Thursday, December 8, 2011

A Trip to Heal The Heart (Part 2)

Salam, readers ^_^
Indonesia Korea Youth Exchange Program atau yang dikenal dengan IKYEP untuk angkatan ke 2 tahun 2011 memang telah usai, tapi sungguh, sodara-sodara semua hal yang berkaitan dengan kegiatan singkat yang adalah mimpi-yang-jadi-kenyataan itu terasa masih melekat erat rat rat seerat-eratnya diingatan. Jiah! melankolis neh ceritanya.. >_< 
Rasanya baru kemarin menginjakkan kaki di Korea, lalu wara-wiri Jakarta dan Solo sampai kecapaian, letih, lesu, bosan juga ada bahkan, tapi well, mengingat hal ini adalah suatu mimpi yang jadi kenyataan rasanya lelah, letih, dongkol, bosa, capai itu semua mua mua bisa dieleminasi dengan cantik. ^_^ 
Nah, fellas.... untuk recall tentang kegiatan ini khususnya phase Korea-nya, jadi deh ini tulisan di posting dengan judul A trip to heal the heart (idih! udah kayak pendahuluan makalah aja... lol ). Wait up! A trip to Heal the Heart??? ha ha ha iya, sebuah perjalanan untuk menyembuhkan hati! Sebenarnya program ini bukanlah target meski benar kalo program Program Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) adalah impian bahkan sebelum saya lulus IELSP 2008 lalu. Meski IKYEP bukanlah program target, tapi program ini, terlepas dari segala kekurangan dan ekspetasi yang tidak seluruhnya terpenuhi, adalah sebuah obat ampuh yang mampu mengobati kekecewaan saya atas kandasnya harapan menuju Amerika melalui Indonesia Fellowship Program (IFP) dan harus puas hanya sampai ke tahap interview. >:_:<  
Kalo boleh lebih melankolis (ckckckckc) kegagalan saya di IFP -yang demi tetap eksis ditiap tahapnya saya harus merelakan resign dari sebuah universitas yang belum bersedia membiarkan saya melanjutkan proses seleksi IFP ketika itu- adalah sebuah kesediahan tiada tara *sigh dan ternyata benar TUHAN, ALLAH itu selalu memberikan hikmah atas sebuah kejadian, and there I go, IKYEP 2011 ke Seoul di awal  musim dingin 2011 ini.
Okey, itu dia behind the story dari kepala posting ini, nah... ada baiknya saya berbagi cerita tentang program IKYEP khusunya untuk phase Korea-nya, hitung-hitung kalo ada yg cari info tentang gambaran program bisa baca postingan ini. *tiba-tiba saya punya sayap putih dan memegang wand berwarna putih... angel mode on >>>^_^<<<
Indonesian Delegates



#Sekilas recall tentang Korea Phase

Day 1: Incheon, aku terkesima! 

Incheon airport untuk satu sisi
Menginjakkan kaki di Incheon International Air port sambil pencet-pencet jari tangan, untuk stretching sekalian meyakinkan diri kalo saya gak tengah bermimpi atau masih terbawa-bawa kantuk berat plus sakit kepala yang saya alami selama di dalam pesawat dari Jakarta. "Ini Incheon! saya di Korea, sodara-sodara!"  Kalolah saya bisa bikin komik, pasti itu dialog awal yang saya buat untuk bubble speech saya. Tiba-tiba wusss! kantuk dan puyeng saya hilang tak tau kemana, mungkin nyebur ke Laut Kuning ya @_@
Incehon international airport itu guedde, keren dan modern buanggettt nget nget nget, sodara-sodara!!! Ada subway yang menjadi transporter menuju sisi lain bandara. aih aih! andai di Soekarno-Hatta ada subway (gak cuma shuttle, pasti keren tuh!) lol

