Friday, June 3, 2011

Sungai Rangkui; Kenangan masa kecil dan fakta sekarang

Salam, Readers ^_^

Sungai Rangkui yang membelah jantung kota Pangkalapinang dulunya merupakan tempat renang favoritku, jauh sebelum adanya kolam renang komersil di Kacang Pedang atau juga jauh sebelum masyarakat mengenal Tirta Tapta pemandian air panas di Pemali. Sungai Rangkui yang mengular sepanjang sekitar 7 kilometer itu dulunya adalah tempatku berenang diakhir pekan. Airnya yang jernih, dalam dan segar itu masih bisa kami, masyarakat sekitar sungai, nikmati. Tapi itu dulu! Ketika aku masih seorang anak sekolah dasar pada sekitar tahun 1993 sampai tahun 200an.
Sejak pindah ke Pangkalpinang pada tahun 1993, sungai Rangkui  memang menjadi akrab bagiku, apalagi bagi masayarakat sekitar yang sudah berpuluhan tahun hidup disana. Masih jelas rasanya aku mengingat bagaimana riangnya mandi dan berenang di sungai itu. Kabar yang kata orang sekitar di sungai ini terdapat buaya tak pernah menyurutkan niatku, apalagi anak-anak asli penduduk sini, untuk berenang dan bahkan mengadakan lomba renang yang pemenangnya akan digendong /diambin oleh yang kalah. Bahkan di akhir pekan, hari Ahad, aku akan pamitan ke umi dan minta izin mandi disana, ber jam-jam! Hahaha... bahkan pernah pula aku dan ayukku (kakak perempuan) harus dijemput dengan ancaman dicubit kalau tidak segera pulang. Alhasil setibanya di rumah omelan umi-lah yang menyambut! Salahku memang, mandi sampai mata merah ditambah lagi menghasut ayukku untuk juga ikutan mandi berlama-lama di sungai! Hahahah... satu sisi kenakalan masa kecil yang indah, kufikir! ^_^
Rumah kami berada tak jauh dari sungai Rangkui, hanya berjarak beberapa meter dari kolong terdekat. Kolong, itu sebutan untuk kolam dari aliran anak-anak sungai kecil dari sungai Rangkui yanga da di dekat rumah kami. Dulu banyak tumbuh berbagai macam pohon disana, seperti pohon kemiri, pohon mangga, pohon salak dan berbagai macam tanaman belukar lainnya. Pohon dan semak belukar itu pulalah yang menjadikan kolong (yang kami sebut Kolong Pak Hatta karena pemilik tanah di dekat kolong tersebut bernama Hatta)  itu menjadi sangat sejuk. Si pemilik tanah juga membuat beberapa kolam ikan disekitar kolong itu, yang ditepinya terdapat pohon kemiri dan pohon salak. Wuah! pada musim ujian biasanya aku sering duduk dibawah pohon kemiri itu untuk belajar atau sekedar 'melarikan diri' dari buku-buku yang melotot kepadaku. (Imaginasi anak kecil, siswa SD kelas 4an gitu deh).
Kalau hari libur, aku, ayahku, umiku, dan juga ayukku (adikku belum nongol ke dunia ketika itu dan beberapa tahun setelahnya juga masih terlalu kecil untuk berenang heheeh) biasanya mandi di kolong Pak Hatta itu sebagai alternatif lain selain mandi di sungai Rangkui yang lebih besaarrr. Dulu, aku masih ingat sekali, ayahku mengajak kami main balon-balon dari kain. 
Umiku yang mencuci beberapa pakaian akan mengikhlaskan kain sarung ayah untuk kami jadikan mainan. Cara mainnya adalah; ayahku akan mengikat ujung kain sarung itu lalu kami akan diminta menyelam sementara balon kain sarung itu terisi udara dan menggelembung! nah kami akan memasukan kepala kami kedalam balon sarung itu selama mungkin sampai kami tak kuat lagi menahan nafas, pemenangnya adalah siapa yang paling lama bisa bertahan di dalam balon itu, dan biasanya itu AKU!!!
Jembatan itu, yang disebut dengan Jembatan Pahlawan Dua Belas, dulunya tak ada disana. Bantaran sungai inipun hanya merupkan tanah biasa, bukan berupa tembok semen. Dulu, sungai Rangkui berupa sungai yang dikelilingi rawa-rawa (tak heran kalau orang-orang tua selalu mengatakan ada buaya yang menghuni sungai ini. Tentu hal itu bukan hanya untuk menakut-nakuti kami, tapi agar tentunya kami juga berwaspada) banyak pula terdapat rumpun-rumpun tanaman purun, yang sering juga dimanfaatkan untuk membuat kerajinan tikar atau topi, di rawa-rawa yang ada di sungai Rangkui. Tapi sekarang rawa-rawa itu tak ada lagi, sudah digali oleh pemerintah kota Pangkalpinang menjadi sungai retensi alias waduk yang digunakan untuk sumber air PDAM. 
Kalau dulu, aku sering kali melihat teman-temanku, para anak-anak sungai, menaklukan aliran sungai Rangkui dengan menjadikan ban dalam mobil bekas sebagai rakit. istilah sekarang permainan ini dikenal dengan tubing, seperti arung jeram. Kalau tidak ber-tubing ria, teman-temanku itu juga kadang menggunakan rakit menyusuri aliran sungai Rangkui dan kembali ke muara sungai tempat masyarakat sekitar melakukan aktifitas mandi dan mencuci. Sekarang, tak ada lagi aktifitas arung jeram dengan tubing atau rakit yang dilakukan anak-anak sungai, teman-temanku itu. Sejak sungai Rangkui dibelakang rumahku di Kelurahan Keramat ini didam dan dijadikan waduk pada tahun 2008, kondisi sungai ini sudah tidak bersih dan jernih lagi seperti dulu. Memang, jembatan Pahlawan Dua Belas yang membentang dan menghubungkan Kecamatan Rangkui dan Kacang Pedang, Gerunggang, jalanan kian ramai. Beberapa bulan belakangan masyarakat sekitar berinisiatif menyewakan beberapa perahu yang lalu digunakan para wisatawan domestik (tentunya) untuk menyelusuri sungai Rangkui di kelurahan keramat sampai ke sekitar pos PDAM di kelurahan Kacang Pedang. Well, tanpa safety live jacket alias pelampung tetap saja tawaran ini menjadi salah satu wisata air yang cukup diminati masyarakat sekitar Pangkalpinang. Tak mahal. Tak jauh. Jadilah saban sore khusunya di hari libur dan weekend masyarakat akan datang ramai-ramai dan rela antri demi mencicipi siwata air sederhana tersebut. 
Konon, dulunya ketika mesin pembangunan Dam masih meraung beroperasi di sungai tersebut, santer terdengar kabar kalau pemerintah akan menjadikan sungai rangkui di Kelurahan Keramat dan Kacang Pedang itu untuk objek wisata air, tapi sampai sekarang wacana tersebut tak kunjung diaplikasikan, tak heran jika kemudian masyarakat-lah yang berinisiatif untuk menawarkan penyewaan perahu sebagai alternatif dari wacana wisata air di sungai tersebut. Jenius!! $_$
 
