Thursday, April 21, 2011

Tikus: kali ini tentang motivasi peduli

Salam, readers ^_^

Belakangan ini aku terfikir untuk memposting setiap tulisan sekaligus dalam 2 bahasa; Indonesia dan Inggris. Hmmmm... tampaknya bagus juga untuk dikembangkan sekalian hitung-hitung latihan writing ^_^ Next project akan dicoba, insyallah.
Well, dari jam 7 tadi sambil duduk manis (kadang berbaring) di depan laptop Ion ku telingaku kumanjakan dengan dendang-dendang lawas kepunyaan Jikustik; Saat kau tak disampingku, Aku datang untukmu, Putri (pandangi langit malam ini), Setia, Akhiri dengan Indah, yang kemudian disusul dengan koleksi lawas Kla Project; Dinda dan Yogyakarta. Lalu lagu-lagu itu menggiring pada sebuah rasa. Kangen! ^_^ Kangen dengan satu sosok yang sekarang jarang terdengar gaungnya. Mungkin karena beliau sedang sibuk atau memang mungkin karena beliau tak lagi punya cerita untuk dibagi denganku. Hay hay... (kalau dirimu membaca ini, kawan, harusnya kau tahu kalo pulsa bonus 1000 smsku jadi jarang terpakai karena dirimu gak kirim sms dan bercerita ho ho ho ho ^_^).
Hmm, tadi seperti biasa buka-buka beberapa situs berita, dan seperti biasa situs Apa kabar dunia selalu jadi favoritku. Ngomong-ngomong tentang situs ini, tadi ketemu salah satu artikel yang aku fikir cukup menarik untuk disimak. Artikel ini bercerita tentang satu pelajaran moral (kalo dalam istilah Genre ini disebut dengan Coda ^_^) dari cerita seekor tikus. Hah! Tikus????? Yup! T-I-K-U-S

Oho! Aku bukan hendak menganalogikan hewan pengerat ini dengan para koruptor berdasi yang ongkang-ongkang kaki dibalik meja-meja kayu jati yang tersebar hampir disemua pelosok negeri ini. Kali ini, artikel yang kubaca justru menceritakan sebuah cerita yang bisa diambil codanya sebagai sebuah motivasi untuk lebih peduli dengan keadaan yang ada, sekalipun keadaan tersebut bukan terjadi pada diri kita. Well, here is the story.

Sepasang suami dan istri petani pulang kerumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikus memperhatikan dengan seksama sambil menggumam.
"Hmmm...makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??"
Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak
"Ada Perangkap Tikus di rumah!!! Di rumah sekarang ada perangkap tikus!!"

Ia mendatangi ayam dan berteriak
"Ada perangkap tikus"

Sang Ayam berkata
"Tuan Tikus..., Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku"

Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak. Lalu sang Kambing pun berkata
"Aku turut bersimpati.. . tapi maaf, tidak ada yang bisa aku lakukan"

Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama.
"Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali"

Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular. Sang ular berkata
"Ahhh...Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku"

Akhirnya Sang Tikus kembali kerumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri.

Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya yang berbunyi. Menandakan perangkapnya telah memakan korban.

Namun ketika melihat perangkap tikusnya, seekor ular berbisa telah terjebak di sana. Ekor ular yang terjepit membuatnya semakin ganas dan menyerang istri si Petani. Walaupun sang Suami berhasil membunuh ular tersebut, namun sang istri sempat tergigit dan teracuni oleh bisa ular tersebut.

Setelah beberapa hari di rumah sakit, sang istri sudah diperbolehkan pulang. Namun selang beberapa hari kemudian demam tinggi yang tak turun-turun juga. Atas saran kerabatnya, ia membuatkan isterinya sup ayam untuk menurunkan demamnya.

Semakin hari bukannya semakin sembuh, justru semakin tinggi demam isterinya. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk diambil hatinya.

Masih! Istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia.

Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga ia harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat.

Dari kejauhan sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi di rumah itu.

Nilai-nilai yang bisa kita ambil dari kisah di atas, suatu ketika Anda mendengar seseorang sedang dalam kesulitan atau masalah dan Anda mengira itu bukan urusan Anda, maka pikirkanlah sekali lagi. Sumber : sourceflame.blogspot.com dipetik dari http://www.apakabardunia.com/2011/03/cerita-motivasi-dari-seekor-tikus.html


Nah, semoga bisa ada yang kita sadari tentang bagaimana memupuk peduli terhadap orang lain meski hal keadaan yang terjadi mungkin tidak berkaitan dengan diri kita. Jikalau-lah kita tak mampu ber-empati setidaknya kita bisa menyuburkan simpati kita terhadap keadaan orang lain disekitar kita. Jangan mau menjadi seperti si Ayam, Kambing, Sapi atau juga si Ular.
Speaking of which, berhubung hari ini, 21 April, maka mungkin hal ini bisa kita kaitkan dengan momentum peringatan Hari Kartini. Berempati dengan keadaan orang lain adalah basic perjuangan yang diusung oleh R.A Kartini. Empati terhadap nasib perempuan Indonesia pada masa itu telah menghantarkan R.A Kartini kepada sebuah perjuangan yang kemudian dinisbahkan sebagai sebuah perjuangan heroik yang membuat namanya disebut sebagai seorang pejuang Indonesia, pejuang emansipasi wanita. Tentunya hal ini harus dipupuk hingga tumbuh subur beranak pinak disemua jiwa paramasyarakat tak ketinggalan para pemuda, laki-laki dan perempuan, Indonesia. Semangat untuk peduli dan berempati!!!
Any way, Selamat Hari Kartini untuk semua Kartini-Kartini Indonesia!

^_^








4 comments:

Dian Mardhika said...

What amazing story! Firstly I read it, I kept smiling then I'm just nodding and said "That's it"

Rosejack said...

menginspirasi ^_^

Rosejack said...

menginspirasi ^_^

Rosejack said...

menginspirasi