Yang paling menarik dari Incheon adalah cerita dibalik bandara megah itu. Mr. Kim, prog coord, bercerita tentang asal mula bandara yang dibangun diatas laut yang telah didumping itu. Yup! Incehon dulunya adalah laut, pantai, dan kemudian ditimbun dengan tanah hingga bisa dibangun sebuah bandara sebesar itu. Bandara Incheon dibangun sebagai salah satu fasilitas dalam event FIFA world cup 2002. Gila bener! keren deh! pokoknya! ^_^

Setelah terkagum-kagum dengan Incheon, sepanjang jalan menuju hotel saya terkagum-kagum dengan kota Seoul. Sungai, jembatan-jembatan (fyi, ada 27 jembatan di Seoul, saja!), gedung-gedung pencakar langit yang  berdampingan mesra dengan suasana akhir fall dan awal winter plus bunga-bunga hias warna-warni yang berjejer rapi di jalan adalah hal-hal yang sangat memanjakan mata (fikiran skeptis saya berpendapat bahwa kemungkinan besar kalau bunga-bunga itu yang beberapa diantaranya adalah tanaman kol-kol hias ditanam oleh pemkot atau pemda di daerah kita di Indonesia kemungkinan besar sudah tinggal daun dan rantingnya kali ya .... sorry to say >_< )
Seoul (baca So-ul) adalah kota yang bersih yang bahkan di kolong jembatannya dijadikan pusat fitness gratisssss lengkap dengan alat-alat kebugaran yang biasa digunakan masyarakat sekitar untuk berolahraga and all for free! (sayangnya cuma bisa liat melalui kaca jendela bus aja).
Ruang rapat Sang Raja
Hanya satu dari sekian banyak ruang
Sorenya, episode terkagum-kagum part 1 ini belum  usai rupanya. Well, lewatkan Lexington Hotel yang emang keren dan ternyata sering dijadikan tempat shooting drama Korea, biarkan seri terkagum-kagum part 1 ini berlanjut dengan kemegahan Changdeok-gung (gung berarti istana) Palace yang merupakan salah satu dari 5 istana yang merupakan peninggalan dynasti Jeoson. Daun kuning ginko dan daun merah mapple yang gugur memberikan atmosfir romantis di suasana sore hari itu. Aih! meski tak mengerti tentang arsitektur tapi saya benar-benar menikmati bangunan tua itu beserta sisi-sisi klasik beberapa bangunan pendukung yang ada di istana itu.
Hari pertama di Seoul = Terkagum-kagum *bukan katrok tapi ya :p suer deh sodara-sodara!!!
mengabadikan jalanan lengang

Day 2:Workshop! Ayyeee!!!!!
Workshop Pemuda – Korea 2011 adalah kegiatan menarik, sangat menarik! Sesi 101 Korea merupakan sesi pertama yang saya dan teman-teman jalani hari itu. Wuah! Belajar bahasa Korea dengan tutor memang jauh lebih mudah daripada otodidak sendirian, apalagi tutor individu yang merupakan teammate saya juga ganteng… hahahahaha oops! *_^

Setelah belajar Hangeul plus beberapa ungkapan keseharian (yang paling menarik adalah kalo udah ngomongin istilah-istilah shopping dan tawar menawar! Ahahahha Alim dari Sulawesi Barat ahlinya dibidang ini) sesi selanjutnya adalah Group Discussion lalu ada juga sesi Multi-cultural Understanding yang isinya adalah games sederhana yang pointnya adalah tentang pemahaman budaya. Sesi ke-Empat adalah Team Building yang misinya membuat jembatan yang cukup kokoh untuk menahan satu buah microphone sepanjang mungkin dengan bermodalkan Koran bekas, gunting dan lakban. Sesi ini ada 2 tim yang jadi pemenang, team Astried (Palu) yang notabenenya adalah anak teknik dan team kami doooongggggg (saya bareng Nina dan Alim serta satu anak Korea lainnya, Milly).   ^_^