Gambar diatas adalah salah satu hasil jepretanku yang diambil hari Kamis yang lalu dan tentu saja berlokasi di sungai Rangkui belakang rumah. View yang indah bukan??? Namun sayangnya, sekarang sungai Rangkui tak lagi sama seperti dulu. Tak ada lagi air yang jernih, karena sudah terganti dengan air yang coklat kehitaman. Tak banyak lagi biota sungai yang hidup disana, meski masyarakat sesekali tetap dapat menangkap beberapa ikan baik dari hasil pancingan atau menjaring. Tapi sungguh, kondisinya tak lagi sama. Tak lagi bisa melihat ikan di dalam sungai dengan kasat mata seperti yang dulu sering kutemui ketika aku masih sering mandi di Kolong Pak Hatta ketika kecil. Kondisi ini dipicu oleh penambangan timah konvensional (TI) yang dilakukan masyarakat di hulu sungai bertahun-tahun lalu, alhasil, ekosistem di sungai ini mulai terganggu. Tak banyak lagi burung-burung rawa yang hilir mudik. Tak jernih lagi airnya dan tak lagi memikat mata seindah dulu. Masyarakat juga telah enggan melakukan aktifitas mencuci dan mandi disana. Untuk mendapatkan air minum, masyarakat mulai mengeluarkan uang untuk mengebor sumur karena air sungai tak lagi dapat dikonsumsi.
Meski demikian, kadang aku juga masih sering menemui anak-anak di sekitaran Kelurahan Pintu Air masih saja mandi di aliran sungai Rangkui yang membelah kelurahan Pintu Air bawah dan atas apalagi ketika slaah satu jembatan penyebrangan disana patah. Tanpa peduli akan kesehatan atau serangan gatal-gatal yang sangat mungkin dirasakan akibat mandi air kotor sungai, anak-anak tersebut tetap saja mandi dan bergembira disana apalagi ketika hari hujan. Itulah dunia anak-anak. Bergembira!!!

