak jarang aku bertanya "apakah aku bagian dari mereka?". Kadang, tak jarang secara emosi aku kehilangan makna, berada diantara orang-orang yg kusayang dan kuhormati tak memupuskan kesepianku. Sungguh kadang aku merasa bahwa I'm not part of them somehow... mungkin karena waktuku terlalu banyak habis diperantauan... 11 tahun bukan waktu yang singkat untuk membuatku begitu mandiri... bahkan kadang merasa aku mampu melakukan segalanya dengan usahaku sendiri... hingga pada akhirnya pada titik tertentu aku merasa rapuh, tanpa pegangan, lalu menyadari bahwa orang-orang disekelilingku adalah asing bagiku.
Aku telah terlalu lama berkelana, mungkin.
Berkaca pada putaran waktu, aku memang cendrung tak terlalu banyak bicara, bahkan mungkin aku menikmati hidup dalam dunia imajiku. Tumbuh bersama dunia anak laki-laki hampir saja membuatku sempurna sebagai gadis tomboy. Bermain sepeda hobiku, bermain bola aku suka, anak laki-laki teman akrabku bahkan ketika masuk asramapun aku banyak kmengenal teman laki-laki, semuanya dalam koridor teman atau kolega organisasi. Setiap tahun bahkan aku selalu punya seorang senior yang menyebutku sebagai adik mereka dan aku memanggil mereka kakak. Aku yang tak memiliki seorang abang kandung merasa memiliki ganti dengan keadaan ini. Aku tak pernah benar-benar kesepian dengan puluhan teman-teman yang selalu ada meski kadang aku merasa sunyi pada titik-titik tertentu.
Pada masa kuliah, aku pun tetap lebih mudah akrab dengan teman laki-laki, mungkin karena ada jiwa maskulin yang kadang mengalahkan sisi femininku membuatku cendrung mudah membaur ditengah-tengah mereka dan sikap teman-teman yang mampu mengapresiasi prinsip dan pribadiku sebagai seorang perempuan juga menjadi faktor penting bagi langgengnya hubungan pertemananku meski notabenenya teman-teman karibku mayoritas laki-laki. Meski ketika itu aku tak memiliki kendaraan sendiri, toh itu tidak terlalu menyulitkan mobilisasiku karena ada teman-teman yang bersedia dan berbaik hati untuk kutodong mendukung mobilisasiku. Selalu saja hari libur menjadi waktu menyenangkan yang ditunggu-tunggu meski hanya diisi dengan ngobrol dan hang out di kampus, kantin kampus atau ruang BEM dan tempat-tempat wisata lokal lainnya. Overall, ketika itu aku tak pernah merasa sepi meski tak pelak, pada titik-titik tertentu aku merasa sendirian total, tapi itu bukan dominasi.
Fakta kemudian berbalik setelah aku kembali ke tengah-tengah keluarga tempat dimana aku berada. Kembali ke kota kecil yang perlahan mulai merangkak menuju besar ini, Pangkalpinang. Hari-hariku didominasi sepi dan sendiri. Secara finansial aku mampu menghasilkan uang yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhanku sendiri, bahkan aku masih mampu menyisakan lebih dari setengahnya untuk mengisi rekening bank yang kupunya. Aku juga sudah mampu membeli sebuah motor dengan hasil uang jerih payahku sendiri, tapi banyak dari sisi hidupku yang didominasi oleh sepi.
Aku merasa kerdil disini. Aku merasa dunia tidak terlalu ramah denganku disini. Aku merasa langkahku tak lebar disini. Aku mersa ada pagar gaib yang menyempitkan hidupku. Aku sepi. Aku sunyi. Bahkan kadang aku menangis tanpa sebab pasti selain sebuah kata SEPI. Seringkali aku malah berfikir bahwa aku benar-benar membutuhkan campur tangan seorang psychiatry atau therapist entah untuk apa, mungkin sekedar membantu membebaskanku dari belenggu yang tak kasat mata, yang mungkin sesungguhnya tak ada tapi hanya aku yang merasa bahwa itu ada atau hanya untuk mendengar dari A-Z ceritaku, keluh kesahku, kebingunganku. Aku merasa tersesat di tempat yang seharusnya kukuasai sepenuhnya.
Sempat aku merasa hidup kembali saat memiliki beberapa teman karib, tapi entah mengapa akhirnya segala yang terjadi menyadarkanku jika aku bukan apa-apa bagi mereka. Aku yang begitu menganggap mereka berharga, tapi tidak mereka. Banyak kejadian akhirnya membuka mataku bahwa aku seharusnya memang tak mesti ada diantara mereka. Dijauhi itu sakit, namun semua akan sembuh dalam waktu singkat saat kita menemukan alasan mengapa kita juga harus mengatur langkah, bukan? keegoisan, keangkuhan merasa bahwa mereka sangat amat kubutuhkan, keangkuhan yang membuatku muak akhirnya membebaskanku dari rasa sayang dan hormat serta penghargaanku kepada mereka bahkan mendendam atas sikap mereka yang seolah menganggapku tak ada, tanpa harga, bukan bagian dari mereka. Hingga kini yang masih tetap ada menganggapku nyata dan ada hanya satu orang saja. Dia yang memiliki nasib sama sepertiku, tak beda jauh. Dia didepak, sama seperti aku. Ditinggalkan, sama seperti aku. Dilupakan dan mungkin dikecam bersalah tak berbeda denganku. Kesamaan nasib memang seringkali menguatkan kaitan emosi bahkan batin diantara orang-orang yang berbeda sekalipun.
Dia yang seringkali menjadi theraphist bagi sepiku meski hadirnya hanya pada paruh waktu dalam dunia di genggamanku, handphone. Tapi ya, bagiku dia adalah oase tempatku berlari dari monotonnya hidupku meski yang ada hanya cerita-serita pendek sehari-hari.
Selebihnya, aku terseret sepi. Seringkali linglung dalam sunyi dan lintang pukang menghindari kesendirian. Tapi aku jarang selamat. Selalu saja terbekap sepi. Duniaku kian menyempit. Langkahku kian berat meski kadang jiwa berteriak berontak minta dibebaskan. Aku benar-benar takluk pada sepi dan sunyi kini hingga tak jarang aku meminta kembali pada masa-masa ketika aku tak serapuh ini terperangkap ranjau sepi dan sunyi.
Temanku yang berkata ketika itu memang benar, aku adalah bintang, bintang yang kesepian.
Aku ingin berkelana lagi saja Tuhan, membebaskan sunyiku dan jiwaku dari belenggu.
Aku ingin menjelajah lagi Tuhan, seperti ketika Engkau izinkan aku menjadi diriku sendiri dalam mensyukuri karuniaMu. ijabah pintaku Tuhan...
Aku benci sepi ini...
No comments:
Post a Comment