Bikin Jembatan Cinta Korea ^_^
Sesi terakhir hari itu adalah Speed Quiz yang terdiri dari 5 pos dengan seabrek pertanyaan tentang Budaya Korea, Industri, Sejarah Korea, Hubungan Diplomasi Korea-Indonesia dan Geografis Negara Korea. Saya dan couple saya Daud Dave (Papua Barat) juga couple lainnya harus berkompetisi mengumpulkan point terbanyak dari setiap pos dan huft! (Alim bangeeetttttt) kita harus mengakui keunggulan mak Indah (DKI Jakarta) dan Wawan (Kalimantan Barat) yang skornya lebih tinggi dan mereka dapet hadiah, sodara-sodara! Teh hijau berkualitas tinggi!!!! Irrriiiiiiiiiiiiii deh! *Hiks
Destinasi selanjutnya selepas dari Korea-Indonesia Youth Workshop adalah Insa-dong!!!! Ini adalah area pasar tradisional-modern yang terdapat banyyyaaaaakkkkkkkkkk kios-kios dan juga café dan boutique yang isinya bermacam-macam; dari souvenir dan assesoris khas Korea,
Cuma Satu bagian saja
pakaian beragam rupa sampai panganan khas Korea dan chestnuts alias kacang berangan yang harganya sekitar $3 atau 3000 Won atau setara dengan Rp. 24.000!!!!!! isinya gak nyampe 10 biji! *hiks mahallll!!!!! Yup! Disini memang harganya cukup mahal, bahkan waktu saya berhasil memboyong 2 pak gantungan hp berbentuk teddy bear mini dengan kostum Hanbok (pakaian tradisional Korea) seharga 20.000 Won per pak isi 10 biji (dari harga asli 25.000 Won setara dengan Rp. 200.000 atas rate 1 Won = Rp. 8) si Milly bilang itu sudah murah!!!^o^ WOW!!! Gubrak!!! Hidup memang keras rupanya! hahahahah
Bagian lain
Tak ketinggalan, udara malam ketika itu dinginnnnnnn buanget! Sekitar 10˚C! Akhirnya, setelah cukup puas jalan-jalan dan belanja sedikit plus foto sama kenalan baru di Hall nya, dengan gaya super cuek bebek Nina, Wawan, Endri dan Saya serta Milly joget Peel Banana disana! Tak peduli orang-orang pada ngeliatin dan senyum-senyum, yang penting bisa mengusir dingiiiinnnnnnnnnnn!!!!!!!!!!!!!! I Love Peel Banana!!!!
Insa-dong is highly recommended place to visit in Seoul, anyway! ^_^




Day 3: Serbuan seri lengkap Korean traditional Lunch! (ke) Kenyyyanggggg (an)!!!
Hari ketiga adalah hari yang kerennnn!!!!! Saya dan teman-teman diberi kesempatan untuk mengunjungi Kementrian Wanita dan Keluarga (Ministry of Gender Equality and Family) yang ternyata waktu makan siang alias lunch nya kita disuguhi  makanan khas Korea yang seabrek abrek! Pantas untuk disebut sebagai ‘Korean traditional food series’ karena banyak banget makanannya yang disajikan beberapa tahapan! Tahap awal kita disuguhi bubur manis tradisional Korea yang terbuat dari ubi jalar ungu (atau mungkin umbi talas atau taro) datanglah lagi camilan-camilan yang warna warni menggemaskan menunggu dimakan yang entah ada berapa jenis.