Sungai Rangkui yang membelah kota Pangkalpinang yang bermotto Kota BERARTI (Bersih, Aman, Rapi, Tertib dan Indah) ini memang tak lagi pernah sama. Air yang dulu jernih telah menjadi kecoklatan dan berlumpur. Lumpur! Hal itu memang menjadi salah satu masalah yang menjadi perhatian masyarakat dan juka pemerintah daeraha, katanya sih. Karena persoalan lumpur inilah kemudian Pemkot Pangkalpinang mengerahkan puluhan orang untuk menangani masalah lumpur tersebut. 
Well, dengar kabar, karena ketiadaan dana, maka pemerintah akhirnya mempekerjakan para pekerja dari salah satu cv/perusahaan untuk menangani hal lumpur yang memicu pendangkalan sungai Rangkui dengan imbalan, pihak pelaksana diperbolehkan menggali potensi alam, dalam hal ini adalah TIMAH, yang tentu tersedia melimpah di sungai ini. fiuhh!!!


Sungai Rangkui memang tak lagi pernah sama dalam hal kebersihan, kejernihan airnya dan kealamian alamnya jika dibandingkan dulu; ketika para anak-anak sungai teman-temanku masih begitu betah bermain disana, dengan keadaan sekarang dimana moderenitas; Dam, PDAM, jembatan baja, telah menyentuh hingga ke bibir sungai. Bahkan bukit disebrang sungai yang dulunya adalah hutan telah dirambah sejak bertahun lalu dan dibangun perumahan dinas pemkot yang ternyata sekarang bahkan terbengkalai begitu saja setelah menghabiskan sekian ratus juta bahkan milyaran uang untuk pembangunannya. Hutan yang dulu menghiasi bukit itu yang pernah menjadi rumah bagi banyak hewan kini telah berubah menjadi sebuah bukit yang dikalangan remaja dikenal dengan nama bukit "DEALOVA" dan berubah fungsi sebagai arena balap liar serta tempat mejeng memadu kasih. Bahkan tak jarang pada perayaan tertentu seperti tahun baru akan sangat mudah untuk menemukan botol-botol minuman keras. Selain itu, beberapa siswa dari beberapa sekolah sekitar pernah ditemukan bolos/minggat dan nge-lem (meghisap lem aibon) di bantaran sungai. Miris!!! 
Dulu, sungai Rangkui adalah bagian dari keindahan masa kecilku dan banyak anak sekitar Rangkui lainnya, namun kini... Pasca penambangan timah ilegal , sungai tersebut berubah fungsi menjadi waduk yang kebersihan airnya sebagai air baku PDAM pun masih dipertanyakan. Ditambah lagi, pergaulan bebas yang mulai merusak moral remaja dan pemuda seringkali menyakiti alam dengan dimanfaatkannya sungai Rangkui dan wilayah sekitar seperti bukit Dealova sebagi tempat hura-hura. MIRIS!!!
Siapa yang bisa mengembalikan sungai ini seperti dulu kala??? Mungkinkah???

3 comments:

Anonymous said...

saya kangen betul dengan suasana retensi pada sore hari.... tmpat saya jogging waktu dulu di bangka.. kangen bangka

Anonymous said...

saya kangen betul dengan retensi... itu tempat saya jogging 3 blan yg lalu pas masih tinggal dikacangpedang

Unknown said...

Masa kecil di sungai dulu memang indah dan tak terlupakan
Setelah membaca tulisan anda saya mendapatkan inspirasi membuat penelitian untuk skripsi saya
Terimakasih