Wednesday, December 14, 2011

A Trip To Heal The Heart (part 3/End)

-Salam, readers ^_^

Postingan ini masih menyambung postingan sebelumnya di A Trip To Heal The Heart part sebelumnya karena memang partnya belum the end hohohoo... Selamat membaca, semoga memberikan sesuatu (meskipun bukan sesuatu banget) yang menyenangkan, menarik, atau berharap dapat termotivasi dengan sepenggal cerita ini ^_^ Sebelumnya, terimakasih telah mengunjungi laman blog saya. Nah, Selamat membaca, sodara-sodara ^___^

Stadion yang didesign oleh Mr. Guyon


Parking Lot

Sudut persimpangan

Seoul Stadium Mall

Taekwondo Center
Day 6 : Dari Otomotif hingga Arsitektur!

Pada hari ke-enam dari rangkaian program fase Korea, rombongan dan saya mengunjungi salah satu dari tiga Mega Factory perusahaan otomotif ternama Korea, Hyundai. Udara di luar bus mulai lebih dingin dari biasanya dan kali ini para delegasi diajak mengunjungi Hyundai Motor Plant yang ada di Jeonju dan diperkenalkan dengan profil perusahaan raksasa tersebut.
Saya pernah menonton acara Mega Factories di channel NGC tentang pabrik BMW di negeri lain sana (hihihii), robot-robot nan canggih dan super gueddeee, manusia-manusia terampil, alat-alat canggih gih gih de el el yang digambarkan serupa dengan apa yang saya lihat di pabrik Hyundai di Jeonju ini yang khusus untuk assemble truk dan bus gedeee..... bahkan bus untuk fasilitas mobilisasi para pemain bola dari segala penjuru dunia di  event akbar dunia World Cup 2002 Seoul yang dilengkapi dengan kamar mandi dan toilet juga dirakit disini ('Aleeemmm... liat bus itu? untuk pemain bolanya' inget banget teriakkan Ye-Seul Soe sang interpreter bak barbie itu ke Aleem cr dari Sul-Bar yang emang maniak bola). Dalam 1 jam pabrik perakitan ini bisa menghasilkan 16 bus kecil dan 4 truck besarrrr!!! WOW!!!
Dari Pabrik Hyundai Motor Company, kegiatan dilanjutkan dengan perjalanan ke Muju salah satu asset wisata Korea Selatan terutama untuk festival Kunang-kunang.
Muju Shrine
Rombongan kecil kami ini mengunjungi beberapa public facilities seperti Muju Youth Center, An-Seong district office, Muju Public Shrine (pemakaman ini dulunya seppi dan menyeramkan sehingga tak banyak yang mau berziarah disini lalu oleh sang arsitek, pemakaman ini di design ulang hingga menjadi pemakan yang menarik dan artistik. Teman-teman bahkan betah jeprat-jepret disini... hahahah pemakaman kok keren ya *giggling) , Saya dan teman-teman juga berkunjung ke Public Service Center dan Tourist Information Center. Semua bangunan yang kami kunjungi itu adalah hasil design canggihnya Mr. Guyon dari Guyon Architecture Association yang selalu mengedepankan konsep Eco-friendly dan menjunjung harmonisasi dengan alam tiap bangunan yang ia design! Great kan, sodara-sodara???
Youth center
Community Center

Balik lagi ke Jeonju  dan kemudian malamnya, saya dan teman-teman menikmati makan malam di salah satu restoran yang terkenal dengan Dolsot Bibimbap nya. Jeonju memang terkenalllllll sekali dengan Dolsot Bibimbap, itu adalah Bibimbap (nasi campur) yang disajikan di dalam mangkuk batu panassss yang dibagian bawahnya diberi minyak wijen agar lapisan nasi yang sedikit menjadi kerak tercium wangi menggoda selera dengan genit dan agar telur mentah yang ada diatas nasinya menjadi matang. Berbagai sayuran dan sup khas si Sayur Asem sipit serta kimchi yang tak pernah absen juga mendampingi Bibimbap yang lagi-lagi porsi guedde ittuu. Sebenarnya ada satu kejadian aneh bin ajaib dan lucu menggemaskan memalukan yang terjasi malam itu, tapi tak etis rasanya kalau dibicarakan disini, jadi biarlah saya, mak Indah (aktor utama dibalik kejadian extraordinary itu), Daud, Wawan, Fenny dan Astried saja yang tau.... hahahahahah 100% ditanggung konyol deh pokoknyyyaaaa!!!!