Pendatang Awal

  
Jeon, Gukwa-ppang (semoga gak tertukar nama)
Camilan aneka wujud itu yang saya ingat namanya adalah (melihat contekan dulu…..:p ) Gukwa-ppang alias kue panggang yang bentuknya kayak bunga, Ho-tteok alias aneka kue yang dibuat dari kacang merah dan rempah dan ada juga Jeon yaitu makanan yang dibuat dari campuran tepung, telur, dan daun bawang, lalu setelah itu datang pula barisan aneka makanan sampingan (banchan) yang mirip bihun goreng dan aneka sayuran lain yang namanya gak sempat ditanyain eheheheheh. Saya dan teman-teman mau tak mau mesti makan semua hidangan, apalagi saya dan Feny (Kendari) duduk berhadapan dengan salah satu pegawai MOGEF yang dengan rajinnya menaruh tiap jenis makanan ke piring kami yang celakanya mau gak mau mesti makan setiap jenis makanan yang disajikan meski sebenarnya kita udah kenyang (untuk menghormati, ini penting!) *glek
Side dishes (Banchan)
Banyak yang berfikir bahwa aneka macam makanan sampingan tadi adalah akhir dari seri makan siang kali ini, tapi rupanya kami salah, sodara-sodara! Dan selanjutnya, taraaaaaaaa!!! Bibim-bap alias nasi campurnya Korea datang dengan manis di dalam mangkuk besar dengan porsi besar di atas meja! 5 macam Kimchi sudah turut menemani si nasi campur dan ada juga lauknya yang bagi saya mirip dengan sayur asem, tapi versi Korea yang rada sipit (nah loh! @_@) ) Bibim-bap tak sanggup saya habiskan dan sambil minta maaf pada pegawai MOGEF saya akhiri makan siang saya hari itu. Selesai??? Belummmmmm!!! Masih ada dessert berupa tteok yaitu kue dari beras ketan berisi pasta kacang yang dibaluri dengan bubuk kacang merah dan ada juga irisan buah kesemek yang manis dan segar.
Kimchi si populer!!

Bibimbap (porsi gede ^_^)


Buah Kesemek dan si Tteok

Sujeonggwa, masuk dalam 50 minuman terkenal dunia
Terakhir, disajikan pula sujeonggwa yaitu minuman sari buah kesemek  yang asem asem manis segar, nano-nano deh! Huah!!! Kenyyangggg kekenyangan! Malah ada beebrapa teman yang langsung ke toilet dan mual trus throw up! Ckckckckc… lunch yang enak lezat lagi menyiksa *bingung mau sedih apa gembira
Lorong
Setelah dari MOGEF plus makan siang yang warna-warni itu, kunjungan selanjutnya adalah ke Guyon Architect Association yang untuk mencapai kantor itu bus hari berhenti di jalan utama dan kita melanjutkan perjalanan ke jalan yang lebih kecil yang ternyata banyak terdapat café dan boutique. Saya suka sekali suasana area kecil itu! Momen sempat tersesat dan kebingungan menemukan kantor itu justru saya dan teman-teman pakai untuk jeprat jepret…. Asli! Keeerrrreeennnn banget! Malah sebenarnya kalo ada waktu lebih lama saya mungkin sudah memboyong sepasang sepatu cantik yang kebetulan lagi discount yang saya liat tersenyum centil di etelase sebuah took. Gemesss banget pengen bawa pulang sepatu itu! *hiks

Eoseo Osipsio
Sore hari, kunjungan terakhir adalah ke Hankuk University of Foreign Studies khususnya ke Malay-Indonesia studies Department. Ada juga rupanya jurusan bahasa Indonesia di Korea ini! *wow! Sambutan yang diberikan oleh para mahasiswa dan pengajarnya sungguh mengesankan, apalagi ketika sekelompok mahasiswa menyanyikan lagu Vierra dan membawa kertas karton bertuliskan S EL  AM AT  D AT  AN  G (penggalan kata jangan dihiraukan, yang penting maknanya, sodara-sodara apalagi ada tanda hati alias love di sebelah G itu) ^_^ Nice work, guys!!!   


Day 4: PEMUDA!!! Oyee!!

Perjalanan ke Jeonju membutuhkan waktu sekitar kurang lebih 4 jam. Makan siang hari itu dilakukan di rest area dalam perjalanan menuju ke Jeonju dan menunya adalah Udong yaitu mie rebus plus udang (seperti udang katsu) yang porsinya juga bessarrr! ^_^
Di Jeonju yang merupakan kota di Jeollabuk-do (do berarti provinsi) yang juga adalah tuan rumah untuk Festival Film Internasional 2010 lalu, kami bermalam di Hotel Core Riviera yang di lobbynya semarak dengan nuansa taman musim gugur buatan.  Sebelum ke Hotel, setiba di Jeonju rombongan langsung mengadakan kunjungan ke salah satu sekolah menengah atas yang ada di Jeonju, YoungSaeng High School yang ternyata itu adalah SMA khusus laki-laki! Kyaaaa!!! Banyak berondoooongggg… ckckckckckck…. ^_^  (eits, bukan berondong jagung alias pop corn!)
Awal sampai di sekolah tersebut, rombongan disambut ramah oleh pihak sekolah termasuk Bapak Kepala Sekolah dan beberapa orang guru serta karyawan. Usai beramah tamah kami diajak ke auditorium di sisi lain sekolah untuk menonton pertunjukan seni yang telah dipersiapkan para siswa untuk menyambut kedatangan kami. Sementara sesudahnya, di ruangan lain yang telah disiapkan pihak sekolah untuk kegiatan CCAP (Cros Cultural Awareness Program) puluhan anak laki-laki telah pun duduk rapi dengan wajah sumringah dan ramah menyambut kami. Aih! Manis-manis sekali senyum mereka.
Kegiatan CCAP berjalan lancar yang berakhir dengan foto-foto bareng (selalauuuu…). Sungguh melihat antusiasme mereka untuk mempelajari beberapa seni sederhana Indonesia yang kami tawarkan (permainan Congklak, permainan Ampar-ampar pisang dan lagunya serta tari Indang dari Sumatera Barat) sangat membuat kami bangga menjadi orang Indonesia yang kaya akan ragam budaya yang eksotis. ^_^
SMA ini benar-benar amazing dimata saya. Siswa-siwa yang meskipun laki-laki tapi tetap disiplin membersihkan kelas dan selasar sekolah plus sampai dipel lantainya meski ketika itu si Jarum pendek jam RR di pergelangan tangan saya menunjukkan hampir pukul 4 sore saat rombongan hendak pulang. Tak ada guru yang mengontrol!!! Sementara di kelas lain saat saya melongok, meski telah sore masih saja mereka konsentrasi belajar memperhatikan sang guru di depan dengan seksama (tak ada yang ngobrol atau ngantuk apalagi tidur). Sungguh, kalo saya dihire mengajar bahasa Inggris di sekolah itu atau bahasa Indonesia, mauuuu banget sayyyaaaaa…. Hahahahah bukan karena alasan SMA itu khusus putra (jauhhhhh banggggettttt) tapi lebih kepada jatuh cintanya saya terhadap kedisiplinan dan kreatifitas yang sangat terasa di sekolah itu. * I wish …. (Amen)
Perjalanan hari itu berlanjut dengan kunjungan ke Jeonju Youth Counseling and Support Center yang dikelola oleh Asosiasi Pemuda Sumdong yang menangani para pelajar dan pemuda yang ada di provinsi Jeolla Utara (Jeollabuk-do) yang terjerat permasalahan ekonomi, social ataupun yang membutuhkan bimbingan karir.
Ketika teman-teman dan saya diajak berkeliling ke tiap ruangan dan gedungnya (ada 2 gedung terpisah) saya mengagumi cara yang diterapkan di pusat konseling ini untuk menangani permaslahan pemuda melalui kegiatan-kegiatan positif dan terarah. Tak hanya ada beebarapa ruangan konseling tapi juga ada ruang perpustakaan mini, ruang untuk belajar menjadi pelayan café, barber, sekretaris atau juru ketik dan lain-lain. Hmmmm… layak rasanya kalau Indonesia banyak belajar dari Negara yang sama-sama merdeka pada tahun 1945 ini. Iya kan, sodara-sodara???
Selanjutnya, Hotel Core Riviera telah menanti. Huhuyy! ^_^