Day 7: Bola! Bola! Bola! Antara Si Kulit Bundar dan kisah si gunung sampah

Stadion Seoul untuk FIFA World Cup 2002. Huge!!!
Stadion Piala Dunia 2002 dan taman piala dunia di Seoul ini adalah salah satu objek wisata yang dibuka untuk umum sebagai kelanjutan dari pemanfaatan stadion yang dulunya digunakan untuk penyelenggaraan Piala Dunia 2002 bersama Jepang. Stadion di Seoul adalah salah satu dari sembilan (9) stadion yang digunakan pada event tersebut. Stadion ini dibangun di Nanjido yang dulunya merupakan pulau tempat pembuangan akhir sampah masyarakat kota Seoul sejak tahun 1978 hingga 1993. Sejak tahun 1993, Nanjido diperbaiki oleh pemerintah untuk menciptakan keseimbangan alam dan ekosistem di pulau tersebut. Saat ini taman Piala Dunia sudah memiliki ekosistem yang sehat yang juga digunakan untuk beragam kegiatan eco-education bagi pelajar dan masyarakat secara umu. (gak bisa ngebayangin gimana giatnya para pekerja 'menyulap' bukit sampah itu jadi taman yang luassssssss, indahhhhhh plus stadium yang meggahhhhhh ituuuuu) *__* *thinking
Maket Seoul World Cup 2002 Park
Puas foto-foto, beli merchandise dan liat-liat museum di sini, tujuan selanjutnya adalah kunjungan ke Pusat Pemulihan Sumber Daya di Mapo.  Ini adalah salah satu fasilitas pengolahan sampah yang ada di Korea Selatan. Pemerintah setempat berasumsi bahwa sampah dari daerah Metropolitan Korea tidak akan tertampung lagi di TPA-TPA biasa pada tahun 2022, karena itulah pemerintah setempat membangun fasilitas Recovery Sumber daya alam tersebut yang bertujuan untuk melakukan pembakaran terhadap sampah-sampah dari kota-kota Metropolis Korea dan energi panas yang dihasilkan kemudian disalurkan melalui pipa-pipa khusus untuk memenuhi kebutuhan listrik di tempat tersebut dan disalurkan ke daerah sekitarnya, kemudian abu dari pembakaran sampah yang telah melalui empat kali proses strerilisasi dari zat dan logam berbahaya dijadikan bahan baku pembuatan paving block yang kemudian dimanfaatkan untuk pembangunan kota.Wuah! ini lagi yang seru liat para operator mengais sampah dengan mesin robot dan memasukkan bongkahan sampah yang gak terlalu bau lagi itu ke perapian. Wusss!!!! hangus terbakarrrr! Pernah nonton film Toy Story kan sodara-sodara? yang ceritanya si Cowboy itu sampe masuk ke tempat pembuangan sampah itu looohhh... nah seperti itu kira-kira gambaran waktu kami melihat kerja bapak-bapak opertaor itu membakar sampah! Ollalalaaalaaa... kami merasa jadi para boneka yang dikejar-kejar boneka jahat dan tiba-tiba, plok!!! berada di perut bumi bersama timbunan sampah yang siap hendak dibakarrr!!!

 
Selanjutnya, sore harinya para delegasi berkumpul di Ilsandong-gu office, Goyang-si, Gyeonggi-do untuk kemudian dipertemukan dengan host family yang telah menanti disana lalu semua say da da da da untuk kemudian bergabung bersama keluarga homestay maing-masing.
Saya bersama Inda (DKI Jakarta) mendapatkan homestay dengan host family nya Ms. Winnie yang suaminya adalah seorang dosen matematika dan memiliki sebuah akademi matematika, dan putranya, Choi Hyunkuk atau nama Inggrisnya adalah Brian (baca: Bra-yen ^_^) yang berusia 7 tahun. Rumah keluarga ini adalah sebuah apartemen kelas menengah dengan 3 kamar tidur, 1 ruang tamu, dapur, ruang laundry dan kamar mandi serta beranda yang banyak terdapat tanaman hias. Si Brian ternyata suka sekali bermain pesawat terbang kertas dan bola (jadinya saya disana diajak membuat pesawat terbang kertas dan main bola di ruang tamu hahahah). Si Brian yang tadinya lebih banyak diam akhirnya antusias mengajak saya bermain setelah surprise (ketahuan dari ekspresi wajahnya yang lucu menggemaskan dengan mata sipit yang tiba-tiba terbeliak tapi tetep gak belok heheheh) ketika mengetahui bahwa nama mainan yang sedang ia mainkan saat itu adalah Bakugan (jiah! di Indonesia kan juga populer tuh mainan ehehheheeh) dan bahwa saya tahu tentang robot-robot transformer yang ia koleksi! Asyiiiikkk!!! saya telah berhasil mencuri perhatiannya!!! hohohooh