Day 5:Yang Klasik, Yang unik, yang harus dilirik!!! 
Pagi di kota Jeonju segarrrr sekali apalagi tertera di jadwal bahwa pagi itu saya dan teman-teman akan berkunjung ke Jeonju Hanok Village (Hanok: rumah tradisional Korea Selatan). Iseng, ditengah perjalanan saya foto seorang ibu yang memakai pakaian hanbok yang berlintasan dengan kami untuk sekedar memulai aksi jeprat-jepret hari itu.
Jeonju Hanok Village yang terdapat di kota Jeonju ini adalah kota yang tetap dipertahankan arsitektur tradisionalnya berupa bangunan rumah tinggal khas Korea yang disebut Hanok, yang merupakan symbol penentangan terhadap rumah-rumah yang mulai banyak dipengaruhi budaya Jepang dan terdapat 543 rumah Hanok di pemukiman ini.

Sudut lain

Gang klasik
Disamping itu, saya beserta rombongan delegasi juga diajak berkunjung ke salah satu rumah peristirahatan Raja Yi Seong-gye yang merupakan seorang founding father Dinasti Joseon. Di tempat ini terdapat pula Omokdae dan Imokdae yang merupakan monument dinasti Joseon.
Dari Omokdae dan Imokdae, tujuan selanjutnya adalah ke Hanok Handicraft House yang masih terletak di komplek Hanok Villlage tersebut. Di pusat kerajinan ini semua diajarkan membuat Sangeuyul yang merupakan asesoris berupa cermin yang dibuat dari kertas hanji - kertas hasil olahan alami dari pulp-.
Dulu di Amerika gak kesampaian mau foto pose ini ^_^
Puas menikmati suasana Hanok Village yang asri, klasik namun modern serta mengambil beberapa gambar dengan pose yang saya idam-idamakan sejak lama (berfoto dibawah pohon yang meranggas di musim gugur dan memainkan dedaunannya) selanjutnya adalah hiking (hohoo) ke Naejangsan (san berarti gunung) yang merupakan bagian dari Taman National Korea yang banyak dikunjungi para wisatawan baik internasional maupun domestic khususnya di musim gugur untuk menyaksikan keindahan perpaduan warna dedaunan musim gugur atau juga untuk melakukan trekking di gunung yang tingginya mencapai 763m ini. Wisata ke Naejangsan National Park ini dimulai pada jam  13.30 seusai kunjungan ke Hanok Village didampingin oleh coordinator program dan interpreter.

Fyi, taman nasional Korea ini memiliki hampir 2.700 jenis flora dan fauna! Keindahannya tetap memanjakan mata meski sayangnya karena kami berkunjung diawal musim dingin maka kesempatan untuk menyaksikan perubahan dedaunan yang memerah dan menguning terlewatkan. Hanya di beberapa spot saja warna warni dedaunan bisa disaksikan khusunya ketika di dalam Cable Car alias gondola menuju ke puncak gunung. Hanya satu kata yang mewakili pemandangan yang terlihat dari puncak gunung itu: Indah, sodara-sodara!
Pengen nyebur dan berenang!!! 
*To be continued

2 comments:

Anonymous said...

Great experience, Dee! Keep writing. Tulisannya sangat ekspresif. Good Work! But fyi, Insadong itu tempat paling mahal untuk souvenir lo. Di Namdaemun, untuk souvenir yg kamu beli bisa dapat 10rb Won! :D

Unknown said...

heheheh thank u for dropping by, kakak...
100!!! Insa-dong mahalllnya parrahhhh gilllaaaaaaaaaaaaaaa...... heheheheh
makanya dee juga beli souvenir di Namdaemun yang lebih 'ramah' weheheheh malah dapat diskon lumayan waktu belanja di toko yang penjualnya bisa bahasa Indonesia... udah deh... kita borong2 dan dikasih bonussss plus diskon harggaaaa heheheheh