Day 8: The Dancing city, Goyang City dan Makam Raja  

Salah satu makam yang ada di Royal Tombs site
Pagi itu dihabiskan dengan berjalan-jalan ala weekendnya keluarga Korea ke Royal Tombs of Joseon Dynasty de Gyeonggi-do sambil sejenak berjemur di bawah sinar matahari untuk mengusir dingin yang menggrogoti badan sambil menikmati minuman hangat (coffee) dan jus serta snack bersama keluarga Homestay. Situs yang merupakan salah satu dari situs warisan dunia Korea Selatan yang masuk daftar UNESCO itu terdiri dari beberapa makam para keluarga raja yang juga dihiasi berbagai rupa bangunan dan gerbang merah dengan beragam simbolisasi dan makna tersendiri. Sayangnya kamera saya hari itu low bat, sodara-sodara, jadi tak banyak hal yang bisa diabadikan. Hiks *nangisbombay

Selain melihat-lihat makam-makam dengan segala assesorisnya (hadoh! salah istilah kali ya) saya juga menikmati beberapa bagian alam lainnya seperti melihat beberapa burung magpie (burung khas Kor-Sel) dan juga salah satu spesies gagak yang juga burung khas Kor-Sel, tak ketinggalan menikmati suasan hutan yang ada di sekitar tempat itu yang daunnya pada meranggas, maklumlah sudah memasuki musim dingin, sodara-sodara ^_^ si Brian malah sempat mengambilkan sehelai daun mapple yang merah untuk saya.(unyu unyu.... ^_^)


Setelah program Homestay berakhir, para delegasi Indonesia diajak menonton pertunjukan musical asli Korea yang dinamakan Miso yang berarti senyum. Pertunjukan ini adalah perpaduan antara teaterikal tari dan lagu-lagu yang diiringi dengan instrument perkusi dan instrument tradisional Korea.
Agenda ini ditujukan untuk memperkenalkan seni teater asli Korea yang juga mementaskan cerita klasik Korea dengan harapan para audience akan belajar banyak tentang budaya Korea klasik. Pertunjukan yang ditampilkan hari itu mengangkat cerita Chunyang dan Monryong (bacanya: Monyong loh hihiih *_*). Kereeeeennnnnnnn!!!!!!!!!!

Day 9: Hanbok! Puasssss banget!

Kunjungan ini diawali dengan short tour ke berbagai spot di dalam Museum Nasional Korea diantaranya melihat beberapa artefak kuno dari zaman Dinasti awal Korea hingga Dinasti Jeoson, patung-patung tembaga dan patung batu Budha serta melihat Pagoda Kuno yang berusia ratusan tahun.
Dari ruangan Museum Nasional, delegasi Indonesia diajak ke ruangan Promosi Budaya dan Jiwa Korea. Proyek Promosi ini dimulai tahun 2005 dan bertujuan untuk menyebarkan budaya dan sejarah Korea ke seluruh dunia.
Di ruangan tersebut, delegasi Indonesia diperkenalkan dengan budaya dan sejarah Korea melalui slide presentation kemudian delegasi Indonesia dibimbing untuk belajar tatat cara sopan santun masyarakat Korea diantaranya adalah cara memberikan salam hormat kepada orang yang lebih tua. Selain itu, para delegasi Indonesia dijamu dengan panganan tradisional Korea khususnya yang biasa dihidangkan pada perayaan khusus seperti Tahun Baru. Pada akhir sesi, delegasi Indonesia diperkenankan mengenakan Hanbok, pakaian tradisional Korea Selatan. Sedikit kecewa yang terselip karena ada ekspektasi yang tak didapati dalam program berasa terobati dengan kesempatan mengenakan Hanbok (sangat penasaran gimana kalo hanbok dipadu dengan jilbab hehehhe ^_^ rupanya cantik! )
This is how Koreans take bow to the older

D'oh! jatuh lagi!!! thank you, Kim ^_^
Puas ber-hanbok ria, siangnya diajak ke Mok-Dong 
Ice Skating rink yang didirikan pada tahun 1989 yang kemudian dikelola oleh Ice Skater Association of Korea dan Korea Hockey Association.  Bertempat di Mok-dong Ice Skating Rink itulah para delegasi Indonesia diajak menikmati arena skating dan diajarkan bermain ice skating serta membaur bersama anggota KEYOSC. Kegiatan ini adalah salah satu cara untuk memperkenalkan budaya dan gaya hidup masyarakat Korea Selatan khususnya memperkenalkan ice skating yang telah menjadi salah satu olahraga favorit masyarakat Korea Selatan.Tapi gawat tenan! saya berkali-kali gedebak-gedebuk jatuh.... sulit banget nget nget mengatur langkah diatas lapangan es padat itu (atau emang saya yang oon dan gak bakat ice skating?) sampai-sampai Kim dan Sherina yang menggandeng tangan saya pun beberapa kali ikut terjatuh, untungnya bisa pasang kuda-kuda pas jatuhnya jadi gak lebam stadium akut karena jatuh berkali-kali dengan cukup keras hahahahah untuuuuuungggggg....
Cukup puas ber ice-skating kemudian saya dan delegasi Indonesia lainnya diberikan free time untuk shopping (Yiihhhaa!!!)  Pasar Namdaemun dan Myeong Dong adalah dua pasar yang terkenal di Seoul sebagai sentra handicraft dan cinderamata yang diminati oleh para wisatawan asing dan juga masyarakat lokal. Wisata belanja yang ditawarkan di pasar ini sangat diminati, terlebih lagi turut dijajakan pula beberapa panganan khas Horea seperti ginseng dan olahan rumput laut, kim.
Alim dan Kahfi lagi lagi borrrrooooonngggggggggggggg sampai-sampai terlambat dinner di seputar Cheonggyecheon dengan menu mantap: Rabyoki alias mie pedas yang dipadu dengan kue beras! laziz jiddan!!! *slruuuppppp! :-p

Day 10: Edukasi dan Informasi 
EBS!!! Yuhuuu!!!! Cilukkkk Baaaaa!!!
Hari kunjungan terakhir di Korea diisi dengan kunjungan ke Educational Broadcasting System (EBS) (Astried senanggg setengah hidup diajak kesisni meliahat dunianya kekekekekek). EBS adalah pusat penyiaran Korea yang memfokuskan penyiaran di bidang pendidikan umum. EBS mulai beroperasi pada tahun 1990 dan saat ini telah memiliki enam jenis penyiaran, enam jenis situs web dan satu channel radio. EBS juga memfokuskan berbagai kegiatan dalam bidang pengembangan bahasa.
Pada anjangkarya ini kita semua diajak berkeliling oleh Direktur EBS ke beberapa studio TV yang tengah menyiarkan live program serta melakukan dialog tentang aktifitas yang dilakukan di studio tersebut.
Garuda di dindingku
Kunjungan selanjutnya adalah Courtessy Call ke Kedutaan Besar Indonesia untuk Korea yang dilakukan pada jam 13.30 bertempat di Youido-dong Youngdongpo-ku, Seoul. Para delegasi Indonesia melakukan courtesy call langsung dengan Bapak Nick T. Dammen, Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan.
Dalam sambutannya, Bapak Duta Besar memaparkan secara singkat tentang hubungan diplomatic Indonesia dan Korea Selatan dalam segala bidang, seperti Politik dan Keamanan, Ekonomi serta Sosial Budaya serta optimisme tentang semakin berkembang dan membaiknya diplomatic relationship antara Republik Indonesia dan Republik Korea Selatan.
salah satu karya MG Pringgontono
Menutup hari itu kunjungan purna adalah ke Geumachon Art Space yang merupakan salah satu dari sembilan (9) tempat kreatif dan seni yang ada di Seoul. Tempat ini merupakan wadah pendidikan seni bagi masyarakat Seoul yang juga menyelenggarakan pameran seni secara rutin.
Para delegasi Indonesia diajak berkunjung ke tempat ini dan bertemu dengan penanggung jawab badan tersebut serta memiliki kesempatan untuk menyaksikan hasil seni yang dikombinasikan dengan hi-tech yang telah dipamerkan secara umum. Dan sssstt! Surprise!!! ternyata kita dipertemukan dan diberi kesempatan berdialog dengan salah satu dari dua orang seniman Indonesian yang diundang oleh pemerintah Korea Selatan untuk membuka pameran seni bersama tujuh orang lainnya dari berbagai Negara, MG Pringgotono.
Salahsatu hasil karya futuristik seniman yang dipamerkan



*Epilog
Hahahahahahah itu dia cerita saya kali ini tentang kegiatan selama IKYEP 2011 untuk fase di Korea Selatan. Hmmmmm doakan ya sodara-sodara agar impian saya berikutnya berikutnya selanjutnya dan selanjut lanjutnya juga berkenan diijabah Allah, Tuhan Yang Maha Kaya ^_^
Gomawo ^_^
Hanbok meets hijab! Beautiful!!!


No comments: